Pojok Bahasa: Badan Narkotika Nasional


Catatan @mustprasetyo

Salah satu kasus kebahasaan yang sering terjadi adalah logika bahasa. Hal inilah yang disoroti Ahmad Rizali, pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI). Dalam sebuah tulisannya di milis IGI (29/1/2013), ia mempertanyakan singkatan lembaga yang bernama Badan Narkotika Nasional (BNN).

”BNN ini singkatan yang mengganggu pikiran waras saya,” ucapnya. Dia memandang, lembaga non kementerian seperti BNN bersifat nasional dan urusannya jelas terlihat pada judulnya.

Jika demikian, apakah BNN itu mengurusi narkotika, maksudnya termasuk dagang narkotika? ”Husy, tentu bukan. BNN bertugas memberantas penggunaan narkotika,” tegasnya (milis IGI, 29/1).

Kerisauan Nanang –sapaan akrab Ahmad Rizali– terhadap singkatan BNN sangat beralasan dan masuk akal. Sebab, nama sebuah lembaga tidak hanya merepresentasikan lingkup tugasnya, tetapi juga menjelaskan bidang yang diampu.

Kita bisa mengambil beberapa contoh. Misalnya, Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang mengurusi masalah pertanahan dalam skala nasional. BPN memiliki tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional, dan sektoral.  Kemudian ada Badan Pusat Statistik (BPS) yang juga lembaga non departemen yang berada langsung di bawah presiden. Salah satu tugasnya adalah menyediakan data bagi pemerintah dan masyarakat. Data ini diambil dari hasil sensus dan survei. Tugas lain BPS juga jelas, yaitu membantu kegiatan statistik di departemen, lembaga pemerintah, dan institusi lainnya.

Bagaimana dengan BNN (Badan Narkotika Nasional)? Dari sudut logika bahasa bisa dijelaskan bahwa badan ini bertugas mengurusi masalah narkotika dalam skala nasional. Hal ini sudah jelas dan sesuai dengan namanya.

Problemnya, tugas dan bidangnya belum terwakili sepenuhnya. Orang bisa menafsirkan macam-macam soal BNN. Misalnya, badan ini juga mengurusi transaksi narkotika. Pandangan semacam ini sangat mungkin terjadi seperti dikhawatirkan oleh Nanang.

Nah, untuk menghindari ambiguitas dan kebingungan seperti itu, nama BNN agaknya perlu ditinjau lagi. Jika tugas memang menanggulangi masalah narkotika, nama itu bisa diperbaiki menjadi Badan Penanggulangan Narkotika Nasional. Atau, dalam konteks yang lebih tegas, bisa dibuat nama Badan Antinarkotika Nasional (BAN). Dengan demikian, orang langsung tahu bahwa lembaga tersebut memang bertugas untuk membasmi masalah narkotika.

Graha Pena, 29 Januari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 29, 2013, in Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: