Golden Generation


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Golden Generation (Dok pribadi)

Dalam rentang antara Agustus hingga Oktober ini, saya harus berkejar-kejaran dengan deadline empat buku sekaligus. Salah satunya adalah Golden Generation, yakni kumpulan tulisan pilihan karya siswa SMA Negeri 5 Surabaya.

Selama kurang lebih tiga minggu pada Agustus lalu yang bertepatan dengan suasana Ramadan, sekolah tersebut mengadakan lomba menulis. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukung program gerakan literasi sekolah. Selama kurun waktu itu, terkumpul total 333 tulisan dalam tiga kategori, yakni cerpen, puisi, dan esai.

Kepala SMAN 5 Surabaya Siri Widiati menegaskan bahwa program literasi ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan budaya membaca di kalangan siswanya. Kemudian, mereka diharapkan bisa mengasah keterampilan menulis serta menuangkan ide dan pengalaman dari apa yang sudah dibaca ke dalam bentuk tulisan. Waka Bidang Kesiswaan SMAN 5 Surabaya Karyanto mengatakan, dalam tempo kurang dari dua bulan, total siswa telah membaca 1.851 buku. Luar biasa!

Dalam lomba menulis yang bertepatan dengan peringatan HUT Ke-67 RI, panita menentukan tema Menuju Indonesia Emas dalam tiga kategori tadi. Antusiasme siswa amat baik. Tiap-tiap kelas mengajukan wakil-wakil terbaiknya untuk mengikuti lomba tersebut.

Setelah berkoordinasi dengan Bu Widi (sapaan Kepala SMAN 5 Surabaya Sri Widiati, Red) dan Pak Karyanto, saya menghubungi Dr Syamsul Sodiq MPd, kepala Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unesa. Sebab, juri yang akan ditunjuk adalah dosen FBS Unesa. Pak Syamsul kemudian menunjuk Drs Jack Parmin MHum dan Drs M. Najid MHum sebagai tim juri untuk lomba tersebut. Surat tembusan pun dibuat SMAN 5 kepada dekan FBS Unesa.

Komentar positif dilontarkan oleh Pak Jack dan Pak Najid terhadap potensi menulis para siswa SMAN 5. ”Diksi mereka bagus dan kuat,” kata Pak Jack. Tak lupa, ia berpesan bahwa keterampilan siswa dalam menulis harus terus diasah agar lebih baik.

Dua minggu berlalu, akhirnya terpilih kurang lebih 27 tulisan. Kali ini adalah giliran saya ”memoles” karya-karya tersebut agar lebih enak dibaca dan mudah dipahami. Karena momennya pas (Oktober adalah bulannya pemuda), saya memilih judul Golden Generation. Tugas belum rampung. Saya harus menghubungi beberapa tokoh pendidikan. Di antaranya, Pembantu Rektor I Unesa Prof Dr Kisyani MHum yang kini masih menunaikan ibadah haji di Makkah. Beliau sudah menyanggupi sepulang dari Tanah Suci.

Selanjutnya adalah pakar komunikasi Sirikit Syah, yang juga alumnus SMAN 5 Surabaya. Selain itu, ada Ketua SM-3T Unesa Prof Dr Luthfiyah Nurlaela MPd. Saya juga masih menunggu endorsement dari penulis terkenal seperti Hernowo (Mizan) dan Wijaya Kusumah. Sementara Pak Karyanto berjanji memintakan endorsement kepada beberapa tokoh lain.

Selanjutnya adalah menghubungi partner saya di bidang artistik buku, Abdur Rohman. Kami sudah terlibat dalam beberapa proyek buku, termasuk buku terbaru saya, Rumah Kartu (September 2012). Saya lantas mengutarakan konsep dan visi untuk buku Golden Generation. Rohman langsung mengiyakan. Kami bekerja secara maraton karena masing-masing sebenarnya juga harus bertugas di kantor tempat kami bekerja. Hasilnya, buku ini siap diluncurkan pada perayaan puncak dies natalis SMAN 5 Surabaya yang rencananya dihelat pada Desember mendatang.

Dalam buku ini, ada satu tulisan yang mencuri perhatian saya. Judulnya Merajut Cita-Cita karya Dzikri Sabilillah Anwar dari kelas XII IPS. Di situ ia menggambarkan harapan dan keinginan seorang siswa untuk menjadi guru. Dalam sebuah paragraf terakhirnya, ia menyelipkan pesan yang bagus. Berikut cuplikannya.

Bagiku menjadi guru itu pilihan. Menjadi guru itu mulia. Menjadi guru itu wajar. Pilihanku untuk menjadi guru bukanlah maksud untuk menolak kemapanan atau melepaskan peluang karir lain yang mungkin sanggup untuk aku jalani. Bukan sebuah pengorbanan, melainkan kehormatan. Kehormatan untuk melunasi sebuah janji kemerdekaan: Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Saya berharap, kehadiran buku ini mampu melecut semangat para siswa untuk berkarya lagi dan lebih baik lagi. Juga memotivasi para pelajar lainnya di seluruh Indonesia. Tentunya, semua rangkaian kegiatan dari program literasi ini diharapkan bisa menjadi bekal bagi mereka yang mungkin akan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Dengan membiasakan diri membaca dan menulis, mereka turut membangun sebuah peradaban bangsa. Tantangan ke depan tentu akan semakin berat dan kompleks. Nah, di tangan golden generation inilah kemajuan Indonesia dipercayakan. Bekal ini salah satunya menjadi isyarat bahwa mereka siap menjawab tantangan tersebut. Pasti!

Graha Pena, 25 Oktober 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 24, 2012, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: