Dia Lebih Banyak Diam


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Senin pagi, 5 November 2012, saya berjanji bertemu dengan Waka Kesiswaan SMAN 5 Surabaya Karyanto. Termasuk Kasek Sri Widiati. Keperluan saya adalah membahas rencana peluncuran buku Golden Generation dalam perayaan dies natalis SMAN 5 Surabaya pada Desember mendatang.

Saya datang tepat pukul 09.00. Di ruang tamu, saya lihat Bu Widi sedang diwawancarai wartawan tabloid Nyata. Tak disangka, tak berapa lama datang Kepala Dispendik Jatim Harun beserta beberapa stafnya. Terlihat pula beberapa awak media.

Rupanya, pagi itu ada rencana kunjungan anggota Komisi X DPR ke beberapa sekolah RSBI di Surabaya. SMA Kompleks yang terdiri atas SMAN 1, 2, 5, dan 9 termasuk yang dikunjungi. Sungguh ini di luar agenda saya. Namun, saya bersyukur karena adanya kunjungan kerja tersebut.

Di rombongan komisi X, tampak beberapa wajah yang familier. Yakni, Dedi “Miing” Gumilar, Vena Melinda, dan Eko Patrio. Wajar, mereka sebelumnya dikenal sebagai selebriti. Rombongan tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi X Agus Hermanto. Mereka datang dengan menumpang bus dan berhenti tepat di depan gerbang SMAN 5 Surabaya.

Di dalam rombongan, terlihat pula seorang anggota DPR perempuan. Usianya sudah paro baya. Saya taksir, usianya sekitar 50 tahunan. Kendati demikian, ia sangat fashionable. Rambutnya disemir merah, dipotong pendek ala Demy More. Roknya selutut, make up-nya sedikit tebal.

Mereka menyempatkan mengunjungi beberapa kelas, hasil karya siswa, ruang guru, dan perpustakaan. Miing dikerubuti wartawan yang ingin mewawancarainya seputar kegiatan pagi itu. Juga Agus. Dari Miing, saya sempat mendengar bahwa ia kaget mendengar RSBI di Surabaya gratis. Dari perkataannya, saya bisa menyimpulkan bahwa dia mendukung RSBI yang saat ini tengah disorot masyarakat.

Di tengah-tengah kunjungan pagi itu, ada hal lain yang mencuri perhatian saya. Yakni, Eko Patrio. Dengan mengenakan batik lengan panjang yang lengannya diwingkis, ia tampak pasif sekali. Tak banyak komentar. Hanya sesekali menerima ajakan berfoto dari beberapa guru. Selebihnya ia duduk, melihat-lihat, tanpa ekspresi, tanpa mau bertanya seputar aktivitas komisinya.

Saya sempat mendekatinya dan mencoba menanyakan tujuan kunjungannya pagi itu. Ia tersenyum dan menjawab bagus. Singkat. Melihat begitu pasifnya, termasuk beberapa anggota lain, saya tidak yakin mereka bisa diajak berdiskusi masalah pendidikan, terutama RSBI yang menjadi topik sidak saat itu.

Dia lebih banyak diam. Tak ekspresif. Tak terlihat antusiasme untuk membahas masalah RSBI yang menjadi tujuan utama dalam kunjungan komisi X.

Seorang wanita baya yang bersanggul, entah dari fraksi apa, malah mengomentari masalah tanaman gelombang cinta. ”Ah, kasian banget nih tanaman kok ditaruh di sini,” ujarnya. Nggak penting banget. Sebayanya yang fashionable tadi tidak berkomentar. Lebih banyak diam, melihat-lihat sekitar, mengikuti ke mana langkah kaki pimpinannya melaju.

Saya jadi kehilangan selera untuk mengorek banyak cerita dari mereka.

Graha Pena, 8 Nov 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 7, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: