Caping Gunung


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Caping Gunung karya Gesang penuh dengan pesan moral. (Sumber: keroncong.web.id)

Dalam kendaraan yang membawaku menikmati panoramana indah sepanjang Semarang hingga Jogjakarta, aku menyetel musik langgam Jawa. Suara merdu Waljinah menemani perjalananku. Menenangkan.

Dan tibalah lagu kesukaanku, Caping Gunung. Istriku yang duduk di sebelahku memuji lantunan tersebut. Kami pun sama-sama larut menyimak lirik demi liriknya. Ditambah hamparan pemandangan hijau di sepanjang jalan, ati adem tenan rasanya.

Javanese culture is one of the most beautiful in the archipelago…” ujarku.

Kepada istriku, aku lantas berbagi cerita tentang Caping Gunung yang ditulis oleh mendiang maestro Gesang pada 1973 itu. Lagu ini menurutku indah sekali. Filosofi di baliknya juga sangat bagus.

Caping Gunung berkisah tentang perjuangan orang tua dalam membesarkan anaknya.Tidak mudah. Ketika dewasa dan telah menuai keberhasilan dalam karir, si anak melupakan orang tuanya. Itu terlihat pada bait berikut:

Keturutan sing digadang

mbiyen ninggal janji

ning saiki opo lali?

(tercapai harapan dan cita-citanya

dulu pernah berjanji

apakah sekarang sudah lupa?)

Kiranya benarlah sebuah pepatah yang menyebut bahwa kasih ibu (orang tua) itu sepanjang zaman, sedangkan kasih sayang anak hanya sepenggal galah. Di masa tuanya, ada suatu kekhawatiran bagi sebagian orang tua. Yakni, apakah anak mereka mau merawat secara tulus?

Ada sebuah keluarga besar. Para kakak dan adik saling berdebat soal siapa yang harus merawat orang tua mereka. Masing-masing berargumen keberatan karena alasan sibuk, menjaga anak, bekerja, dan lain-lain. Akhirnya, ada usul agar si orang tua yang sudah sangat sepuh itu dititipkan ke panti jompo saja supaya tidak merepotkan. Cinta anak ternyata betul-betul hanya sepenggal galah.

Caping Gunung seolah membawa rambu peringatan bagi siapa pun. Di balik lirik dan iramanya yang indah, terkemas pesan moral bahwa orang tua mesti bisa mendidik anak sebaik-baiknya. Menjadi cahaya lilin bagi mereka agar tidak terpeleset dalam kegelapan.

Anak memang titipan Tuhan. Namun, anak juga bisa menjadi cerminan orang tua pada masa lalu. Perilaku anak tak bisa dilepaskan dari tabiat dan didikan orang tuanya. Maka, sudah seharusnya orang tua bisa mengarahkan mereka ke jalan yang benar, jalan yang menjauhkan mereka dari segala mara bahaya.

Siapa pun bisa terpeleset. Kecuali dua hal: eling lan waspada, seperti dikatakan oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Kalatida. Benang inilah yang diramu dengan apik oleh Gesang dalam Caping Gunung.

Graha Pena, 15 Oktober 2012

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 15, 2012, in budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: