Presiden Prawiranegara


Mr Syarifudin Prawiranegara pernah menjabat presiden PDRI. (Sumber: jakarta45.wordpress.com)

Mr Syarifudin Prawiranegara pernah menjabat presiden PDRI. (Sumber: jakarta45.wordpress.com)

Membaca sastra adalah membaca sejarah dan membaca sejarah sama dengan membaca sastra. Aspek sejarah sebagai konstruksi sosial ini saya dapatkan dari Louis A. Montrose. Pendekatan New Historicism yang dicanangkan Stephen Greenbalt pada 1982 (dalam majalah Susastra 3 edisi 2006) dapat jadi pilihan dalam menganalisis karya sastra, sastra, dan sejarah secara utuh.

Keduanya memiliki keterkaitan yang erat. Hal ini diperkuat oleh terbitnya novel-novel fiksi sejarah yang ditulis Sinta Yudisia, ibu rumah tangga yang juga aktivis Forum Lingkar Pena (FLP). Pekan lalu (16/12) saya berkesempatan mengikuti pengalamannya menulis dalam sebuah seminar di Surabaya.  

Jauh sebelum bertemu dengannya, saya sudah membaca beberapa novelnya. Di antaranya, Road to the Empire. Termasuk karya terbarunya, Rinai. Dua novel ini bisa dikatakan sarat nilai-nilai historis. Road to the Empire bahkan ibarat literatur yang mengetengahkan kisah rinci saat masa kejayaan Jengis Khan ketika bangsa Mongol mendunia. Novel yang disebut terakhir (Rinai) juga ditulis berdasar observasi Sinta di Palestina.

Saya juga melihat sejarah masa silam yang dipotret dengan apik oleh Akmal Nasery Balal dalam novel Presiden Prawiranegara. Meski banyak figure imajinatif, kisah novel ini berhubungan dan dikaitkan dengan tokoh historis. Yakni, Syarifudin Prawiranegara.

Sebagaimana termaktub dalam beberapa literatur sejarah, Prawiranegara merupakan presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Sebelum menyerahkan mandatnya pada Juli 1949, Prawiranegara tercatat memimpin negeri ini selama enam bulan tujuh hari.

Hal ini juga disajikan dalam novel Presiden Prawiranegara. Secara gamblang, novel ini sudah memperdebatkan posisi dan status Prawiranegara sebagai presiden kedua RI yang hingga kini masih disangkal penguasa.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Kamil Koto. Di suatu cerita, Syarifudin Prawiranegara berangkat ke Jogjakarta untuk menyerahkan mandatnya kepada Soekarno pada Juli 1949. Kamil yang saat itu masih muda berujar, ”Bagi saya, Pak Syaf adalah presiden saja. Presiden dunia akhirat.”

Februari 1989, Kamil Koto sudah menetap di Liquad Bagh, Rawalpindi, Pakistan. Tepat 40 tahun setelah peristiwa penyerahan mandat tersebut. Ia sukses sebagai pengusaha restoran Minang di sana. Pagi itu ia membaca koran tentang wafatnya Prawiranegara. Kamil merasa dunia akan runtuh.

Masih banyak kisah-kisah menarik seputar masa awal mempertahankan kemerdekaan di novel tersebut. Juga sifat Prawiranegara sebagai seorang negarawan yang bijak dan revolusioner.

Hampir tidak noda dalam kepribadiannya. Kalaupun ada celah yang pantas dianggap sebagai sebuah kesalahan, itu hanya keterlibatan Prawiranegara dalam pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Namun, rakyat juga mesti tahu bahwa pemberontakan tersebut dipicu ketidakpuasan daerah terhadap penguasa yang dianggap otoriter dan jomplangnya perhatian kepada daerah-daerah di luar Jawa. Hal itu berdampak pada pemerataan pembangunan.

Terlepas dari konstelasi politik tersebut, fakta sejarah berbicara bahwa Prawiranegara pernah memimpin negeri ini meski hanya dalam hitungan bulan.

Sidoarjo, 20 Desember 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 21, 2012, in Sosok. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: