TKI Kita


Ilus: tkikompeten.com

Ilus: tkikompeten.com

Sebelum berangkat ke Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Taman, Sidoarjo, siang ini, saya membaca berita seorang TKW di Yordania yang nekat loncat dari lantai 3 apartemen majikannya. Namanya Uum binti Rasitam, 41, asal Rengasdengklok, Karawang. Dia frustrasi karena sering diludahi tanpa sebab. Untung, nyawanya selamat. Ia hanya menderita patah tulang kaki kanan. Kini ia sudah dirawat di RS Polri Kramat Jati, Jakarta.

Persoalan buruh migran ini selalu menyisakan masalah yang cukup kompleks. Mereka mengadu nasib ke negeri orang demi bisa menjaga dapur rumah tetap mengepul. Di sisi lain, mereka merasa lapangan kerja di Indonesia tidak cukup bersahabat lantaran banyak TKI yang berpendidikan rendah.  

Celakanya, tidak sedikit buruh migran yang betul-betul bondo nekat (bonek) karena berani berangkat ke luar negeri tanpa modal skill dan bahasa asing (Inggris, Arab, Kanton, Mandarin) yang baik. Celakanya lagi, banyak TKI yang buta huruf di Timur Tengah (sumber: Kompasiana, 2012). Belum lagi para TKI yang berangkat secara ilegal. Akibatnya, di Malaysia misalnya, mereka dikejar-kejar oleh Kepolisian Diraja Malaysia karena dituding pendatang gelap.

Di sisi lain, perhatian pemerintah kita agak longgar terhadap dinamika permasalahan para buruh migran ini. Betapa tidak, pemerintah kita seakan kecolongan terhadap fakta banyaknya anak TKI yang buta huruf di wilayah Sabah, Malaysia. Direktur Edukasi Pertamina Foundation Ahmad Rizali dan Sekjen IGI Moh. Ihsan melaporkan kondisi tersebut beberapa bulan lalu. Kemudian diambil langkah dengan pengiriman satu kontainer buku untuk anak-anak TKI tersebut yang diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, akhir November silam.

Nasib dan perlakuan yang diterima para TKI kita di luar negeri memang melahirkan kecemasan dan rasa kasihan. Namun, rasa iba saja tidak cukup. Jika pemerintah memang peduli terhadap nasib TKI kita, seharusnya ada langkah konkret di dalam negeri. Percuma saja kita mengurangi jumlah TKI yang akan berangkat ke luar negeri, sementara lapangan kerja di dalam negeri sangat sempit dan nyaris tak ada ruang buat mereka.

Untuk itu, salah satu solusi yang realistis adalah pendidikan. Warga miskin harus bisa mengeyam pendidikan gratis dan benar-benar dijamin keberlangsungannya. Berikan pula pelatihan keterampilan di beberapa bidang untuk mengasah kemampuan mereka sebagai bekal. Hal ini harus dilakukan secara berkala dan masif.

Jika langkah ini diabaikan, jangan heran apabila banyak warga miskin dan buta huruf yang semakin nekat mengais rezeki di luar negeri. Kini saatnya meninggalkan paradigma orang miskin sulit bersekolah.

Sidoarjo, 17 Desember 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 17, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: