Inspirasi di Balik Novel Asmara di Atas Haram


Catatan Must Prast

Head of Training Division Eureka Academia

Novel ini memuat inspirasi, baik isi maupun sosok penulisnya. Dijamin! (Sumber: erlangga.co.id)

Novel ini memuat inspirasi, baik isi maupun sosok penulisnya. Dijamin! (Sumber: erlangga.co.id)

Heroik! Menulis itu benar-benar memberikan berkah dan kekuatan yang dahsyat. Saya kembali menemukan kekuatan tersebut pada novel Asmara di Atas Haram (Erlangga). Lidah dan hati saya seakan tak henti-henti diajak mengucapkan tasbih. Subhanallah.

Kendati bertema cinta, novel ini sejatinya sarat dengan muatan dakwah. Nyaris di setiap lembarnya menyiratkan dan menyuratkan ayat-ayat Tuhan. Tokoh utama dalam novel ini bernama Yasser, pemuda asli Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia berprofesi sebagai jurnalis yang memiliki suara indah saat melantunkan Alquran. Kelebihan ini membuatnya sukses menjuarai Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional. Penghargaan dan pujian pun mengalir. 

Konflik dimulai saat ibunda Yasser sakit berat dan harus dioperasi. Biayanya Rp 60 juta. Yasser pun kelimpungan. Apesnya, duit Rp 2 juta untuk uang muka operasi sang ibu raib dijambret di depan rumah sakit.

Di tengah kerumitan yang dihadapi, pemuda yang dikenal ceria dan santun tersebut tiba-tiba mendapat ”cobaan” lain. Secara mengejutkan, rekeningnya terisi dana gelap sebesar Rp 5 miliar. Ia mencoba menyelidiki asal-usul dana tersebut. Namun, usahanya nihil. Keterangan dari pihak bank belum memuaskan hatinya.

Saat terdesak, tim dokter meminta Yasser segera memutuskan soal operasi ibunya. Ia akhirnya menyetujui sang ibunda tercinta masuk ke meja operasi. Ia pasrah. Bagi dia, yang penting ibunya mendapat penanganan medis yang maksimal terlebih dulu. Soal biayanya, itu dipikir belakangan. Modalnya hanya bismillah. Ia yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Hasbunallah wani’mal wakil.

Namun, Yasser tidak mau menggunakan uang tiban tadi untuk biaya operasi ibunya. Ia merasa tidak berhak atas sesuatu yang masih antah berantah alias tak jelas. Di saat kebingungan melanda, kabar sedih menerpa. Nyawa ibunya tak tertolong meski tim dokter sudah mengupayakan yang terbaik. Di sisi lain, Yasser tetap tak mau menggunakan ”uang siluman” tersebut.

Kisah emosional lainnya berlanjut ketika Yasser bisa menyapa Tanah Suci. Pengalaman spiritual yang terkira dirasakannya saat menyapa Kota Nabi tersebut. Juga kebahagiaan tak terkira saat melaksanakan shalat di Masjid Al Haram. Perjalanan haji ini merupakan hadiah dari gubernur Kalsel atas prestasi Yasser sebagai juara MTQ nasional. Masih banyak cerita-cerita edukatif lainnya yang dikemas dengan bahasa memikat dalam novel ini.

Tidak hanya segi cerita, proses penulisan novel Asmara di Atas Haram ini juga sangat heroik. Novel ini sebenarnya terilhami oleh pengalaman Zulkifli L. Muchdi, sang penulis, saat menunaikan ibadah haji pada 2003. Beberapa tahun kemudian, ia tercetus untuk membuat sebuah novel Islami yang menceritakan sekelumit pengalaman spiritual dalam perjalanan haji. Namun, awal 2008 Zulkifli terserang penyakit radang sendi. Begitu parahnya, sampai-sampai ia mengalami kelumpuhan. Ia pun mengalami depresi berat.

Namun, dukungan orang tua, istri, dan anak-anaknya membuat pria kelahiran Banjarmasin, 5 Juli 1959, tersebut kian tegar dan bersemangat.

Dalam kondisi kepayahan karena lumpuh, bapak dua anak itu terus berusaha merampungkan novel Asmara di Atas Haram. Aktivitas menulis ini dilakukannya tiap pagi, sore, dan malam. Untuk mengetik naskah, ia dibantu Imam Sobirin, alumnus SMAN 4 Pondok Ranji, Tangerang Selatan. Zulkifli akhirnya mampu menyelesaikannya tepat pada malam takbiran Idul Fitri 1429 Hijriyah. Allahu akbar!

Di tengah deraan sakit itu, ia tak alpa berdoa dan memohon kekuatan serta kesembuhan. Pada kesempatan lain, anaknya mengirimkan naskah tersebut via e-mail ke beberapa teman dan penulis untuk meminta masukan. Pada 27 Desember 2010, naskah Asmara di Atas Haram dikirim ke Erlangga, penerbit besar yang berbasis di Jakarta. Kurang dari dua minggu, tim editor Erlangga mengabarkan bahwa naskah novel itu layak diterbitkan. Zulkifli senang tak terkira. Ia langsung bersujud syukur. Allahu akbar!

Kekuatan menulis belum berhenti sampai di sini. Doanya diijabah Sang Khalik. Mantan pegawai BTN ini akhirnya sembuh dan tetap menekuni kegiatan menulis sebagai terapi. Menulis itu ternyata benar-benar menyembuhkan. Allahu akbar!

Malang, 18 Desember 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 18, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: