Menggebrak Sintang


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Penulis (kiri) bersama seorang pembaca dalam bedah buku Apa Yang Berbeda dari Guru Hebat di Solo pada 7 Oktober 2012. (dok. pribadi)

Sudah sedemikian ”parahkah” potret pendidikan di Indonesia? Topik inilah yang saya tangkap dalam beberapa diskusi hangat di mailing list Ikatan Guru Indonesia (IGI). Di antaranya, tema yang menyoroti perkembangan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), dinamika ujian nasional, sampai masalah bentrok antarwarga di Lampung Selatan.

Tak kurang, Direktur Program Pendidikan Pertamina Foundation Ahmad Rizali sampai menyatakan penat dengan problem-problem tersebut. ”Saya tidak tahu sebabnya. Beberapa bulan ini saya merasa sangat penat, enggan membaca, menonton, dan berkomentar tentang praktik kebijakan pemerintah. Terutama urusan pendidikan. Saya sudah nyaris apatis,” ujarnya.

Selama ini ia memang getol menyuarakan penolakan terhadap RSBI dan unas bersama koleganya di IGI, Satria Dharma. Ahmad mempertanyakan peran dan tanggung jawab Kemendikbud.

”Tingkat keapatisan saya memuncak ketika usai berkunjung ke Malaysia dan menyaksikan puluhan ribu generasi masa depan mengidap buta huruf karena tidak tersentuh pendidikan di ladang sawit yang luas itu. Ditambah lagi ribuan anak gelandangan di kantung urban miskin di Jakarta yang tidak boleh sekolah karena tidak punya akta kelahiran,” keluhnya.

Sebuah sikap meradang yang beralasan. Memajukan pendidikan di Indonesia memang sebuah pekerjaan rumah yang begitu berat. Namun, belum ada kata terlambat. Bara semangat untuk ikut berperan dalam dunia pendidikan di Indonesia tidak boleh padam.

Hal inilah yang akan saya bawa dalam seminar pendidikan di Sintang, Kalimantan Barat, pada 27 November nanti. Acara tersebut diselenggarakan oleh Penerbit Erlangga. Pembicaranya tidak hanya saya, ada pula Ketua IGI Samarinda Joko Wahyono.

Bukan tanpa alasan Erlangga mengundang kami berdua ke kabupaten terbesar kedua di Provinsi Kalimantan Barat setelah Ketapang itu. Sebab, ada dua buku yang akan menjadi topik dalam kegiatan tersebut. Yakni, Apa Yang Berbeda dari Guru Hebat dan Cara Ampuh Merebut Hati Murid. Nah, saya dan Pak Joko adalah penulis dua buku tersebut.

Saya juga membawa misi pendidikan seperti diutarakan oleh Direktur SEAMOLEC Gatot Hari Priowirjanto, yakni mengajak anak-anak bangsa ini belajar dan berpikir kritis terhadap semua hal di lingkungannya serta mencari solusinya. Secara khusus, hal ini sudah saya tulis dalam buku Apa Yang Berbeda dari Guru Hebat. Itu terdapat pada ulasan sosok Setyo Purnomo, guru yang menjadi salah satu pencetus Kendal Goes Open Source (KGOS) yang kini mengajar di Balikpapan. Dia menanamkan sesuatu yang ”tidak lazim” di dalam kelas dengan metode yang ia sebut: Kritiklah aku, gurumu.

Betul! Sudah saatnya kita melatih anak-anak didik atau generasi penerus ini untuk berani mengemukakan pendapat dan kritis dalam porsi yang positif. Jangan lagi kita sebagai guru hanya menanamkan pemahaman bahwa murid itu harus datang, duduk, dan diam (3D). Masih ada kesempatan untuk membenahi karut-marut di dunia pendidikan tanah air. Dan ini bisa kita mulai dari diri kita sendiri terhadap lingkungan sekitar. Sedikit sumbangsih yang kita berikan lebih berarti daripada tidak berkontribusi sama sekali.

Sampai jumpa di Sintang!

Graha Pena, 7 November 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 7, 2012, in Edukasi and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: