Jenderal Satu Koper


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Komandan legendaris RPKAD atau yang bernama Kopassus Letjen Sarwo Edhie Wibowo. (Sumber: purworejokab.go.id)

Ustazah Ratih, istriku, rajin menceritakan perkembangan dan dinamika murid-muridnya kepadaku. Tentang kelucuan, kenakalan, dan kecerdasan mereka. Tak jarang ia berkonsultasi denganku mengenai siswanya yang memiliki masalah di rumah sehingga memengaruhi akademisnya.

Dalam suatu kesempatan, ia menceritakan mengenai dua siswa yang tergolong ”tertinggal”. Ada kemungkinan mereka akan tinggal kelas karena nilai-nilainya jeblok. Orang tuanya sudah dipanggil untuk ikut memberikan perhatian dan motivasi belajar kepada siswa tersebut. Namun, tetap tidak ada perkembangan yang signifikan.

Menjelang ujian kenaikan kelas, istriku mendapat kiriman bingkisan. Setelah dibuka, isinya berupa baju gamis dan jilbab. Bentuknya cantik sekali. ”Pasti mahal,” pikirku. Sang ustazah menceritakan hal itu kepadaku setelah tiba di rumah.

Aku langsung meminta mengembalikannya kepada orang tua murid yang memberikan bingkisan tersebut. Keesokan hari bingkisan itu dikembalikan oleh istriku. Si wali tua murid menolak. ”Kami ikhlas, Ustazah. Tidak ada maksud apa-apa. Ini memang sudah kami siapkan untuk Ustazah,” dalih ibunda siswa yang nilainya jeblok tadi.

Sorenya, sepulang kerja, istriku membawa kembali bingkisan tadi. Begitu barang tersebut lagi, aku meminta istriku untuk mengembalikan lagi hadiah itu. Aku beralasan bahwa momen pemberian bingkisan tersebut terjadi saat menjelang kenaikan kelas. ”Jangan sampai hadiah ini memengaruhi objektivitas penilaianmu terhadap siswa yang nilainya jeblok. Sudah kembalikan saja dan tolak secara baik-baik. Beda halnya kalau pemberian ini tidak bersamaan dengan momen ujian kenaikan kelas,” ingatku kepadanya.

Aku juga menceritakan singkat tentang kisah Sarwo Edhie Wibowo. Pada Juni 1967, ia diangkat sebagai Pangdam Bukit Barisan yang berkedudukan di Medan, Sumatera Utara. Saat itu massa PNI masih kuat di Medan. Ketika itu PNI diasosiasikan prokomunis. Sehingga Sarwo dikirim ke Medan untuk mengatasi masalah tersebut. Mayjen TNI Sarwo Edhie Wibowo kemudian menggagas pembubaran PNI.

Di sisi lain, saat itu Sarwo gencar menindak tegas penyelundupan di Pelabuhan Belawan, Medan. Banyak pihak yang membujuk Sarwo agar mau berkompromi. Dia bergeming. Ia menolak semua bentuk gratifikasi.

Komandan RPKAD Sarwo Edhie (kanan) bersama Jenderal Soeharto. (Sumber: sudarjanto.multiply.com)

Setelah selesai bertugas di Medan, Sarwo bersiap kembali ke Jakarta. Ia hanya membawa satu koper. Ani Yudhoyono, putri Sarwo, menceritakan hal itu dalam Kepak Sayap Istri Prajurit. ”Papi memang idealis dan bersih,” ujar Ani.

Sarwo mengatakan, ”Saya berangkat hanya membawa satu koper, pulangnya pun membawa satu koper.” Hal ini setidaknya sudah menggambarkan keteguhan sang panglima terhadap segala bentuk godaan materi yang datang.

”Jangan sampai pemberian bingkisan ini menjadi fitnah atau pergunjingan yang tidak baik di orang lain. Apalagi, momentumnya bertepatan dengan waktu ujian kenaikan kelas.,” pesanku kepada sang ustazah, menutup cerita jenderal satu koper sore itu.

Sidoarjo, 24 Nov 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 24, 2012, in Catatan Harian, Sosok. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: