Bu Guru, Kowe Wis Ono Sing Duwe?


Catatan Must Prast

penggiat Klub Baca Buku IGI

Gambar: duniaedukasi.net

Gambar: duniaedukasi.net

Mendidik siswa itu memiliki keasyikan tersendiri. Dengan berbagai latar belakang dan karakter masing-masing anak didik, sesungguhnya para guru disajikan menu ilmu kehidupan yang luar biasa. Interaksi di kelas merupakan tantangan sekaligus kenikmatan. Sebab, membuat anak yang sebelumnya tidak tahu kemudian menjadi tahu dan paham adalah sebuah anugerah terbesar buat seorang guru.

Jadi, tidak salah jika ada kalimat bijak yang menyebutkan bahwa cintailah profesi sepenuh hati. Maksudnya, apabila seseorang memilih menjadi guru atas dasar panggilan hati, ia akan menemukan keasyikan tersendiri. Sebaliknya, apabila seseorang memilih mengajar hanya demi materi dan dapur mengepul, bukan tidak mungkin ia bakal pusing dengan tingkah polah para siswanya dan seabrek tugas yang menunggu.  

Hal itu diakui oleh Harianti Susanti. Guru SMPN 2 Kedungadem, Bojonegoro, tersebut mengaku sangat menikmati profesinya sebagai tenaga pendidik. Di dalam kelas, ia mendapati dua atau tiga siswa yang tergolong pandai, namun sisanya memiliki kemampuan akademis biasa-biasa saja, bahkan ada yang daya tangkapnya lemah.

Bagi Harianti, itulah tantangan sebenarnya bagi seorang pendidik. Menurut pengajar bahasa Inggris tersebut, mengenal, menyelami, dan memahami siswa dengan berbagai karakternya merupakan anugerah yang mesti disyukuri.

Sekolah tempatnya mengabdi tergolong sederhana dengan murid yang polos dan apa adanya. Suatu saat, setelah memberikan materi ngalor ngidul, ia lantas bertanya kepada para muridnya.

”Ok guys, after all I’ve explained, do you have any questions? Ada pertanyaan?” tanyanya.

Tiba-tiba salah seorang muridnya mengacungkan tangan. Namanya Khamim. Selama ini ia dikenal bandel, tapi dikenal lugu dalam pelajaran.

”Bu Guru, kowe wis ono sing duwe? (Bu Guru, apakah sudah punya suami?),” ucapnya polos.

Sontak, seluruh kelas langsung gerr. Wajah Harianti langsung merah padam, menaham malu dan marah. Namun, ia berusaha menguasai keadaan dan menjawab pertanyaan dengan tenang.

”Dear Khamim, kita sekarang sedang belajar bahasa Inggris. Jadi, pertanyaannya yang berhubungan dengan bahasa Inggris saja. Atau kalau Khamim mau tanya masalah pribadi, silakan sampaikan dalam bahasa Inggris ya,” jawab Harianti.

”Ya, Bu,” ucap Khamim. Beberapa siswa lain masih cekikikan.

Harianti mengaku, siswa-siswa yang unik membuatnya harus bekerja ekstrakeras. Namun, justru di situlah ia menemukan seni mengajar yang sebenarnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika Harianti bereaksi negatif atas pertanyaan “kurang ajar” Khamim. Misalnya, ada kaplok yang melayang atau hujatan kepada sang murid. Tentu urusannya bisa panjang. Meski sederhana, cuplikan cerita pengalaman Bu Guru Harianti ini memberikan khazanah tersendiri tentang upaya menguasai keadaan yang sebenarnya tidak menguntungkan/mengenakkan.

Kisah sederhana ini termaktub dalam buku Hope and Dream yang diterbitkan Nurul Haqqy dan Ikatan Guru Indonesia (IGI). Masih banyak kisah menarik lainnya dari para guru yang bertugas di berbagai daerah di Indonesia dalam buku ini. Anda sudah baca?

Sidoarjo, 18 Januari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 18, 2013, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: