Falsafah Pendidikan Mbok Siti


Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Dr Suyatno MHum, dosen JBSI dan kepala Humas Unesa. (Sumber: garduguru.blogspot.com)

Siang itu aku bertemu Dr Suyatno MHum secara tak sengaja di kampus FBS Unesa. Beliau baru saja selesai mengajar saat aku bermaksud untuk menemui dosen lainnya.

Di sela obrolan, kami banyak membicarakan tentang dunia tulis-menulis. Selain kesibukannya mengajar, Pak Yatno –demikian aku biasa menyapa beliau– adalah kepala Humas Unesa. Di bawah kepemimpinannya, majalah Unesa disulap menjadi lebih ciamik dan berbobot dengan beberapa rubrik barunya.

Dulu aku adalah mahasiswanya di jurusan sastra Indonesia. Jadi, pertemuan saat itu menjadi reuni antara bapak dan anak setelah beberapa tahun tak pernah bersua.

Aku diberi majalah Unesa edisi terbaru, Oktober 2012. Juga buku yang ditulisnya. Judulnya, Mbok Siti Guru Inovatif.

Pak Yatno mengungkapkan, buku tersebut diterbitkannya sendiri. ”Saya cetak sebanyak seribu eksemplar,” katanya. Dana yang dikeluarkan adalah Rp 13 juta untuk biaya lay out, cover, dan produksinya.

Dalam waktu tiga bulan, buku itu sudah terjual sekitar 700 eksemplar. Fantastis. Setidaknya ini bisa menjadi contoh buatku yang tengah membangun lini usaha penerbitan sendiri.

Siapa sih Mbok Siti itu? Ia perempuan sederhana. Ia tak jarang memberikan wejangan dan nasihat yang amat baik kepada tokoh aku.

Mbok Siti Guru Inovatif  semula adalah kumpulan tulisan Pak Yatno di blognya yang bertajuk Gardu Guru. Awalnya, tulisan berseri itu berjudul Guru di Mata Mbok Siti.

Ada sekitar 100 tulisan berseri tentang Mbok Siti, tokoh utama dalam buku tersebut. Yang istimewa, setiap tulisan selalu pendek-pendek. Tidak terlalu panjang. Bahasanya ringan, mengalir, dan mudah dipahami untuk kalangan pembaca seperti pelajar, mahasiswa, atau bahkan ibu rumah tangga.

Promo buku Mbok Siti Guru Inovatif. (Sumber: kafeguru.blogspot.com)

Setelah pertemuan itu, aku pulang ke rumah. Aku tunjukkan buku tersebut kepada nyonyaku. Beberapa hari sebelumnya, ia bercerita tentang keluhan salah seorang rekannya. Ya, guru itu mengeluhkan siswa yang nakal dan sulit diatur. Aku lantas teringat dengan salah satu kisah dalam Mbok Siti Guru Inovatif. Kutipannya aku tulis di bawah ini.

“Kesadaran yang ikhlas dari seorang guru dapat meredakan kenakalan sang murid”, kata Mbok Siti. Berilah kesederhanaan konsep yang berterima bagi murid sesuai warna, nuansa, dan kejiwaan murid. Guru harus masuk ke dunia murid dengan halus dan lembut tanpa alasan sekata pun. Batu yang keras akan juga lebur karena timpahan air yang lembut. Secara nalar, mana mungkin air yang lembut dapat memecahkan batu. Namun, secara nyata, air mampu memindahkan bahkan memecahkan batu sebesar apa pun.

Masih banyak pesan moral yang diusung dalam sosok Mbok Siti. Istriku terkesima setelah membaca beberapa isinya. ”Luar biasa,” komentarnya.

”Kamu juga bisa menerapkannya,” ucapku.

”Insya Alloh,” jawabnya.

”Berarti kamu mau jadi Mbok Siti?” godaku.

Ia lantas mencubit lenganku. Cubitan sayang. Tak sakit. Cubitan Mbok Siti? Ah, kubuang imajinasi itu dan berdoa semoga falsafah kehidupan dalam Mbok Siti hadir di tengah-tengah keluarga kami.

Graha Pena, 3 Oktober 2012

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 2, 2012, in Catatan Harian, Edukasi, Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: