Ketika Panglima Ditilang


 

Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Salah satu adikku memilih dunia militer sebagai profesinya. Sebagai kakak, tentu aku berupaya untuk selalu mengingatkannya pada tindakan dan moral yang baik. Apalagi, dia seorang perwira.

Jujur, aku kadang agak jengkel jika melihat tentara yang naik bus umum dan tidak bayar. Ini tidak hanya sekali atau dua kali aku saksikan.

Seorang kawanku di redaksi bahkan pernah mengalami pengalaman tak menyenangkan dengan anggota TNI. Suatu ketika, spion mobilnya menyenggol sepeda motor milik seorang serdadu AL. Kawanku didamprat dan kaca spionnya dipecahkan. Padahal, versi kawanku, tentara itulah yang salah karena melanggar markah.

Lantaran kesal, temanku tadi menulis keluhan di Surat Pembaca Jawa Pos dengan judul Preman Baju Doreng. Karena itu, aku merasa berkewajiban mengingatkan adikku untuk menjadi serdadu yang rendah hati dan tidak arogan apa pun pangkat dan jabatannya.

Dalam suatu diskusi keluarga, aku menceritakan kembali nilai-nilai moral dan sikap ksatria yang harus dimiliki seorang prajurit. Aku menuturkan kisah Kolonel Bambang Sugeng, KSAD periode 1952–1955.  

Pasca insiden 17 Oktober 1952, Kolonel A.H. Nasution dicopot sebagai KSAD. Sebagai penggantinya, Presiden Soekarno menunjuk Bambang Sugeng.

Tidak banyak yang tahu bahwa Serangan Umum 1 Maret 1949 terjadi atas perintah Bambang Sugeng yang saat itu menjadi panglima Divisi I. Ia membawahkan komando daerah Kedu, Jogjakarta, dan sebagian Banyumas.

Buku Panglima Bambang Sugeng. (Sumber: belbuk.com)

Pasca Agresi Militer II yang dilancarkan Belanda pada 1948, Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng memerintahkan Komandan Brigade 10 Letkol Suharto (kelak presiden RI setelah Soekarno) untuk mengobarkan pertempuran terhadap Belanda pada 1 Maret 1949. Tujuannya, membuka mata dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada dan TNI tidak lemah seperti didengung-dengungkan Belanda. Serangan Umum tersebut harum dan mengangkat pamor Letkol Soeharto. Namun, sebagian orang tahu bahwa sutradara di balik peristiwa itu adalah Bambang Sugeng.

Sebagai perwira dan pejabat militer, Bambang juga rendah hati. Tidak arogan. Ia dikenal punya hobi memancing dan naik sepeda motor. Suatu ketika, saat berada di Jogja, ia meminjam motor milik Hariyadi, salah satu pelukis yang dekat dengan sang komandan.

Dengan berpakaian sipil, Bambang melaju ke kawasan Malioboro. Di perempatan Tugu, lampu kuning menyala. Bambang menyangka sehabis lampu kuning pasti lampu hijau yang berarti boleh lewat. Karena itu, ia langsung tancap gas.

Eh, ternyata yang nyala adalah lampu merah tanda berhenti. Tak pelak ia pun disemprit seorang polisi lalu lintas. Bambang disetop.

Ia berhenti dan diberi wejangan panjang lebar oleh sang polisi. Setelah itu, sang petugas meminta SIM. Saat melihat identitas Bambang, aparat kepolisian tersebut sangat kaget. Rupanya, yang dinasihati tadi adalah KSAD (kepala staf Angkatan Darat). Si polisi lalu mengambil sikap sempurna dan memberi hormat.

Apa jawab sang komandan? ”Saya memang salah,” ucapnya. Keesokan hari berita itu muncul di koran Jogjakarta.

Pada masa seperti sekarang, sikap rendah hati seperti itu seolah sulit ditemukan, terutama pada sosok pejabat dan petinggi. Jarang ada seorang pejabat yang mau mengakui kesalahannya.

Karena itulah, aku memberikan nasihat kepada adikku untuk selalu bersikap rendah hati. Tentunya wejangan tersebut juga berlaku untuk diriku sendiri. Indonesia membutuhkan orang-orang yang memiliki sifat itu, bukan arogansi demi kepentingan diri sendiri.

Sidoarjo, 9 Oktober 2012

https://mustprast.wordpress.com

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 9, 2012, in Catatan Harian and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: