(Bukan) Obsesi Gila


Catatan Must Prast

MustPesta kembang api, suara knalpot brong, dan tiupan trompet menandai pergantian Tahun Baru 2013. Banyak orang tumpah ke jalan, rela bermandi gerimis dan udara malam yang dinginnya menggigit tulang. Melakukannya demi ritual tahunan yang dianggap ”fardu” bagi sebagian di antara mereka.

Mulai pukul 20.00 di pengujung 2012, lautan manusia memenuhi tempat-tempat publik seperti alun-alun, jalan protokol, kafe, hotel, hingga gang-gang kampung demi menunggu detik-detik datangnya 1 Januari 2013. Sungguh, pada saat seperti itu, yang terbayang di benakku adalah keinginan untuk tidur pulas dan bangun pada sepertiga malam, berwudu, lalu berdiri menghadap kiblat. Berbincang-bincang sejenak dalam dua rakaat.

Sungguh, pada pengujung tahun tersebut, aku gagal memahami letak kenikmatan berpesta pora harum bunga di tengah jalan hingga membuat kemacetan panjang. Jikalau pekerjaan tidak memaksaku untuk terus begadang hingga pagi buta, tentulah aku lebih memilih merebahkan kepala di atas bantal. Juga memeluk istriku.

Sungguh, acara-acara pesta tahun baru yang ditawarkan banyak stasiun televisi sama sekali tidak menarik perhatianku. Aku merasa berada di titik kulminasi kejenuhan terhadap duniawi. Sungguh, dua rakaat sunah pagi buta itu benar-benar menolongku dari titik tersebut.

Sehari sebelumnya, lidahku serasa kelu saat melihat sekeluarga miskin lewat di gerbang kompleks tempatku tinggal. Sang suami membawa gerobak yang berisi perlengkapan hidup, sementara istri dan dua anaknya menemani. Mereka selalu berada di situ. Dari pengurus RW setempat, aku baru tahu bahwa mereka memang tunawisma. Mereka memang sering berkeliling di sekitar kawasan Sukodono. Mereka hidup tanpa tujuan jelas.

Yang kupikirkan bukan suami istri itu, melainkan dua anak perempuan mereka yang kutaksir berumur lima dan tiga tahun tersebut. Bagaimana nasib pendidikan mereka di tengah kesulitan hidup yang mengimpit seperti itu?

Sungguh, aku masih gagal menemukan keasyikan meniup trompet dan menggeber suara knalpot brong yang memekakkan telinga saat pergantian tahun oleh para rombongan konvoi sepeda motor. Benakku terus dihantui wajah dua bocah kecil tadi.

Untuk itu, sebelum meninggalkan kantor, aku menuliskan resolusi pada 2013. Salah satunya, obsesi yang ingin sekali kuwujudkan tahun ini. Yakni, menerbitkan buku how to yang kubiayai sendiri dalam jumlah banyak dan kuserahkan ke berbagai sekolah dan siswa-siswa tidak mampu.

Kupikir, pernyataan John F. Kennedy di Washington pada 20 Januari 1961 mungkin benar. Yakni, ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.

Ya, selama otak dan tangan ini masih bisa bekerja, mungkin sebaiknya kuajak mereka bekerja sama. Menulis buku dengan tema yang mampu menyentuh masyarakat di berbagai strata sosial.

Kupikir, kini bukan saatnya mengharap sesuatu dari keahlian, tetapi memberikan sesuatu dari keahlian itu. Memberikan manfaat buat sesama, bukan mencari keuntungan dari mereka. Bukankah ini obsesi yang normal dan masuk akal?

Graha Pena, 2 Januari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Januari 1, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: