Empat Jam dengan Tangan Kanan Marwah


Setelah lima tahun saling bertegur sapa dan bertukar pantun di milis alumni IKIP Surabaya, akhirnya saya bisa bertatap muka dengannya. Kami bertemu tepat 200 meter setelah tol Jembatan Suramadu. Posturnya tinggi dan tegap. Gagah. Sungguh, ini pertemuan yang amat emosional. Ia sudah seperti kakak kandung saya.

Karena itu, setelah melihatnya keluar dari mobil Inova yang akan membawanya keliling Madura, kami langsung berpelukan. Yang tidak bisa tertinggal dari kami adalah kebiasaan di milis: tertawa berderai-derai. 

Siang hari setelah saya ngangsu ilmu di SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, kebetulan ia mampir bersama Pak Urip, anak buahnya yang membawa kami ke Madura.  Kami sempat shalat Duhur sebentar di Masjid Kompleks Ponpes Annuqayah dan bersama-sama mampir ke Kota Sumenep. Setelah sowan ke Gus Fattah, salah satu kiai berpengaruh di Sumenep, kami menyempatkan menyantap gulai kikil alias kikil kokot yang terkenal di Warung Adnan, Jalan Dr Wahidin III/353, Pajagalan, Sumenep. Tampak foto Bondan Winarno, pengasuh acara kuliner di sebuah stasiun TV swasta bersama si empunya rumah makan.

Porsinya bisa dibilang porsi kelas berat. Full lemak! Sepiring gulai kikil khas Sumenep yang tak bakal saya temui di Surabaya. Yakni, seporsi kikil sapi dengan bumbu kacang. Yang unik, di menu tersebut juga diberi kacang hijau. Tidak hanya itu, masih ada gandengannya, yakni sepiring lontong dengan potongan yang jumbo.  Belum cukup di situ, masih ada campurannya, yakni korket. Di Surabaya, penganan tersebut lebih dikenal dengan nama kroket yang dibuat dari kentang. Namun, korket di Sumenep ini beda. Makanan yang kami santap ini terbuat dari ubi kayu alias singkong. Di atasnya ditaburi meses. Bisa dibayangkan betapa ramenya kuliner yang bernama kikil kokot tersebut.

Sebenarnya, kami berencana mencari menu dengkul sapi. Bisa full krokot-krokot. Apalagi, membayangkan menyeruput sumsumnya. Wow! Karena tidak menemukan menu dengkul sapi, sahabat yang juga kakak kelas saya tersebut langsung menceletuk, ”Gimana kalau nggasak dengkul masing-masing?” Kami tertawa berderai-derai.

Setelah menikmati menu amoy itu,  kami melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya. Selama empat jam perjalanan, kami bercerita macam-macam.

Di mobil hanya ada kami bertiga, saya, sahabat saya tersebut, dan Pak Urip di kemudi. Sempat singgah sejenak di Pamekasan, ia menemui anak buahnya yang lain. Saya sadar bahwa kawan yang satu ini sudah menjadi orang sibuk. Di sela-sela kesibukannya berbisnis, ia masih menceburkan diri ke politik. Ia tangan kanan Marwah Daud, pendiri salah satu partai politik dengan warna kebesaran oranye.

Beberapa kali kawan saya tersebut sibuk mengangkat telepon yang seolah tak henti-henti berdering. Marwah Daud juga sempat menghubunginya. Saya sebenarnya merasa apatis terhadap politik. Namun, saya tak memandang sahabat saya itu seorang politikus atau tidak. Kami punya dunia masing-masing.

Sore tadi hujan yang tidak rata menyapa sepanjang Sampang hingga Bangkalan. Di sela obrolan, Pak Urip bercerita tentang pengalamannya yang hidup harmonis bersama dua istrinya. Di saat itu, tiba-tiba Pak Urip mengucapkan kata keplek (dalam bahasa Jawa berarti sangat bodoh). Tawa kami pun meledak kembali. Sungguh saat itu tidak ada sekat antara kami. Tak ada gengsi jabatan dan profesi. Masih ada tawa dan canda, sama seperti kami bertemu di dunia maya.

Siapa tangan kanan Marwah Daud tersebut? Semoga yang bersangkutan berkenan menyebutkan sendiri.

Sidoarjo, 28 Nov 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 30, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Jadi kepengen omjay ketemu sama orangnya, hehehe

    salam
    Omjay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: