Aim dan Kejutan sang Ayah


Syamsul memberikan kejutan buat Aim dengan menerbitkan tulisan-tulisannya secara diam-diam. (dok. pribadi)

Aim, begitu gadis belia ini akrab disapa. Nama lengkapnya Nuzla Aimmatu Rasyida. Usianya saat ini 16 tahun. Ia bersekolah di SMA Al Falah Surabaya. Sekilas, sulung di antara tiga bersaudara itu sama dengan anak-anak remaja sebayanya. Ceria, energik, dan derai canda menyeringai dunianya.

Namun, ada yang istimewa pada gadis berjilbab ini. Ia punya jiwa leadership yang menonjol. Dan itu terlihat sejak ia duduk di bangku SMP Muhammadiyah 6 Surabaya. ”Di tahun keduanya (kelas X), ia dipercaya teman-temannya untuk memimpin organisasi sekolah, yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah atau OSIS untuk sekolah umum,” ujar Yuyun Sofiawati, wali kelas IX SMP Muhammadiyah 6 Surabaya. 

Tampaknya, bakat kepemimpinan dan pengalaman berorganisasi tersebut membuat Aim semakin terlatih untuk berani mengemukakan pendapat dan gagasannya. Sejak usia yang belia tersebut, ia juga rajin membuat catatan-catatan kecil seputar pengalaman yang didapatkan. Tak terkecuali masa-masa ketika ia menempuh pendidikan di SMP.

Tak jarang, setelah menulis catatan kecilnya, ia menunjukkannya kepada sang ayah. Kepada putri sulungnya tersebut, ayahanda Aim selalu memberikan pujian. Suatu hal yang membuat Aim kian termotivasi untuk rutin menuliskan pengalamannya.

Ayah Aim merupakan salah satu pengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Yakni, Dr Syamsul Shodiq MPd. Pria yang sehari-hari bertugas sebagai ketua jurusan bahasa dan sastra Indonesia FBS Unesa tersebut selalu telaten memperhatikan perkembangan anak-anaknya. Termasuk Aim.

Keterpikatan Aim terhadap dunia menulis ternyata diilhami dari keluarganya. Sang ayah hampir tiap bulan selalu mengajak tiga anaknya ke toko buku. Mereka masing-masing diizinkan membeli dua buah buku yang paling disukai. Bebas memilih.

”Saya memang berkeinginan untuk menggiring anak-anak saya menyukai kegiatan membaca. Salah satu upayanya adalah mengajak mereka pergi ke toko buku dan membeli buku-buku yang mereka idam-idamkan,” ujar Syamsul.

Di toko buku, Aim bisa membaca sekilas sinopsis buku-buku incarannya. Bisa empat sampai lima buku. Ini tentu memberikan keuntungan, yaitu beli dua buku tapi bisa membaca lima buku.

Tak jarang, Aim bingung saat memilih empat buku yang akan dibeli. Ketika sudah merasa mantap, ia pun memilih dua buku yang akan dibawa ke meja kasir. Namun, bapaknya diam-diam tetap membelikan dua buku tadi yang tak jadi dibeli Aim. Begitulah kiat Syamsul mendorong anak-anaknya untuk menggemari aktivitas membaca.

Saat SMP, Aim sudah pernah menerbitkan bukunya dengan inisiatifnya sendiri. Maksudnya, ia mengutarakan keinginannya untuk membuat karya berupa buku kepada ayah dan ibunya. Tentu saja hal itu disambut baik oleh mereka.

Suatu ketika Aim menunjukkan kepada bapaknya tentang tulisan-tulisannya tentang pengalamannya selama duduk di bangku SMP dulu. Syamsul membaca serius, menunjukkan perhatiannya. ”Bagus, bagus sekali, Nak,” ucapnya pendek.

Kini saat duduk di bangku kelas XII SMA Al Falah Surabaya, Aim mendapat kejutan dari sang ayah. Itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Sebanyak 18 tulisannya dikumpulkan ayahnya dan dibukukan. Judulnya Masa Indah SMP.

Di dalamnya Aim salah satunya berbagi cerita tentang pengalamannya mengunjungi tempat-tempat wisata. Hal ini terangkum dalam tulisannya yang berjudul Malang, We Are Coming; At Delegan (Pantai Delegan Gresik, Red); Outbound at Claket; Holiday, dan Road to Jogja. Ia tak lupa menuangkan pengalamannya saat baru pertama masuk SMP di artikel Sekolah Baruku dan Hari Baru di Sekolah Baru.

Ketika tiap kenaikan tingkat, ia juga menggoreskan pena pengalamannya dalam Pecinta Wholu Che (baca: 8-C, Red) dan Super Nine Bhe (kelas 9-B, Red). Saat bulan suci Ramadan, ia juga mencatat kenangannya dalam Ramadhan Ceria dan Ramadhan with Kakak Gontor. Bagaimana dengan suasana di kelas? Aim juga membagikannya dalam tulisan berjudul Ujian Praktik Biologi, Ujian Praktik Seni Budaya, dan Kebersamaan di Musix.

Dengan bahasa yang polos dan gaya bertutur khas remaja, tulisan Aim dalam buku Masa Indah SMP begitu enak dibaca dan disimak. Buku setebal 60 halaman yang diterbitkan Lentera Creation ini juga diberi pengantar dari Suharmono Kasiun, dosen Unesa, serta Eva Dwi Kurniawan, mahasiswa Pascasarjana UGM.

Seorang calon pengarang karya sastra Islami bakal lahir, demikian kata Suharmono. Tentu saja yang dimaksud adalah Aim. Bagaimana reaksi Aim terhadap buku ini? Ia mengaku terkejut, tak menyangka tulisannya dibukukan oleh sang ayah. Hal ini semakin melecut semangat Aim untuk terus berkarya. Memberikan manfaat kepada orang lain dalam bentuk karya tulis. Wow!

Kota Udang, 20 Nov 2012

Eko Prasetyo

https://mustprast.wordpress.com

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 20, 2012, in Sosok. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: