Toko Buku Kita Kurang Bersahabat


Gambar: ridhoadhie.wordpress.com

Dulu saya sering berkunjung ke Mizan Corner cabang Surabaya di Jalan Karah, persis di depan kantor JP Books (kantor lawas Jawa Pos sebelum pindah ke Graha Pena). Kebetulan, saya punya kawan yang bekerja di bagian logistik Mizan Surabaya sebelum ia dipindahtugaskan ke Jakarta pada 2011. Dari dia, saya dapat info misalnya tentang bazar buku murah terbitan Mizan.

Yang saya serbu tentu saja buku-buku obral dari salah satu penerbit besar tersebut. Harganya sangat ramah kantong, mulai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Jika di rumah banyak stok buku yang menumpuk, terutama buku anak, saya mengepaknya dalam satu kardus untuk disumbangkan ke beberapa sekolah dasar.

Berburu buku-buku bekas yang murah meriah itu juga saya lakukan saat JP Books (lini penerbitan di bawah Jawa Pos Group) mengadakan cuci gudang. Biasanya saya memburu novel-novel dan buku umum yang mungkin sudah tidak dicetak lagi. Harganya juga variatif, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu.

Saya juga mengoleksi komik-komik grafis terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), baik seri tokoh dunia maupun sejarah. Kebanyakan saya beli dalam kondisi bekas di Kampung Ilmu, pasar buku bekas terbesar di Surabaya. Letaknya tak jauh dari Stasiun Pasar Turi.

Yang menyenangkan, beberapa koleksi saya ternyata juga digemari anak-anak di kompleks perumahan kami. Mereka meminjamnya, kemudian mengaku suka. Dari situlah, saya setidaknya membangun budaya literasi di kalangan anak-anak dan remaja tersebut. Rasanya, jika ada cita-cita yang begitu ingin saya wujudkan saat ini, itu adalah keinginan untuk membuat taman baca di rumah. Setidaknya ada area khusus seluas satu kamar yang bisa saya manfaatkan sebagai perpustakaan mini tersebut. Semoga saja bisa terealisasi.

Senang rasanya melihat antusiasme anak-anak dalam membaca buku dan komik di tempat kerja saya di rumah. Kadang salah satu di antaranya bercerita setelah habis melahap satu komik yang ia baca. Terjadilah diskusi. Menyenangkan.

Minat dan budaya membaca memang harus ditanamkan sejak dini. Apalagi, saat ini pemerintah dan berbagai elemen terkait gencar mengajak masyarakat untuk giat membaca. Tentu diperlukan kerja sama dan peran serta dari berbagai pihak.

Sayangnya, saat ini saya melihat dukungan itu belum diberikan secara maksimal, terutama oleh toko buku. Banyak buku yang dibungkus plastik, tak bisa dilihat daftar isi atau minimal biografi penulisnya. Sehingga ketika ada buku baru, seorang pengunjung tidak tahu apakah isinya bagus atau tidak berdasar penilaiannya.

Hal ini juga terjadi pada buku-buku anak. Di beberapa toko buku, kebanyakan buku cerita anak diplastiki erat-erat. Akibatnya, anak tak bisa membaca isinya walau sekilas. Padahal, anak adalah salah satu pembeli potensial.

Tindakan toko buku tersebut wajar-wajar saja, mungkin mereka tak ingin bukunya rusak atau lecek setelah dibaca pengunjung. Namun, setidaknya toko buku perlu memberikan satu buku saja yang bisa dibaca. Tujuannya, pengunjung yang ingin membeli bisa tahu isinya. Jika dinilai menarik, toh buku itu akan dibeli.

Paling tidak, jangan sampai sikap ”hati-hati” toko buku tersebut malah mengundang sikap sinis dari calon pembeli. Sudah saatnya toko buku selalu bersahabat kepada pembaca atau calon pembeli.

Sidoarjo, 9 November 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 9, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: