Buku Catatan Penggelitik Jiwa


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Sumber: lmizakat.com

Getok tular kegiatan menulis menyebar begitu cepat. Dahsyat. Hal ini memang harus terus dilakukan dan digaungkan. Indonesia mesti segera mewujudkan masyarakat yang berbudaya membaca dan menulis. Jika ini terealisasi secara baik dan mulus, bukan tidak mungkin bangsa kita mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju.

Di sisi lain, menulis tidak hanya menjadi corong informasi bagi orang lain. Kegiatan tersebut juga bisa menjadi sarana dakwah yang efektif. Hal ini juga pengimplementasian dari kalimat: ”Sampaikan (kebaikan) walau satu ayat.”

***

Suatu sore saya menjemput istri pulang kerja di SDIT Nurul Fikri Sidoarjo. Di sela-sela itu, kebetulan saya berjumpa dengan Syaiful Arifin, ketua Dewan Pengurus Ponpes Ath-Thoyyibah Sidoarjo. Ponpes tersebut mewakafkan tanah yang kini dipakai untuk mendirikan gedung sekolah tersebut. Kebetulan pula istri Ustad Syaiful –demikian saya biasa menyapanya- adalah pengajar Alquran di sana.

Di tengah obrolan, saya menyampaikan kagum atas tulisan-tulisannya yang bernas di majalah Oase. Ustad Syaiful memang rutin mengisi rubrik Goresan Hikmah di majalah milik Lembaga Manajemen Infaq (LMI) tersebut. Di lembaga itu ia duduk sebagai direktur eksekutif.

Saya sampaikan saran pula agar tulisan-tulisannya di rubrik Gorekan Hikmah dibukukan. ”Agar inspirasinya bisa dinikmati lebih banyak pembaca yang mungkin tidak terjangkau majalah Oase,” kata saya saat itu kepada Ustad Syaiful. Ia mengamini. ”Insya Allah,” ucapnya singkat.

Perbincangan singkat kami berakhir setelah salah seorang putra Ustad Syaiful yang bersekolah di SDIT Nurul Fikri sudah keluar kelas untuk pulang. Segera ia berpamitan dan menuju mobilnya. Tak lupa pula ia berjanji untuk merealisasikan harapan menerbitkan catatan-catatan pendeknya di majalah Oase.

Beberapa hari kemudian saya menitipkan buku Apa Yang Berbeda dari Guru Hebat kepada istri saya untuk disampaikan ke Ustad Syaiful melalui istrinya, Ustazah Fathonah. Istri saya kaget karena tak mengira saya mengenal ”orang penting” di sekolahnya tersebut. ”Sudah kasihkan saja. Sampaikan salam hormat saya kepada Pak Syaiful, ya,” ujar saya.

***

Pada 18 Oktober 2012 pagi itu, ada pesan pendek masuk. Rupanya dari Ustad Syaiful. Ia meminta masukan untuk tulisan-tulisannya di majalah Oase. Tak banyak yang saya sampaikan. Hanya saya berharap kepadanya sekali lagi agar tulisan tersebut dibukukan untuk bisa dibaca khalayak.

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Bertepatan dengan Tahun Baru 1434 Hijriyah atau Kamis, 15 November 2012, saya menghadiri gathering di Jambuluwuk, Kota Batu. Keesokan hari (16 November) giliran istri saya yang mengikuti outbound TKIT Nurul Fikri dan SDIT Nurul Fikri di Pacet, Kabupaten Mojokerto.  Acara tersebut diikuti oleh kepala sekolah dua sekolah tersebut serta jajaran guru dan staf. Tak ketinggalan pula tenaga sekuriti dan cleaning service yang ikut serta.

Jumat pagi itu, istri saya mengirimkan pesan pendek. ”Mas, ada hadiah dari Ustad Syaiful,” singkatnya. Saya penasaran. Setiba di rumah, istri saya memberikan sebuah buku mungil. Tertera nama Syaiful Arifin di sampulnya. Sungguh saya sangat senang menerima.

Rupanya, saat kegiatan di Pacet tersebut, Ustad Syaiful membagi-bagikan bukunya secara gratis kepada seluruh guru dan staf Nurul Fikri. Buku yang berjudul Catatan Penggelitik Jiwa ini diterbitkan oleh JP Books Surabaya.

Guru besar IAIN Sunan Ampel Prof Dr Roem Rowie MA dan Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) H M. Sholeh Lc turut memberikan ucapan selamat atas terbitnya buku itu. ”Beliau mampu menghadirkan ‘suasana bersama Rasulullah SAW’ dengan kisah-kisah yang beliau tulis,” ujar Sholeh dalam endorsement-nya yang dicuplik di sampul belakang buku tersebut.

Wartawan senior Zainal Arifin Emka turut berbagi kebanggaan atas terbitnya Catatan Penggelitik Jiwa.

”Setiap buku punya keunikan. Kalau bukan pesannya, pastilah pada cara penuturannya. Cara bertutur Pak Syaiful ini unik karena berangkat dari realitas. Ia mengingatkan kita tentang bagaimana menyikapi hidup dengan becermin pada kehidupan para nabi dan sahabatnya. Penulis seolah ingin mengatakan: nabi hidup di zaman tema, kita hidup di zaman versi! Berbagai versi itu ada di buku ini,” tulis mantan redaktur di surat kabar legendaris Surabaya Post tersebut.

Segera saya mengirimkan ucapan selamat pula kepada Ustad Syaiful. Saya menyatakan rasa bangga dan bahagia dengan terwujudnya keinginan untuk menerbitkan buku tersebut.

Hari ini secara kebetulan pula ada kabar gembira lain yang saya baca dari tulisan Sirikit Syah di milis alumni IKIP Surabaya. Itu terkait tentang terbitnya buku Kelasku, Laboratorium Kehidupan yang ditulis salah seorang pengajar Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya. Tidak sembarang buku. Karya ini merupakan hasil refleksi dan pengalaman mengajar langsung dari sang guru, yaitu Ustazah Hamdiyah Rochmah.

Saya sampaikan kabar gembira tersebut kepada istri saya. Harapannya, ia ikut terlecut untuk mau membagikan inspirasi-inspirasi yang diperolehnya selama mengajar kepada orang lain. Niatnya tetap satu: menyampaikan (dakwah/kebaikan) walau satu ayat.

The Taman Dayu, 18 November 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 18, 2012, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: