“Pelem”


Setiba di Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk, sekitar pukul 22.30, saya langsung diantar Faizi dan Mushtafa, dua pejabat ponpes, ke penginapan tamu. Tempatnya bersih dan sederhana, namun mirip kos pasutri. Ada ruang tamu, satu ruang tidur dengan spring bed, dan satu kamar mandi yang baknya lumayan besar.

Karena sudah larut malam, saya memutuskan tak langsung mandi. Hanya cuci kaki, menyeka wajah, lalu wudu untuk segera shalat jamak takhir Magrib-Isya.

Malam itu suasananya sejuk. Selesai shalat, saya ditemani Mas Mushtafa mengobrol di ruang depan. Tidak ada korden utama, hanya korden tipis putih yang transparan.   

Mas Mushtafa menawari saya teh hangat dan saya tak menolak karena kebetulan tenggorokan ini sedang kering karena terus-menerus batuk.

Ia pun izin ke rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter dari tempat saya bermalam saat itu untuk membuatkan teh. Setelah ia berlalu, saya mulai mengutak-atik laptop milik Mas Mushtafa untuk membuat bahan presentasi pelatihan menulis.

Suasana sudah sunyi sekali. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi glodak yang cukup keras. Saya tak mengindahkan. Kemudian bunyi yang sama terdengar lagi. Seperti suatu benda keras yang mengenai atap. Saya kaget bukan kepalang.

Tak lama setelah itu, ada seekor kucing warna gelap yang lari ke arah depan. Kemudian ia menjauh lagi. Saya sempat keluar sebentar dan tidak menemui apa-apa.

Begitu masuk dan hendak duduk, terdengar suara glodak berturut-turut. Kali ini keras sekali. Semula saya pikir itu bunyi buah mangga yang jatuh mengenai atap rumah atau gedung sekolah yang tak jauh dari penginapan saya. Namun, pikiran saya mulai waswas karena bunyinya nyaris berturut-turut.

Mulailah saya berzikir. Menenangkan diri. Setelah itu, bunyi tersebut tak terdengar lagi. Saya pun mulai tenang. Ketika asyik mengudap camilan kue, terdengar bunyi ”Glodaaak…..”

Sepotong kecil kue sampai mencelat karena saya kaget pol ketika itu. Maksud hati ngibrit, apa daya yang terlontar dari mulut hanya kata: Hamput! Jantung saya mulai melakukan sport tak teratur. Serasa naik bus Sumber Kencono yang sopirnya terkenal doyan ngebut itu.

Untunglah, Mas Mushtafa segera muncur membawakan teh tak lama setelah itu. Saya lantas menceritakan kejadian tersebut kepadanya. Ia mengaku tak mendengar apa-apa. Aneh. Padahal, jarak suara itu tak jauh dari tempat saya dan rumah beliau.

”Mungkin buah mangga kali ya yang jatuh!” ujar saya.

”Ya, mungkin saja,” tukas Mas Mushtafa.

Paginya saya sempat berkeliling ke sekitar kompleks lembaga pendidikan di bawah Ponpes Annuaqayah itu. Memang ada pohon pelem (mangga). Namun, letaknya agak sedikit jauh dari penginapan. ”Lha suara glodak sangat keras bertalu-talu semalam dari mana ya?” tanya saya dalam hati. 

Wis embuh, yang penting saya sudah kembali ke Surabaya setelah pelatihan. Meninggalkan Pak Nanang dan rombongan yang masih menginap semalam lagi di situ. Saya enggan untuk berburu ”pelem” malam-malam…

Sidoarjo, 3 Desember 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 3, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: