Mengapa Menulis?


Minggu pagi itu aku mengantarkan istriku ke toko buku. Niatnya, mSembeli buku-buku pelajaran yang ia perlukan. Bagiku, saat-saat berada di toko buku adalah hal yang selalu kurindukan.

Setiba di sana, aku membuka-buka buku-buku pelajaran sejarah, mulai SD hingga SMA. Benakku kemudian terlempar pada ingatan puluhan tahun silam saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Seringkali aku baca tentang pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kartosuwiryo di Jawa Barat. Pemberontakan ini meluas ke beberapa daerah. Termasuk Aceh.

Di Negeri Serambi Makkah, DI/TII dipimpin oleh sosok yang pernah ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI, yakni M. Dauh Beureueh. Pada masa awal kepemimpinan Bung Karno sebagai presiden, Beureueh diangkat sebagai gubernur militer di Nanggroe Aceh Darussalam.

Pada akhirnya, Beureueh tidak puas dengan kebijakan pusat. Ia menilai pemerintah mengabaikan pembangunan di daerah-daerah. Ia kian kecewa ketika Provinsi Aceh ditiadakan dan dimasukkan ke wilayah Provinsi Sumatera Utara. Rakyat Aceh merasa terhina.

Beureueh dikenal sebagai pemimpin yang agamis. Ia seorang ulama yang disegani di Aceh. Ia mampu berjam-jam memberikan ceramah agama dan menarik simpatik banyak orang. Namun, jiwanya tetap seorang pejuang. Begitu kecewanya dengan pemerintah pusat soal otonomi daerah, Beureueh akhirnya memutuskan bergabung dengan DII/TII yang dipimpin Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Di rumah, aku bercerita kepada istriku bahwa selama bertahun-tahun Beureueh dicap sebagai pemberontak. “Itulah yang digambarkan pada buku-buku pelajaran sejarah sejak zamanku sekolah dulu,” keluhku.

”Beureueh tidak pernah digambarkan seutuhnya, tidak pernah digambarkan dari sudut pandang lain. Ia hanya digambarkan berdasar sejarah resmi yang bersumber dari pemerintah,” tambahku.

Istriku penasaran dan bertanya apa sebabnya aku tiba-tiba membahas Daud Beureueh. Aku menjawab bahwa diriku tak memungkiri rasa kecewa pada buku-buku pelajaran sejarah yang kerap menyebut Beureueh sebagai pemberontak.

”Namun, ada sisi lain dan alasan mengapa ia ikut DI/TII yang memberontak kepada pemerintah. Kadang, alasan inilah yang kurang dijelaskan secara detail dan terperinci,” ucapku.

Ketika Aceh diguncang bencana tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004, ada sahabatku yang bekerja di sebuah LSM dan ditempatkan di sana. Waktu itu ia dan timnya diposkan di Meulaboh untuk memberikan bantuan pascatsunami. Selain menuturkan kisah pedih pada korban, ia mengatakan bahwa tokoh bernama Beureueh amat dikenal di sana.

Waktu itu Aceh baru saja diguncang perang saudara antara GAM dan TNI. Isu upaya mendirikan negara Aceh merdeka dikait-kaitkan dengan sejarah pergolakan Aceh pada masa lampau. Sejak zaman Teuku Umar, Panglima Polim, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, hingga Daud Beureueh. Semuanya adalah tokoh karismatik setempat dan juga disegani.

Aku merasa ikut jadi korban sejarah yang hanya bersumber dari versi pemerintah. Yakni, memercayai bahwa Beureueh adalah pemberontak yang layak dimusuhi dan dimusnahkan di bumi pertiwi.

Kini sekian tahun kemudian, aku mendapatkan sumber lain tentang sejarah Beureueh.

Dalam suatu kisah, saat menjadi gubernur militer di bumi Aceh, Beureueh tidak pernah membelikan anak-anaknya baju bagus. Ia pemimpin yang sederhana. Anak-anaknya dibiarkan pergi ke sekolah dalam keadaan nyeker. Bajunya dari kain pepe atau belacu kasar, sama seperti anak-anak Aceh yang lain waktu itu.

Di sisi lain, Beureueh melarang keluarganya naik jip untuk keperluan di luar dinas. Sebagai pemimpin yang disegani, ia juga tak segan turun ke bawah. Bercengkerama dengan para nelayan dan membakar ikan bersama. Makan bersama. Mereka amat bangga bisa makan dengan sang gubernur militer tersebut.

Ketika senggang, Beureueh selalu meluangkan waktu untuk mengajarkan ilmu agama kepada anak-anaknya. Mengajarkan membaca Alquran.

 Ia juga antikorupsi. Begitu bersihnya, sampai-sampai hingga akhir hayatnya Beureueh tidak memiliki rumah dan meninggalkan warisan satu petak tanah pun kepada anak-anaknya. Padahal, jika ia mau, ia bisa mendapatkannya. Apalagi, Presiden Soekarno pernah menawarkan rumah pribadi untuk Beureueh di kawasan Lampriet, Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Namun, ia menolak.

Beureueh adalah penggemar kuliner belut goreng. Namun, ia tak mengeluh jika hanya tersaji menu nasi dan garam atau ikan teri saja. Hidupnya serbasederhana. Mulai masa perjuangan kemerdekaan, saat memberontak, hingga turun gunung dan menyerahkan diri kepada pemerintah pada 9 Mei 1962.

Kepada anak-anaknya, Beureueh juga tegas dalam mendidik. Saat itu Saifullah, salah seorang anak Beureueh, berjalan membawa buah kelapa. Kelapa hijau nan segar tersebut diambil di jalan dekat rumah tetangga mereka. Sudah terbayang segarnya air kelapa dan buahnya di benak Saifullah.

Begitu mengetahui hal itu, Beureueh langsung marah. ”Itu bukan milikmu! Lekas kembalikan ke tempatnya semula,” perintah Beureueh kepada anaknya tersebut.

”Namun, buku pelajaran sejarah kita tidak pernah memberi tahu hal seperti ini. Sejarah tak pernah digambarkan utuh. Ia bisa dimanipulasi dan diubah demi kepentingan tertentu,” ujarku kepada istriku.

Istriku mulai kesal. Seperti biasa, ia paham bahwa aku bisa berjam-jam membahas hal-hal yang berbau sejarah. Suatu bidang yang menarik minatku.

Ngapain sih repot-repot membahas serumit itu,” ucapnya.

”Ya, seharusnya kita ikut memberikan informasi lain terkait sejarah kepada anak-anak didik kita. Jika bukan kita yang peduli, siapa lagi? Buku-buku pelajaran saat ini belum tentu bisa menunjang rasa ingin tahu siswa,” jawabku.

Sejarah tentang Daud Beureueh ini bisa saja menimpa hal-hal lain, bidang lain.

Untuk itu, aku merasa bahwa sejarah mesti dituliskan berdasar sumber yang bisa dipercaya dan data-data akurat. Kita harus belajar dari sejarah. Sebab, sejarah memberikan banyak hikmah yang bisa dipetik sisi positifnya.

Mengapa mesti dituliskan? Agar sejarah tak terkubur bersama ucapan sumber yang suatu saat dijemput ajalnya. Inilah salah satu nilai pentingnya menulis.

Sidoarjo, 28 Sept 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 27, 2012, in Edukasi, Menulis. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. buku sejarah mesti ditulis ulang dengan prespektif baru yang tidak harus menghendaki keinginan pemerintah… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: