Ghost Writer-nya Vena?


Mbak Vena dan Must Prast. (dok. pribadi)

Mbak Vena dan Must Prast. (dok. pribadi)

Gosh! Sungguh saya capek sekali saat itu. Bangun pagi-pagi pukul 08.00 adalah suatu ujian berat. Apalagi, saya baru pulang kerja pukul 02.00 dan baru bisa tidur sehabis shalat Subuh.

Namun, toh saya harus segera berangkat pagi itu untuk memenuhi panggilan Waka Kesiswaan SMAN 5 Surabaya sekaligus bertemu sang Kasek. Saya akan melaporkan progres penerbitan buku Golden Generation karya para siswa Smala (sebutan SMAN 5 Surabaya).

Gosh! Saking ngantuknya, pintu kamar mandi rasanya tidak terlihat. Padahal, jaraknya hanya sekitar satu meter dari tubuh saya yang gontai pagi itu. Kantung mata ini pun masih sedikit gembul.

Tapi, toh saya harus mandi biar lebih segar dan siap berangkat ke lokasi. Sungguh, dalam perjalanan menuju sekolah favorit di Surabaya itu, hati ini rasanya ingin berteriak keras-keras: ”Aku sik ngantuuuuuuuuk, Pak…!”

Setelah menembus kepadatan lalu lintas di Kota Pahlawan dengan sepeda motor, akhirnya sampai juga setelah kurang lebih satu jam dari Sidoarjo. Setelah parkir motor di dekat kantin sekolah yang lumayan luas tersebut, saya tergoda untuk ngopi untuk membunuh rasa kantuk.

Namun, saya mengurungkannya karena harus segera bertemu dengan para pejabat Smala tersebut. Menuju ke lobi tamu, rasanya saya kembali tergoda untuk berteriak: Aku sik ngantuuuuuuuuk, Pak…!”

Setelah ngobrol dengan Bu Kasek yang masih terlihat cantik di usianya yang hampir setengah abad itu, tiba-tiba muncul Kepala Dikbud Jatim Harun dan beberapa stafnya. Rupanya sidak. Saya dapat kabar dari seorang staf bahwa hari itu akan ada kunjungan anggota Komisi X DPR ke sekolah yang terletak di Jalan Wijaya Kusuma tersebut.

Benar saja, setelah sekitar 15 berlalu, bus rombongan komisi X parkir di depan gerbang Smala. Tampak Ketua Komisi X Agus Hermanto. Juga Dedi ”Miing” Gumilar.

Saya tidak peduli. Yang saya inginkan saat itu adalah terlelap. Namun, mata saya mulai sedikit terang setelah melihat artis cantik Vena Melinda dalam rombongan tersebut. Ketika sidak ke perpustakaan sekolah, saya dipaksa seorang guru untuk berpose bersama perempuan berumur 40 tahun itu. Asem tenan!

Saya sebenarnya ngantuk pol, tapi dipaksa untuk berpotret dengan artis kelahiran Surabaya tersebut. Anda bisa lihat bagaimana raut kelelahan saya dalam foto itu. Apalagi, saya sedikit keki karena di atas alis kanan ada bisul kecil! Kecil, tapi mereduksi kepercayaan diri. Sungguh!

Setelah jepret pertama dan kedua, saya sempat memberikan kartu nama. Siapa tahu ada anggota DPR yang tertarik menggunakan jasa saya sebagai ghost writer. Apalagi, tarif saya sebagai penulis siluman lebih murah daripada rekan-rekan seprofesi di Jakarta, hanya Rp 40 juta. Tidak kurang, tidak lebih.

Saat pulang ke rumah, hati ini sedikit berbunga. Siapa tahu Mbak Vena tertarik membuat otobiografinya dan meminta bantuan saya. Kalau tidak? Nggak masalah, yang penting saya mau segera istirahat saat itu. Sebab, sungguh saya ngantuk sekali dan ingin berteriak keras: ”Aku sik ngantuuuuuuuuk, Pak…!”

Graha Pena, 4 Desember 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 3, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: