Bung Karno vs Josaphat Soedarso


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Jos Soedarso (sumber: rixco.multiply.com)

Hari itu perasaan Komodor Josaphat Soedarso terguncang. Desember 1961 merupakan bulan yang berat bagi Jos. Ia tak bisa merayakan Natal dengan tenang.

Perwira tinggi bintang satu dan orang nomor dua di ALRI tersebut dijadwalkan memimpin upacara internal di Pangkalan AL di dermaga Ujung, Surabaya. Kebetulan, istrinya, Florence Sri Kustiah, baru melahirkan.

Bayi tersebut belum dilihat oleh neneknya di Salatiga. Karena itu, Jos berpikir untuk naik mobil dari Jakarta ke Surabaya, sekalian bayinya disowankan ke sang nenek.  

Semula Jos berniat menitipkan istri dan bayinya tersebut di Salatiga, sementara ia bertugas di Surabaya. Namun, selama di perjalanan, ternyata sang bayi muntah-muntah. Jatuh sakit.

Saat itu perjalanan mereka sudah sampai di Kota Cirebon. Deputi I KSAL tersebut akhirnya memeriksakan sang bayi di sebuah rumah sakit di sana. Si bayi harus diopname. Jos bersama ajudannya langsung berangkat ke Surabaya.

Namun, ketika mobil Jos masuk daerah Tegal, seorang anggota polisi militer mengejar dan mencegatnya. Setelah berhasil menghentikan mobil sang komodor, anggota provos itu memberikan hormat militer. ”Lapor, Bapak dipersilakan kembali ke Tjirebon,” ujarnya kepada Jos.

Komodor Jos Soedarso gugur di Laut Aru pada 15 Januari 1962. (Sumber: k3mb4r091.blogspot.com)

Jos amat risau. Kekhawatirannya jadi kenyataan. Sebelum perwira tinggi asal Salatiga itu kembali ke Cirebon, bayinya sudah meninggal.

Buku Mengenal Jos Sudarso terbitan Dinas Sejarah TNI-AL (1976) melukiskan bahwa perasaan Jos hancur. Dia merasa bersalah karena membawa bayinya naik mobil. Ia kian menyesal karena belum sempat menimang anaknya tersebut.

Dalam upacara pemakaman, Jos tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Beberapa hari kemudian, ia memutuskan berangkat ke Surabaya untuk melanjutkan tugasnya. Namun, rekan-rekannya sesama perwira AL mencegah karena Jos masih dalam kondisi berduka.

Jos tetap pada pendiriannya. ”Tugas negara harus dilaksanakan. Tidak ada kepentingan pribadi yang bisa menghalang-halangi,” tegasnya.

Dalam kondisi hati yang berantakan, Jos dipanggil Presiden Soekarno ke Jakarta.

Brigjen (pur) Ben Mboi mencatat kutipan laporan Kolonel Soedarto tentang informasi itu. Ben Mboi bilang, terjadi perseteruan antara Bung Karno dan Jos Soedarso.

Bung Karno menawarkan jabatan untuk Jos. Perwira yang dikenal karismatik di kalangan anak buahnya tersebut bersedia dengan satu syarat: Bung Karno harus mengizinkan Jos memberantas korupsi di lingkungan istana.

Kontan Pemimpin Besar Revolusi itu tersinggung. Kemarahannya memuncak ketika dapat laporan bahwa ALRI belum siap tempur merebut Irian Barat.

Perang untuk membebaskan wilayah tersebut dari genggaman Belanda itu memang berciri naval campaign. Dengan demikian, kesiapan AL adalah mutlak. Misalnya, untuk mengangkut pasukan. Menurut Jos, melihat kesiapan militer ALRI, maka perang paling cepat baru bisa dilakukan pada Juni 1962.

Dalam otobiografinya, Brigjen (pur) Ben Mboi mencatat percakapan antara Bung Karno dan Komodor Jos Soedarso.

Bung Karno: ”Sebelum bulan Juni apa tidak bisa?”

Jos: ”Tidak bisa.”

Bung Karno: ”Tidak bisa apa tidak berani.”

Jos: ”Tidak bisa.”

Bung Karno: ”Tetapi berani?”

Jos: ”Berani”

Bung Karno: ”Buktikan!”

Jos: ”Ini perintah atau sekadar menantang?”

Bung Karno: ”Perintah Presiden.”

Jos: ”Paduka Yang Mulia, saya siap. Akan segera saya kerjakan.”

Jos mengambil sikap sempurna, memegang tongkat komando di tangan kiri, lalu memberikan hormat militer kepada Bung Karno.

Akhirnya, awal Januari 1962, Jos ikut operasi ke Irian Barat. Ia menumpang motor torpedo boat (MTB), kapal cepat ALRI. Operasi penyusupan pasukan ke Irian Barat tersebut dilakukan dengan tiga MTB milik ALRI. Yakni, KRI Matjan Tutul, KRI Harimau, dan KRI Matjan Kumbang. Operasi ini dipimpin oleh Kolonel Pelaut Soedomo. Jos berada di KRI Matjan Tutul yang dikomandani oleh Kapten Laut (P) Wiratno.

Jos adalah perwira yang keras hati. Ia membawa bendera merah putih untuk ditancapkannya sendiri di bumi Irian, sebagaimana janjinya kepada Bung Karno.

Kolonel Sudarto pun merasa gundah karena gosip perseteruan itu telah menyentuh pribadi Bung Karno. Hal ini diceritakan Sudarto kepada Ben Mboi, yang merupakan dokter AD.

Sudarto sampai marah sambil berkata keras, ”Er was een veraad. Ben Mboi, een hoog niveu veraad!” (Ada pengkhiatan. Ben Mboi, pengkhiatan tingkat tinggi).

Seperti diketahui, KRI Matjan Tutul menjadi korban dalam pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962. Dua KRI lainnya selamat.

Sebelum pertempuran terjadi, Letnan Suprapto melihat Komodor Jos sedang berdoa di kamarnya. Jos sempat bertanya, ”Sudah berdoa malam?”

Beberapa jam kemudian, KRI Matjan Tutul dihujani tembakan membabi buta oleh dua kapal destroyer milik Belanda.

Jos malah mengambil keputusan agar KRI Matjan Tutul menjadi tumbal supaya dua KRI lainnya selamat. Seorang awak yang selamat sempat mengaku melihat Jos memegangi kepalanya yang bercucuran darah dengan handuk. Jos masih sempat memberikan perintah kepada dua KRI lainnya. ”Kobarkan semangat pertempuran. Matjan Tutul tenggelam secara gentleman and brave,” ujar Jos dalam radio komunikasi kepada dua KRI lainnya.

Satu per satu pahlawan ALRI gugur. Di antaranya, Kapten Wiratno, Kapten Memet Sastrawiria, Letnan Dua Tjiptadi, dan Kopral Soetrisno. Semuanya adalah pahlawan dalam pertempuran yang kelak diperingati sebagai Hari Dharma Samudra tersebut.

***

Dengan membaca kepingan sejarah tersebut, sangat mungkin ada konspirasi di balik peristiwa bersejarah itu. Jos adalah salah satu perwira terbaik di ALRI. Ia bersih dan amat membenci korupsi.

Adakah konspirasi ini melibatkan pejabat tinggi sebagaimana kegundahan Kolonel Sudarto?

Sidoarjo, 21 Nov 2012

Bacaan:

Julius Pour: Konspirasi di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul (Penerbit Buku Kompas. 2010)

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 23, 2012, in Sosok. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: