Kapan Lagi Swasembada?


Catatan Must Prast

penggiat di Klub Baca Buku IGI

Panglima Komando Mandala Mayjen Soeharto berfoto bersama Kolonel Laut (P) Soedomo. (Sumber: solopos.com)

Panglima Komando Mandala Mayjen Soeharto berfoto bersama Kolonel Laut (P) Soedomo. (Sumber: solopos.com)

Panglima Komando Mandala Mayjen Soeharto hari itu memberikan briefing kepada pasukan yang akan melakukan inflitrasi ke Irian Barat pada 1963. Ia tidak banyak bicara. Sejurus kemudian ia menatap seluruh pasukannya.

”Saudara-saudara, operasi ini sangat berbahaya dan tidak ada jaminan nyawa Saudara bisa selamat. Jika ingin mundur, silakan lakukan sekarang juga. Namun, jika mundur saat berada di medan tempur, saya anggap pengkhianat,” tegasnya.

Semua diam. Senyap. Tidak ada satu pun yang mundur. Mereka siap bertaruh nyawa dengan menyerbu Holandia (Jayapura) yang saat itu diduduki Belanda. Mayor Untung bin Samsuri memberi aba-aba. ”Hormat Panglima…!” Suaranya memecah keheningan pagi buta itu yang diikuti hormat senjata dari seluruh anggota.

Soeharto sejak muda dikenal pendiam, namun pemberani. Bukan kali itu saja ia memimpin komando tempur garis depan. Jika ditarik jauh ke belakang, namanya tercatat sejarah dalam peristiwa enam jam di Jogja alias serangan umum 1 Maret 1949.

Soeharto ketika itu masih berpangkat letnan kolonel dan menjadi komandan Wehrkreise III. Atas perintah rahasia Kolonel Bambang Sugeng, Soeharto dan pasukannya mengepung Kota Jogja dari segala penjuru pada pagi hari. Mereka menyerbu pasukan NICA dan berhasil menduduki Jogja selama enam jam. Sukses ini memiliki dampak politis yang menguntungkan Indonesia. Mata dunia internasional terbuka bahwa Belanda telah menyebarkan berita bohong tentang jatuhnya tentara Indonesia.

Sebelum serangan umum itu, Soerjono menceritakan ketegasan Soeharto. Saat itu mereka tengah bergerilya di hutan-hutan. Soerjono merupakan staf Soeharto ketika perang mempertahankan kemerdekaan berkecamuk pada 1949.

”Kekuatan mental Pak Harto luar biasa,” ucap Soerjono. Ia mengenang bahwa Letkol Soeharto pernah mengingatkan anak buahnya. ”Kalau takut mati, tak usah ikut perang,” ujar Soeharto.

Sebagaimana diceritakan Soerjono, komandannya tersebut betul-betuk memberikan contoh kepada anak buahnya tentang keberanian. Soeharto selalu berada di depan, baik saat menyerang maupun diserang tentara musuh. ”Saya selalu disuruh berada di belakang punggungnya. Percaya atau tidak, Pak Harto seolah tak mempan ditembak musuh,” ucapnya (Pak Harto, The Untold Stories, Gramedia).

Terlepas dari segala kontroversi yang menyelimutinya, Soeharto menyimpan banyak memori di hati para orang terdekat dan sebagian masyarakat Indonesia. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas. Berkat ketegasannya pula, Indonesia pernah mencatat swasembada beras pada 1986. Ia pun dengan cepat dan tegas memerintahkan menterinya segera mengatasi serangan hama wereng cokelat yang kasusnya saat itu sedang heboh-hebohnya di tanah air. Langkah ini dilakukan lewat kebijakan integrated pest management (IPM) yang akhirnya memperoleh penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) dan Food and Agriculture Organization (FAO).

 Prestasi swasembada beras tersebut mungkin sulit terulang dan dilakukan oleh pemimpin saat ini. Apalagi, industri kini telah banyak menggerus sawah-sawah padi milik petani. Ditambah lagi sekarang pemerintah latah melakukan impor. Termasuk beras. Bahkan, garam dan singkong saja mulai diimpor. Bah!

Malang, 18 Desember 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 18, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: