Munif dan Kasih Ibu


Rombongan IKA Unesa menjenguk Pak Munif (B. Indonesia IKIP Surabaya 1979) di Sidokare Indah, Sidoarjo, pada 13 Desember 2012. (dok pribadi)

Rombongan IKA Unesa menjenguk Pak Munif (B. Indonesia IKIP Surabaya 1979) di Sidokare Indah, Sidoarjo, pada 13 Desember 2012. (dok pribadi)

Sebut saja namanya Sumaiyah. Umurnya 65 tahun. Ia mengerti sedikit bahasa Indonesia, tapi lebih terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Ibu dua anak tersebut kini tinggal di kawasan Sidokare, Kota Sidoarjo.

Rumahnya sangat sederhana. Plafon di ruang tamu kediamannya sudah jebol hampir separo. Ada dua kamar, namun yang satu lebih difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang alias gudang. Kamar yang satu lagi berisi dipan dengan kasur yang bau pesing. Kayu yang menyangga jendela depan sudah lapuk dimakan rayap.  

Di situlah setiap hari Sumaiyah merawat Munif, putra sulungnya. Pria yang berusia sekitar setengah abad itu menderita stroke. Ia hanya bisa duduk di kursi roda. Tangan kanannya tak bisa digerakkan. Kendati tak bisa berjalan, Munif masih memiliki ingatan tajam. Suaranya tidak begitu jelas saat bicara, namun ia bisa memberikan kode dengan tangan kiri yang dapat digerak-gerakkan.

Sekilas, Sumaiyah dan Munif seperti adik dan kakak, padahal tidak. Sumaiyah mengaku menikah saat usianya masih begitu belia. Pada umur 17 tahun, ia melahirkan Munif.

Tadi sore saya berkesempatan menjenguk Munif. Kabar tentang sakitnya alumnus bahasa Indonesia IKIP Surabaya (Unesa) 1979 itu kali pertama beredar di milis alumni Unesa pada Selasa lalu (11/12). Sirikit Syah meneruskan warta tersebut dari Cicih, rekan seangkatan Munif. Kepada Sirikit, Cicih menceritakan kondisi Munif yang memprihatinkan sambil menangis.

Sirikit berinisiatif membesuk Munif dan mengajak anggota lainnya untuk ikut. Banyak yang menitipkan bantuan uang untuk Munif. Kamis sore tadi akhirnya kami berkesempatan menjenguk Munif. Selain Sirikit, ada Embunwati, Rukin Firda (wartawan senior Jawa Pos), Ida Tisrina (guru SMAN 2 Sidoarjo), dan Fafi Inayatillah (alumnus Pascasarjana Unesa). Saya datang belakangan, mengemban amanah dari Habe Arifin, Guntur Prayitno, dan Abdur Rohman. Kami mewakili IKA Unesa sekaligus memberikan semangat kepada Munif agar cepat pulih kembali.

Kondisi Munif memang menyedihkan. Di atas meja dekat selasar ruang tamu, terpampang pigura foto Munif saat wisuda S-2 Magister Manajemen di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya pada 1997. Ia masih tampak gagah.

Namun, kini ia hanya bisa duduk di kursi roda. Ketika rombongan IKA Unesa datang, Sirikit langsung menyapa khas. ”Nif, yok opo kabare?” Ungkapan-ungkapan dengan gaya Suroboyoan juga keluar dari Embunwati. Suasana pun terasa segar. Sesekali Munif menangis karena merasa sedih dengan keadaannya. Namun, sejurus kemudian ia bisa ikut tersenyum dan tertawa mendengar candaan Sirikit.

Embuwanti juga piawai menghibur Munif. Di sela-sela obrolan gayeng tersebut, Sirikit mengatakan bahwa Munif pernah menaksir Embunwati. ”Mana yang lebih kau taksir, si Embun atau aku?” tanya Sirikit. Munif lantas mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke arah Sirikit. Seisi ruang tamu pun tertawa keras. Segar. Saya melontarkan guyon dengan mengatakan bahwa banyak pria yang naksir Sirikit saat muda dulu. Sirikit tidak mengelak.

Di dekat Munif, selalu ada Sumaiyah. Ia dengan sabar meladeni dan merawat anak sulungnya tersebut. Adik Munif tinggal di Sidoarjo juga. Keprihatinan semakin bertambah karena istri dan anak Munif pergi entah ke mana.

Yang masih setia merawat Munif adalah Sumaiyah. Baik ketika menyuapi makan, menyiapkan obat, maupun membersihkan kotoran Munif. Di dekat dapur dan sekitar ruang tamu, bau pesing masih tercium. Di bawah kursi roda Munif, terlihat ceceran cairan kekuningan. Sepertinya urine.

Kesabaran Sumaiyah dan kasih sayangnya yang tulus kepada sang anak menggunggah kami semua yang berada di sana saat itu. Benarlah kata pepatah bijak bahwa kasih ibu sepanjang masa.

Sidoarjo, 13 Desember 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 14, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: