Dahlan Iskan-nya Perempuan


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Buku ini berawal dari catatan-catatan perjalanan. (Sumber: luthfiyah.com)

”Bacaan ringan menjelang tidur. Semoga bermanfaat.” Demikian bunyi tulisan di lembar pertama buku Jejak-Jejak Penuh Kesan. Buku tersebut berisi catatan-catatan perjalanan seorang ibu yang rendah hati, seorang istri yang santun, seorang pengajar yang simpatik, dan seorang tokoh yang patut diteladani.

Penulis buku itu bernama Luthfiyah Nurlaela. Secara umum, buku ini banyak bercerita tentang pengalaman religi, keluarga, orientasi yang terkait dengan dunia pendidikan, serta kegiatan traveling.

Buku ini dicetak terbatas, hanya seratus eksemplar. Menurut sang penulis, buku ini menjadi kado pernikahan emas atau 50 tahun orang tuanya. Sebuah kado yang manis. Selain dipersembahkan untuk bapak dan ibunda tercinta, buku ini dibagi-bagikan kepada famili, kolega, rekan, dan para sahabat istri Achmad Baskoro Adjie tersebut.

Kendati buku ini merupakan catatan-catatan perjalanan Luthfiyah, isinya bukan perjalanan biasa. Banyak hikmah dan pelajaran kehidupan yang bisa dipetik dalam buku ini. Benar-benar bukan catatan biasa!

Tulisan yang berjudul Anak Lanang mampu mencuri perhatian saya. Dengan lugas Luthfiyah menceritakan sekelumit tentang Barok Argashabri Adji atau Arga. Arga kini kuliah di jurusan sendratasik Unesa. Tubuhnya tinggi besar. Matanya mewarisi mata ibunya. Luthfiyah membagikan kisah ketika sang anak ngambek, mulai tidak disiplin, hobi bermusik, bicara keras jika marah, namun sebenarnya amat perasa. Ia sadar bahwa anak laki-laki semata wayangnya itu tidak bisa dikerasi. ”Ia sedang berproses,” tutur Luthfiyah. Sebagai ibu, ia berusaha memberikan perhatian yang lebih terhadap tumbuh kembang anaknya. Berusaha menjadi ibu yang baik.

Ia adalah profesor rupawan yang rendah hati. (Sumber: luthfiyah.com)

Masih banyak cerita yang menarik untuk diikuti dalam buku Jejak-Jejak Penuh Kesan ini. Terutama pengalaman heroiknya ketika bertugas sebagai komandan program Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) Unesa. Gaya bercerita yang sederhana membuat buku setebal 282 halaman ini sangat enak untuk disimak sampai habis tak bersisa.

Yang patut dicatat, stigma bahwa tulisan profesor itu kadang terlalu ilmiah dan mbulet harus segera dikikis. Luthfiyah telah membuktikannya lewat buku ini. Ya, perempuan cantik tersebut adalah seorang guru besar! Saya sendiri tidak sadar bahwa sedang membaca catatan harian seorang profesor. Saking menikmatinya. Seperti membaca tulisan-tulisan Dahlan Iskan.

Semua yang berbau ilmiah dan teknis dikemas dengan bahasa sederhana sehingga siapa pun pembacanya langsung mengerti maksud si penulis. Ketika membaca catatan-catatan perjalanan Luthfiyah, saya seperti membaca tulisan Dahlan Iskan.

Namun, buku ini bukan tanpa kekurangan. Kekurangan buku ini hanya ada satu: Cuma dicetak 100 eksemplar!

Jadi, yang belum kebagian harap gigit jari. Hahaha!

Graha Pena, 25 November 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 24, 2012, in Sosok. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. wah, senangnya bisa menulis catatan perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: