Menyembelih Kekikiran


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Sebagai pengurus RT setempat, aku kebagian ditunjuk sebagai salah satu panitia kurban. Pada Lebaran Haji atau Idul Adha tahun ini, kampung kami sudah mengumpulkan satu ekor sapi dan beberapa ekor kambing dari para donatur. Untuk satu ekor kambing, harganya Rp 1,3 juta. Untuk sapi, patungannya Rp 1,5 juta per orang, maksimal tujuh warga.

Dalam suatu kesempatan, aku dihampiri Pak Yono, salah satu warga. Ia mengutarakan niatnya untuk ikut patungan sapi. Aku menyambutnya ramah. Di sela obrolan, ia sempat bercerita soal kegalauan yang dia alami sebelumnya.

”Jujur Mas, saya merasa seolah-olah dibisiki setan terus-menerus,” ungkapnya.

”Hah? Kok bisa merasa begitu, Pak?” tanyaku penuh selidik.

Ia mengaku nyaris memilih untuk kurban kambing saja. Alasannya, lebih murah daripada harus patungan sapi. Padahal, ia sudah menyiapkan dana untuk patungan sapi. Dan niat ini telah ia canangkan sejak jauh-jauh hari sebelumnya.

Eh, ndilalah pas hari H menjelang dekat Idul Kurban, niatnya sempat goyah. Ia berpikir eman (sayang) bila harus berkurban dengan patungan sapi. Dengan hanya kurban kambing, tentu saja ada sisa uang Rp 200 ribu dari dana kurban patungan sapi yang bisa dipakai untuk keperluan lain.

Pikiran itu terus menghantuinya. Hatinya bergolak. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali pada niat awalnya, yakni patungan sapi untuk kurban. Kesadaran ini membuatnya lega.

Aku betul-betul bangga dengan beliau. Sebab, pada dasarnya, hakikat kurban membawa pelajaran penting tentang keikhlasan. Sebagaimana hal itu telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as saat diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail as.

Panjenengan (Anda, Red) sudah mendapat hikmah lain dari berkurban, Pak. Yakni, menyembelih sifat kikir,” ucapku kepada Pak Yono.

Yang jelas, lanjutku, ibadah kurban ini semata-mata dilakukan karena mencari ridha Allah semata, bukan karena ingin riya (menampakkan kelebihan/kebaikan pada orang lain agar menuai pujian).

Sekilas mungkin kisah tersebut amat sepele. Namun, dalam hati aku yakin akan sangat berat jika mengalaminya. Yakni, apabila kita kelebihan rezeki, belum tentu kita akan ringan untuk mengeluarkannya dengan mudah. Pasti hal tersebut diiringi oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu yang bersifat duniawi.

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur mendapat pelajaran lain dari pengalaman kurban ini. Aku sadar bahwa sudah semestinya manusia memberikan kurban yang terbaik untuk Allah SWT tanpa harus diiringi pertimbangan yang bisa menghambat niat kurban tersebut.

Rezeki kita adalah pemberian-Nya. Maka, tak pantas kiranya jika kita merasa berat untuk mengeluarkan sedikit rezeki itu untuk mencari keridhaan-Nya.

Wallahu ‘alam bishshawab.

Sidoarjo, 22 Oktober 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 21, 2012, in Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: