Simpati untuk Letkol Robert


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Gambar saat pesawat tempur Hawk 200 milik TNI-AU jatuh di Pekanbaru. (Sumber: antarafoto.com)

Selasa pagi yang cerah, 16 Oktober 2012, Kompleks Perumahan Pandau Permai di Kabupaten Kampar, Pekanbaru, mendadak geger. Penyebabnya, pesawat tempur Hawk 200 dari Skadron Udara 12 Lanud Rusmin Nurjadin, Pekanbaru, jatuh di permukiman warga tersebut.

Sang pilot, Letda Pnd Reza Y. Prasetyo, lulusan AAU 2009, selamat setelah menggunakan ejection seat. Pagi itu ia tengah melakukan misi latihan rutin profesiensi. Setelah terbang sekitar 49 menit sejak take-off pukul 08.56 WIB, pesawat hendak mendarat di runway 36. Namun, petaka keburu datang. Pesawat tempur buatan Inggris itu mengalami total lost. Nyungsep, lalu terbakar hebat.

Namun, cerita belum usai sampai di situ. Insiden jatuhnya Hawk 200 tersebut mengundang perhatian warga dan korps pewarta. Beberapa warga sekitar dan jurnalis berbagai media berusaha mengabadikan kejadian itu. Namun, hal ini membuat beberapa anggota TNI-AU berang. Salah satunya, Letkol Udara Robert Adam Simanjutak.

Gambar saat Letkol Robert mencekik Didik Herwanto, wartawan Riau Pos. (Sumber: medanbisnisdaily.com)

Saat melihat wartawan foto Riau Pos Didik Herwanto, sang perwira menengah tersebut bergegas menghampiri. Raut wajah Robert tampak tak senang. Ia terekam menendang Didik sebelum mencekik lehernya. Belum tuntas, Didik juga diberi bogem mentah. Sejurus kemudian, Robert menyuruh seorang anggota AU berseragam oranye untuk merampas kamera Didik.

Sebenarnya, korban kekerasan pada hari itu tidak hanya Didik. Kamerawan RTV Fakhry Rubiyanto (Robby), wartawan Antara Ryan Anggoro, wartawan TV One; dan dua warga sipil mendapat perlakuan keras dari oknum TNI-AU di lokasi jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Desa Pasir Putih, Kampar. Berdasar rekaman TV, pelakunya adalah Robert dan beberapa anggota Batalyon 462 Pasukan Khas (Paskhas) TNI-AU. Sontak, tindakan ini menuai kecaman keras dari para jurnalis seantero Indonesia. Termasuk masyarakat.

Demonstrasi yang memprotes tindakan arogan oknum TNI-AU itu merebak di mana-mana. Mulai Jakarta, Bandung, Garut, Surabaya, Jambi, Makassar, Malang, dan daerah-daerah lain. Mereka meminta anggota TNI-AU tersebu diproses secara hukum.

Letkol Udara Robert Adam Simanjutak. (Sumber: Kompasiana)

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono langsung merespons. Ia meminta maaf atas tindakan anak buahnya tersebut. Ia menyatakan telah menginstruksi KSAU Marsekal TNI Imam Supaat untuk mengusut dan menindaklanjuti kasus itu. Di sisi lain, sebelumnya Imam terkesan membela sang anak buah. Kepada media, Imam menjelaskan bahwa tindakan Robert tersebut dipicu oleh kekhawatiran pesawat bisa meledak dan membahayakan keselamatan warga serta alasan faktor kerahasiaan elemen pesawat tempur.

Robert sendiri adalah kepala divisi personel Lanud Rusmin Nurjadin. Atas tindakan aniaya yang diperbuatnya, Robert langsung meminta maaf kepada Didik, para jurnalis, dan masyarakat. Memang, sebagai perwira TNI yang menjunjung tinggi sapta marga, tidak seharusnya Robert bertindak arogan dengan menganiaya wartawan. Apalagi, sejak masa reformasi, TNI terus berbenah dan berupaya kian mendekatkan diri dengan masyarakat yang dimulai pada zaman mantan Kapuspen TNI Mayjen Syafrie Syamsuddin.

Robert terancam sanksi. Berdasar keterangan Kapuspen TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul menyampaikan kemungkinan sanksi mutasi untuk Robert. Hal ini dibenarkan oleh Pangko Ops Wilayah I Marsekal Muda Bagus Puru Hito. Namun, Bagus buru-buru menjelaskan bahwa Robert melakukan tindakan tersebut karena mengira pilot pesawat tempur Hawk 200 yang jatuh itu sudah tewas.

“Jadi, kata dia, saat melihat wartawan akan memfoto, kok kesannya tega banget. Orang jadi korban kok malah mau difoto-foto. Robert mengira pilotnya tidak selamat. Inilah alasan dia,” papar Bagus kepada para wartawan (Detiknews.com, 17/10).

Robert Simanjutak dan Didik Herwanto sepakat berdamai. (Sumber: Detik.com)

Di sisi lain, Robert juga terancam mengalami penundaan kenaikan pangkat dan sanksi administrasi lainnya. Namun, hal itu tetap tak menyurutkan protes dari kalangan jurnalis yang menuntut agar Letkol Robert Simanjutak dipecat.

Dari sudut lain, saya justru terpantik bersimpati pada Robert di saat rekan-rekan sejawat dari korps pers terus mengecamnya. Memang, tindakan Robert tidak bisa dibenarkan karena dinilai melanggar kebebasan pers. Apalagi, dia melakukan tindakan tak terpuji dengan menganiaya wartawan.

Namun, Robert sudah menyatakan permintaan maafnya secara terbuka. Bahkan, ia dan Didik Herwanto sudah bersepakat untuk berdamai. Keduanya juga telah diabadikan dalam foto bersalaman pada jumpa pers. Alasan Robert yang bertindak arogan karena dugaan bahwa pilot tewas agaknya masuk akal. Ia mengaku panik dan merasa marah karena ada orang yang berniat memfoto pesawat jatuh dengan perkiraan pilot sudah meninggal di lokasi.

Alasannya kemanusiaan. Bukankah ini bisa diterima? Lagi pula, meski sudah berdamai dengan Didik, proses hukum terhadap Robert tetap berjalan. Ia terancam sanksi sesuai aturan yang berlaku di TNI, tempatnya mengabdi. Itu mungkin sudah cukup untuk menjadi peringatan dan hikmah buat Robert. So, kalau Didik Herwanto sudah bersedia memberi maaf, seyogianya rekan-rekan pers dan masyarakat pun bisa melakukannya. Toh, Robert tetap manusia biasa.

Graha Pena, 19 Oktober 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 19, 2012, in Catatan Harian, Jurnalistik and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: