Writingpreneurship dengan Modal Rp 100


Kolaborasi menulis dan berwirausaha dengan modal Rp 100? Jangan buru-buru skeptis dulu! Saya sudah melakukannya.

Singkatnya, saya punya naskah buku dan saya ingin menerbitkannya sendiri. Namun, segmennya khusus, tidak menyasar pembaca umum.

Semula saya ingin mencetaknya dengan jumlah 500 eksemplar. Namun, saya pikir buku tersebut lebih baik dicetak 1.000 eksemplar sekalian, jadi ongkos cetaknya bisa ditekan atau lebih murah.  

Karena belum punya dana untuk menerbitkan sebanyak 1.000 eksemplar, sementara saya ingin naskah itu segera bisa dicetak, saya menawarkannya ke rekan yang punya penerbitan. Saya jelaskan pangsa pasarnya dan peluang lakunya. Ibaratnya, saya minta dia memodali untuk penerbitannya. Setelah tercapai deal, buku dicetak sebanyak yang saya minta (1.000 eksemplar). Ongkos produksinya secara total sekitar Rp 5 jutaan.

Saya menargetkan biaya produksi itu harus kembali dalam jangka waktu enam bulan. Bagaimana caranya? Sebagian di antaranya saya berikan secara gratis kepada beberapa kawan, kolega, peminat buku, dan keluarga. Saya anggap itu sebagai promosi.

Nyatanya, ada rekan yang tertarik. Melalui info dari mulut ke mulut, pembeli mulai memesan langsung kepada saya. Bahkan, ada yang mengajak untuk membedah buku tersebut. Saya pun bisa memanfaatkannya dengan berjualan buku sendiri di momen seperti itu.

Seiring dengan waktu, saya optimistis bisa mengembalikan modal produksi sekaligus meraup keuntungan dari hasil penjualan buku, undangan seminar, bedah buku, merchandise, dan lain-lain.  

Lha terus, Rp 100 itu nyata atau tidak? Ya iyalah! Saya melobi kawan penerbit lewat SMS dan biayanya hanya Rp 100. Inilah yang terjadi pada buku Rumah Kartu (2012).

Mengapa saya yakin ini bisa berjalan mulus dan sukses? Jauh sebelum itu, saya pernah melakukannya beberapa kali. Salah satunya lewat buku Karena Ukhuwah Begitu Indah (2011). Saya kontak rekan di Komunitas Kotasantri. Saya terbitkan tulisan-tulisan saya yang berserakan di situs Kotasantri. Saya pasarkan di kalangan kawan-kawan komunitas. Hasilnya? Keuntungannya memang tidak banyak, hanya berupa satu laptop.

Jadi, siapa bilang penulis tidak bisa menjadi entrepreneur? Saya sudah mempraktikkan dan membuktikan hasilnya. Siapa pun bisa melakukannya. Masih ragu-ragu? Silakan mengontak saya.

The Taman Dayu, 7 Desember 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 7, 2012, in Catatan Harian, Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: