Kasih Sayangnya Tak Terbeli


(Tulisan ini dimuat di majalah Nurul Hayat edisi Desember 2012)

…dan Kami wajibkan manusia berbuat kebaikan kepada ibu-bapaknya.” (QS Al-Ankabut : 29)

***

Kita tentu pernah mengalami masa kanak-kanak yang identik dengan dunia bermain tersebut. Nah, di antara kita, tentu ada yang kerap dimintai tolong oleh ibunda. Misalnya, disuruh membelikan sesuatu di warung. Bagaimana reaksi saat itu? Tentu bisa bermacam-macam. Ada yang pergi dan langsung melaksanakan titah sang ibu. Mungkin tak sedikit pula yang pergi sambil bersungut-sungut karena disuruh ke warung ketika sedang asyik bermain. Bahkan, bisa jadi ada yang terang-terangan menolak permintaan tolong sang ibu. Kalaupun mau disuruh, setidaknya akan minta imbalan untuk itu.  

Dalam suatu kisah terkenal yang dinukil dari sebuah mailing list, diceritakan ada seorang anak perempuan yang menghampiri sang ibu. Mulai pagi itu ia bergegas membantu ibunya untuk membereskan pekerjaan di rumah. Mulai menyapu teras, membuang sampah, ngepel, menyiram taman, hingga membantu berbelanja sayur. Setelah semua rampung dikerjakan, si anak mengeluarkan secarik kertas.

Uniknya, kertas tersebut berisi tulisannya tentang kegiatan selama membantu ibunya pada hari itu. Dalam nota kecilnya tersebut tertulis nominal-nominal dalam rupiah tentang ongkos kerjanya. Ya, intinya si anak meminta imbalan atas jerih payahnya dalam membantu ibundanya.

Bagaimana reaksi ibu anak perempuan itu? Ia hanya tersenyum. Tidak sedikit pun ia menaruh kesal dan marah terhadap tuntutan putrinya. Sang ibu lantas mengambil bolpoin dan menulis di secarik kertas kecil, persis seperti yang dilakukan anak perempuannya tadi. Di situ dibeberkannya beberapa hal. Di antaranya, mengandung anaknya tersebut selama sembilan bulan, melahirkan sang anak dengan taruhan nyawa, menyusui dengan ASI esklusif, begadang karena tangisan sang anak, menggendong selama dua tahun pertama si anak, dan banyak poin lainnya. Yang menarik, di setiap item tersebut ditulis kata: GRATIS.

Setelah usai, kertas itu diberikan oleh sang ibunda kepada putrinya tadi. Tidak ada kata-kata yang meluncur dari keduanya. Mereka saling berpandangan satu sama lain, kemudian tersenyum. Lantas berpelukan. Barulah si ibu berkata, ”Kasih sayangku tidak akan terbeli, putriku.”

Ya, kasih seorang ibu telah menjadi sesuatu mahsyur dengan tingkat yang begitu tinggi. Tak heran jika ada pepatah yang mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepenggal galah.

Begitu mulianya seorang perempuan, terutama status ibu, di mata Islam. Sehingga agama Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada mereka. Peran seorang ibu dalam tatanan kehidupan rumah tangga dan keluarga sungguh besar. Tidak mudah dan tidak setiap orang bisa melakukan peran seorang ibu. Betapapun hebatnya seorang ayah dalam menjalankan peran seorang ibu (karena ditinggal wafat istrinya) bagi anak-anaknya, tetap ada sesuatu yang kurang pas dan kurang sempurna.

Tingginya kedudukan seorang ibu dalam hukum Islam juga dijelaskan dengan jelas dan gamblang. Terbukti, ridha Allah terletak pada ridha orang tua dan murkanya Allah terletak pada murkanya orang tua pula. Orang tua yang dimaksud di sini yang paling utama adalah ibu.

Sedemikian besarnya penghargaan kepada kedua orang tua, terutama ibu, hal ini tecermin dari ayat berikut. ”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbaik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau dua-duanya sampa berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ’ah’ (perkataan keras, kasar, tidak sopan) dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-Isra : 23)

***

Akhir-akhir ini dunia pendidikan tanah air tersentak oleh perilaku tidak elok yang dilakukan oleh anak-anak didik, para generasi penerus bangsa. Terjadi kasus tawuran yang melibatkan pelajar. Bahkan, bentrok itu sampai memakan korban jiwa. Insiden ini tentu membuat kita semua mengelus dada. Memprihatinkan. Di saat gema pendidikan karakter digaungkan di mana-mana, justru perilaku anak-anak bangsa masih jauh dari sosok calon-calon pemimpin negeri ini.

Sesuatu yang disebut juga kenakalan remaja tersebut tidak hanya terpaku pada aksi tawuran antarsiswa, tetapi juga bentuk kenakalan lainnya seperti narkoba, bolos sekolah, nyontek massal, hingga pergaulan bebas. Yang tak kalah ironis adalah tindak kejahatan seperti aksi pencurian, perampokan, dan penjambretan mulai melibatkan remaja atau anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah.

Tak pelak, potret kelam di dunia pendidikan ini mau tak mau menarik perhatian dan membutuhkan solusi nyata dari pemangku kepentingan (pemerintah), masyarakat, sekolah, dan orang tua. Apa yang salah dalam proses pendidikan kita? Bagaimana langkah konkret dalam mengatasi problem ini?

Jika ditarik kembali ke belakang, maka kita akan menyadari betapa besar andil dan peran seorang ibu. Terutama dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai positif serta moral kepada anak-anaknya. Islam telah mengatur manajemen keluarga muslim. Yakni, suami menjadi pemimpin rumah tangga, ”arrijaalu qawwamuuna ’alannisaa’i..,” sedangkan istri adalah pemimpin atas seluruh penghuni rumah.

Allah pun memberikan jenis kasih sayang nuraniah yang tidak terdapat pada sosok ayah karena ibu menjadi pemimpin yang ada di dalam rumah seperti suami dan anak-anak.

Nah, pendidikan di dalam rumah termasuk tanggung jawab yang dipegang oleh seorang ibu. Jasa seorang ibu dalam mendidik ini sangat besar dan ini telah dilakukan sejak mengandung dan melahirkan anaknya. Manusia-manusia profesional beserta kiprah dan keberhasilannya pun tak bisa dilepaskan dari peran ibu.

Tentu kita masih ingat dengan sosok muslimah bernama Yoyoh Yusroh. Di tengah kesibukannya sebagai seorang politikus dan anggota dewan, perempuan berdarah Sunda tersebut tidak alpa dengan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia selalu menanamkan nilai-nilai Islami dalam pendidikan setiap putra-putrinya. Aspek moral dan pembinaan karakter kepribadian juga tak lepas dari penanaman ilmu agama. Selain menekankan belajar ilmu-ilmu di sekolah, anak-anaknya diajari dan diwajibkan untuk belajar mengaji. Setiap di antara mereka selalu ditanamkan rasa cinta terhadap kegiatan membaca  Alquran. Tak heran jika ada di antara anak-anak Yoyoh yang hafal Alquran.

Ibu yang baik tersebut berhasil membentuk karakter generasi Qurani pada anak-anaknya. Namun, Allah berkehendak lain atas dirinya. Yoyoh meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di daerah Cirebon, Jawa Barat. Kendati demikian, ia telah memberikan bekal yang begitu penting kepada anak-anaknya, yakni ilmu agama. Terutama, nilai-nilai ketakwaan. Mengajarkan kebajikan berdasar teladan yang diajarkan Rasulullah SAW. ”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS An-Nisa : 124)

Apabila lebih banyak ibu berhasil memainkan peran sentralnya di keluarga, aksi-aksi kenakalan remaja setidaknya bisa ditekan. Sebagaimana diketahui, kebanyakan anak yang bermasalah dengan kenakalan remaja adalah yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, terutama ibu. Akibatnya, mereka mencari perhatian dalam bentuk lain, yakni pergaulan dengan teman, yang tentu saja akan sulit dikontrol. Nah, di sinilah pentingnya peran vital seorang ibu terhadap pendidikan, perkembangan, dan kepribadian anak-anaknya.

***

Mencermati segala peran sentral, tugas, dan tanggung jawab seorang ibu, maka kita akan tersadar bahwa mereka memang makhluk yang luar biasa. Bahkan, secara tegas kedudukan ibu dalam Islam lebih tinggi dibandingkan kedudukan seorang ayah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra disebutkan: Seorang lelaki datang kepada Nabi SAW. Lelaki itu berkata, ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku patuhi?” Kata Nabi, ”Ibu.” Lelaki itu bertanya lagi, ”Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, ”Ibu.” Dia bertanya lagi, ”Lalu siapa lagi?” Nabi berkata, ”Ibu.” Dia bertanya kembali, ”Kemudian siapa lagi?” Rasulullah SAW menjawab, ”Ayahmu.” (HR Imam Bukhari-Muslim)

Begitu pentingnya peran ibu sehingga agama Islam sangat memperhatikan mereka. Selain diliputi dengan pendidikan dan pengayoman, mereka diberi hak-hak yang sesuai dengan penciptaan dan fitrah. Perhatikanlah, betapa Islam memuliakan mereka. Kita tidak akan menemukan perhatian dan pengayoman kepada kaum perempuan dalam tradisi dan kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia.

Melalui perhatian itulah, Islam membentuk kaum perempuan. Mereka selalu berada di belakang orang ternama yang memenuhi dunia dengan hikmah dan keadilan. Tak salah bila ada pepatah yang menyebutkan, ”Di belakang seorang tokoh besar, ada perempuan hebat.”

Ya, mereka adalah para ibu. Sosok merekalah yang akan membentuk pribadi-pribadi tangguh dan siap menjawab tantangan zaman. Tanpa sentuhan, belaian lembut, dan pola pendidikan yang diberikan seorang ibu, mustahil bisa hadir generasi yang memiliki karakter positif. Dan itu tak lepas dari kasih sayang seorang ibu. Kendati belum tentu bisa membalas pengorbanan dan kasih sayangnya yang tak terbeli, setidaknya kita bisa meneledanani perjuangan seorang ibu. Salah satu caranya, berbuat baik dan membahagiakan beliau jika masih ada.

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 15, 2012, in Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: