Menteri Dimaki-maki


Catatan Must Prast

Buku biografi Hoegeng yang ditulis Ramadhan K.H. (Sumber: pustakadaluang.blogspot.com)

Buku biografi Hoegeng yang ditulis Ramadhan K.H. (Sumber: pustakadaluang.blogspot.com)

Sebagai arek Suroboyo, saya tidak asing dengan bahasa pisuhan (umpatan). Misalnya, jancuk, jangkrik, dobol, makmu kiper, dengkul ambleg, untumu gupil, cuk, cik, lembe njedir, ataupun hanthik. Kedengarannya memang kasar. Namun, tidak jarang ucapan pisuhan tadi disampaikan dalam suasana gembira. Contohnya, saat bertemu teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa.

Suasana kian segar jika pisuhan itu bersambut tawa. Gayeng. Ini pula yang pernah dialami Hoegeng saat dirinya diangkat sebagai menteri iuran negara pada 1965 oleh Presiden Soekarno. Kabinet itu juga terkenal dengan sebutan kabinet seratus menteri.

Kisahnya diceritakan dengan apik oleh Ramadhan K.H. dalam otobiografi Hoegeng; Polisi: Idaman dan Kenyataan (Sinar Harapan Jakarta, 1993). Saat awal-awal menjabat, Hoegeng kebanjiran ucapan selamat dari para kolega, rekan, dan keluarga.

Namun, pagi itu Hoegeng mendapatkan tamu yang tidak biasa. Sang ajudan melaporkan kepada Hoegeng bahwa tamu itu merupakan karyawan batik di Kota Pekalongan. Ciri-cirinya, ia bertubuh bongkok. Namun, ia tak mau menyebutkan maksud kedatangannya. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya merupakan sahabat lama Pak Menteri.

”Pak Hoegeng pasti mau menemui saya,” yakinnya kepada sang ajudan. Dia lantas kembali ke meja Hoegeng dan melapor. ”Baik, suruh dia masuk,” ujar Hoegeng kepada anak buahnya. Hoegeng menerka mungkin orang itu memiliki keperluan negara yang sangat penting.

Dari pintu, masuklah pria bersahaja tersebut. Rupanya, ia bernama Hasan, teman Hoegeng saat menempuh pendidikan di HIS (Hollandsche Inlandsche School, setingkat SD) di Pekalongan pada 1928. Keduanya adalah teman main layang-layang.

Saat pintu ditutup dan ajudan keluar, menyemburlah sumpah serapah yang hangat dan gembira dari mulut Hasan. ”Asu..! Kowe benar-benar asu ya..! Gendeng benar wong Pekalongan bisa-bisanya jadi menteri…!” (hal 16).

Segala tatakrama dan bahasa halus lenyap seketika, diganti dengan bahasa Tarzan yang hangat, spontan, dan jujur. Kehangatan kata-kata yang spontan lebih mengesankan daripada arti normatif kata-kata yang diucapkan. Setelah misuh-misuh (mengumpat), keduanya berangkulan hangat dan seolah berpacu siapa yang tertawa paling keras.

Rupanya, itu bukan kejadian pertama bagi Hoegeng. Saat kabinet seratus menteri diumumkan Bung Karno, dr Soebandrio yang juga diangkat sebagai menteri tidak berada di Indonesia. Ia sedang bertugas di Aljazair.

Dari siaran radio, Mas Ban -demikian Hoegeng biasa menyebut dr Soebandrio- mengetahui bahwa Hoegeng diangkat sebagai menteri iuran negara. Ia pun mengirimkan telegram kepada Hoegeng.

Isinya adalah sambutan hangat. Bagi Hoegeng, isi telegram itu adalah ucapan selamat yang orisinal dan meriah. Begitu membacanya, ia lantas tertawa terbahak-bahak. Telegram tersebut berbunyi: ”Diancuk, kowe diangkat pula jadi menteri…”

Sungguh, saya merindukan kembali sosok Jenderal Pol Hoegeng. Sosok yang jujur dan tanpa kompromi dalam membasmi korupsi. Beda halnya dengan kondisi sekarang, saat hukum bisa dibeli. Cuk!

Surabaya, 26 Januari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 26, 2013, in Catatan Harian, Sosok. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. sip cuk, haha 😀
    kancaku ospek wingi dipisuhe seniore terus. kaget cuuk 😀

  2. mantap mas eko, kayaknya aku kudu banyak belajar cara menulis dan membuat tampilan blog. mohon bimbingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: