Bertemu Pak Bon


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Sukari saat tugas di Austraia

Sukari saat tugas di Australia

Jujur dan ikhlas dalam bekerja. Itulah prinsip yang dipegang oleh Sukari, salah satu guru asal Gresik, Jawa Timur. Tak heran, karena sikapnya tersebut, ia sangat disegani di kalangan sejawatnya. Yang juga melekat dari dirinya adalah tekad kuat untuk terus belajar.

Sukari mengawali karirnya di dunia kerja sebagai kuli bangunan selepas lulus SMA. Setelah itu ia ditawari bekerja sebagai penjaga sekolah sekaligus nyapu dan ngepel alias Pak Bon di SMP Muhammadiyah 1 Gresik.

Karena kerjanya dinilai baik, ia juga ”diperbantukan” sebagai Pak Bon di SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Kala itu (pada awal 1990-an) gaji pertamanya sebesar Rp 55 ribu. Sisa gaji yang sebesar Rp 13 ribu dibelikan jam tangan.

Yang menarik dari Sukari adalah kemauan belajar yang tinggi. Kebetulan malam harinya ia diizinkan menginap di gedung sekolah, tepatnya di lab komputer milik sekolah di bawah naungan Muhammadiyah itu. Kendati lelah setelah bekerja mulai pagi hingga sore, ia tak buru-buru istirahat.

Malamnya ia melahap buku-buku komputer yang ada di perpustakaan sekolah. Tidak berhenti di situ, ia melanjutkannya dengan praktik belajar di lab komputer. Tentu seizin guru penanggung jawabnya. Nyatanya, Sukari berhasil meski belajar secara ototidak.

Lama-kelamaan yang semula hanya bisa mengetik dengan dua jari telunjuk, ia akhirnya mahir mengetik dengan jari-jemari yang lain. Bisa karena terbiasa. Suatu saat, guru komputer sekolah sedang cuti melahirkan. Sukari diminta menggantikannya sementara mengingat ia dinilai mampu oleh pimpinan sekolah. Pucuk dicinta ulam tiba, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Pak Bon.

Tugas itu dapat dilaksanakan dengan cemerlang, terbukti para siswanya menyenangi gaya Sukari dalam mengajar. Terlebih, penjelasannya mudah dipahami oleh mereka. Pembawaannya yang lembut dan kebapakan juga menguntungkan suasana pembelajaran di kelas.

Bintang terang mulai bersinar. Guru komputer yang cuti melahirkan tadi ternyata memutuskan mengundurkan diri. Sukari akhirnya ditetapkan sebagai pengajar di SMA Muhammadiyah 1 Gresik pada 1997. Ini momentum terbesar dalam hidupnya.

Untuk menunjang kemampuan dan menambah wawasan, Sukari berniat kuliah S-1. Karena itu, ia menabung sebagian uang gajinya. Setelah lima bulan, terkumpul Rp 200 ribu. Selanjutnya, ia nekat mendaftar di kampus Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Semangat bekerjanya pun menjadi-jadi.

Ia makin mahir di bidang ICT. Bahkan, pada 2008 ia diberi kepercayaan oleh Microsoft Indonesia. Dengan bejibun prestasinya, pada 2010 Sukari mencapai karir puncak sebagai kepala sekolah dari yang semula hanya Pak Bon.

Suatu kebahagiaan buat saya bisa menuliskan sosoknya untuk memotivasi para guru se-Indonesia. Pada acara launching buku Memoar Guru Hope and Dream di Surabaya 27 Januari 2013, saya bisa bertemu dengan sosok Pak Bon yang luar biasa itu. Saya menyambutnya dengan gembira, memintanya maju ke depan, dan berjanji mendukung penuh gerakan guru menulis yang tadi juga didukung oleh Direktur Seamolec Gatot Hari Priowirjanto.

Ini momen yang luar biasa. Tepuk riuh dan standing ovation dari sebagian peserta kepada Sukari membuat spirit untuk belajar semakin melambung. Sukari telah memberikan contoh tentang perjuangan dan semangat pantang menyerah. Setiap orang bisa mencapai keberhasilan jika mau berusaha dan bekerja keras. Sukari telah membuktikannya.

Graha Pena, 27 Januari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 27, 2013, in Sosok. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: