Bersekolah untuk Apa?


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Sumber gambar: cahpo.wordpress.com

Sastrawan asal Surabaya Suparto Brata bicara blak-blakan soal pendidikan di Indonesia dalam buku Ubah Takdir lewat Baca dan Tulis Buku (Litera Media Center, 2011). Bahkan, ia menceritakan pengalamannya ketika duduk di bangku kelas 3 Sekolah Angka Loro di Sragen pada 1940.

”Ketika itu kami sudah diajari membaca buku bahasa Melayu. Kami membacanya dengan tekun dan berulang-ulang sehingga kami akhirnya fasih berbicara maupun menulis dalam bahasa Melayu,” kata Suparto (hal. 12).

Dia menambahkan, dewasa itu tiada hari tanpa membaca bagi setiap murid. Salah satu buku bahasa Melayu yang menjadi bacaan wajib di kelas 3 Sekolah Angka Loro di Sragen pada 1940 adalah Matahari Terbit jilid I. Berikut salah satu cuplikan di buku Matahari Terbit (sesuai teks aslinya tanpa saya edit).

Kitab jang baharoe.

Kemarin kami disekolah. Djam ketiga kami akan membatja. Tetapi kitab batjaan  tak ada. Kitab jang lama soedah tammat. Dipapan toelisan poen tak poela ada batjaan. Kami amat heran. Kami memandang kepada goeroe. Ia menoenggoe sampai kami diam sekaliannja.

Soedah itoe ia pergi kelemari. Apa jang dikeloearkannja dari dalam lemari itoe? Kitab jang baharoe sesoesoen. Kitab itoe dibagi-bagi-kannja. Seboeah seorang anak. Kitab itoe bagoes roepanja. Kami letakkan kitab itoe dibangkoe dimoeka kami.

Kemoedian goeroe berkata: “Kamoe sekarang soedah menerima kitab. Gambarnja banjak benar. Nanti kamoe dapat lihat semoeanja. Kitab ini amat mahal harganja. Djangan kamoe kotorkan! Batja-batja-lah selaloe kitab ini! Nistjaja kamoe lekas pandai. Siapa ingin pandai?”

Sekalian moerid menoendjoek sambil berkata: “Saja, sja, engkoe.”

Suparto bercerita, karena sering membaca berulang-ulang itulah, dia fasih dalam bicara maupun menulis bahasa Melayu. ”Kami tidak jemu atau kesal. Sebab, susunan kalimatnya begitu sederhana dan ceritanya sesuai dengan umur-umur pengetahuan kami,” tegasnya.

Dia menambahkan, ”Hanya dengan kebiasaan membaca buku, membaca cerita (sastra), kami bisa bertabiat berbahasa Melayu dengan baik dan benar. Dan kian membaca banyak buku, kian banyak kata-kata yang sendirinya kami ketahui artinya.”

Di kelasnya, Suparto dan teman-temannya kala itu menyapa guru mereka dengan sebutan ”Engku” yang bermakna guru. Sebuah kata yang berasal dari bahasa Melayu.

Di Sragen pada 1940, Suparto mengaku dirinya tidak berbahasa Melayu. Namun, ia mengerti dan memahami bahasa Melayu dengan amat baik. Semua itu diperoleh dari pengetahuan membaca buku.

Terakhir, ia menyentil secara telak kondisi pendidikan saat ini. Begitu mirisnya kebiasaan membaca di kalangan generasi muda sekarang, Suparto sampai bertanya: ”Bersekolah untuk apa?”

Di masa lalunya, bersekolah sudah pasti memiliki tujuan agar terbiasa membaca (buku) dan menulis (buku). Tak heran jika generasi Suparto Brata dikenal sebagai generasi yang melahirkan banyak tokoh, pemimpin, dan sastrawan. Salah satunya: dia sendiri.

Graha Pena, 7 November 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 7, 2012, in budaya, Edukasi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: