Siami, Cermin Kebobrokan Unas


Siami (sumber: suarasurabaya.net)

Siami (sumber: suarasurabaya.net)

Saya sempat melihat ketika Ny Siami didorong-dorong oleh beberapa warga. Kebanyakan ibu-ibu. Sebagian lain mengucapkan sumpah serapah. Ada pula yang mengutuki perempuan asal Benowo itu. Beberapa jurnalis foto dan televisi mungkin sempat mengabadikan kejadian miris tersebut.

Siami tampak dijaga ketat personel kepolisian dari Polsek Benowo. Massa bukan semakin reda, justru kian beringas. Berteriak-teriak menyuruh Siami pergi dari rumahnya. ”Minggat koen! (Pergi kamu!)” ucap salah satu warga.  

Hari itu sangat mencekam. Pemandangan tersebut membuat darah saya mendidih. Insiden ini terjadi setelah ujian nasional (unas) di tingkat SD dilaksanakan di Surabaya.

Perempuan berpostur kecil itu adalah ibunda A. Namanya tiba-tiba menghiasi berbagai surat kabar di Surabaya dan Jawa Timur, kemudian media nasional turut meliputnya. Siami melaporkan kecurangan unas di SDN Gadel 2, Benowo, Surabaya, tempat anaknya bersekolah.

 Singkatnya, bukannya mendapat dukungan, tindakan Siami dianggap merupakan kesalahan fatal, terutama oleh warga. Mereka menganggap kebocoran unas itu sangat membantu anak-anaknya agar lulus. Wanita yang malang tersebut pun dicap sok suci. Tak urung, aneka macam kata-kata yang tak pantas diucapkan tertuju padanya. Ia menjadi whistle blower.

Begitu hebatnya desakan masyarakat, Siami akhirnya memilih mengungsi ke rumah familinya di Gresik. Ia diusir dari tempat tinggalnya sendiri. Sungguh pemandangan yang menyesakkan dada. Masyarakat kita dilanda sakit kronis!

Kejujuran justru dimusuhi. Dikangkangi. Seakan tindakan ini tiada berarti, tiada bernilai. Peristiwa ini menyulut perhatian nasional. Pro kontra unas pun berlanjut.

Kini, menjelang kurikulum 2013 diterapkan, unas tetap dilaksanakan. Kontroversinya dimulai lagi. Pendapat para ahli pun terbelah. Sebagian menilai bahwa unas tetap diperlukan, yang lain menganggap unas itu justru menjadi bumerang bagi pendidikan Indonesia.

Menjelang tutup tahun 2012, beberapa pakar dan aktivis pendidikan menandatangani petisi menolak unas. Di antaranya, guru besar ITB Prof Dr Iwan Pranoto. Ia menganggap unas justru membuat anak Indonesia tidak  kritis. Sebab, para siswa hanya dituntut untuk menghafal. Pernyataan Iwan Pranoto tersebut bisa diintip di berbagai portal berita.

Bagi saya, kasus Siami ini hendaknya jangan di-peti-es-kan. Tidak boleh dilupakan, apalagi unas masih bergulir. Unas terbukti membawa arus kebobrokan. Korbannya berjatuhan. Ada siswa yang nekat gantung diri karena tidak lulus unas. Yang paling gawat, kejujuran digadaikan justru di saat pendidikan karakter ramai dikampanyekan.

Namun, Mendikbud tetap bergeming. Ia memandang bahwa unas tetap perlu dihelat sebagai tolok ukur kualitas pendidikan tanah air. Di tengah gelombang penolakan unas, pada tahun 2013 dipastikan unas tetap diadakan. Mendikbud yakin pelaksanaannya berjalan lancar dan lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.

Terlepas dari keyakinan Pak Menteri, belum ada jaminan bahwa unas nanti berlangsung jujur seperti harapan banyak orang. Kita tentu berharap agar insiden Siami tidak terulang. Kita juga patut prihatin karena serangkaian kasus-kasus kecurangan unas (beserta bukti otentik) dan Siami tidak membuat Kemendikbud keder.

Yang tak kalah menyedihkan, unas dipaksakan tanpa memperhatikan hakikatnya, yakni memetakan pemerataan pendidikan di Indonesia. Menyedihkan!

Sidoarjo, 1 Desember 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 1, 2012, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: