Menyiram Tanaman


“Mas, maukah ngisi acara motivasi menulis di kelasku?” tanya istriku sore itu. Aku mengambil seragam dan siap berangkat ngantor.

”Kapan?” tanyaku.

”Kamis minggu depan,” jawabnya.

Istriku kebetulan mengajar di kelas VI pada tahun ajaran baru ini.

”Baiklah,” selorohku.

Aku memang menyukai dunia anak-anak. Mereka ibarat tanaman. Tumbuh kembang mereka bergantung pada cara kita memperlakukan dan membimbingnya. Karena itu, aku langsung mengiyakan permintaan Ustadah Ratih –sapaan istriku di sekolahnya.

Tidak sekali ini aku diminta untuk memberikan materi menulis dan motivasi menulis untuk siswa sekolah dasar. Seorang tetangga kami bahkan meminta tolong kepadaku untuk membimbing anaknya yang duduk di bangku kelas VIII SMP menulis. Aku tidak menolaknya.

Mengajak orang lain untuk menulis itu tidak mudah. Perlu keuletan dan kreativitas.

Dalam sebuah kesempatan, aku tidak buru-buru mengajak bocah SMP itu praktik menulis. Terlebih dulu aku memberikan suntikan motivasi.

Sore itu aku mengajaknya ke rumahku. Pelajaran pertama dimulai! Aku mengambil slang dan menyalakan keran air. Bermaksud menyiram tanaman. Pandu, nama anak tetanggaku tersebut, terbengong-bengong. Bingung.

Sembari menyiram tanaman-tanaman yang ada di halaman rumahku, aku memberikan penjelasan kepadanya. Aku memperlihatkan bunga-bunga mawar yang kembangnya merokah indah kepada Pandu.

”Kamu lihat itu. Bagus kan?” ucapku menunjuk ke arah pot-pot yang berisi mawar.

Pandu mengangguk.

Aku ceritakan juga kepada dia bahwa ada tetangga yang tertarik membeli mawar-mawar itu.

”Keterampilan menulis itu seperti bunga-bunga ini,” tuturku.

”Semakin disiram, semakin diasah, keterampilan tersebut bisa membawa banyak manfaat,” lanjutku.

Pandu masih setia menyimak penjelasanku. Sebuah tanaman mawar tidak langsung berbunga. Dari benih, ia tumbuh dan setelah tiba masanya akan berbunga. Namun, jika tidak rutin disirami, tentu saja tanaman itu bisa layu, bahkan mati.

Sama dengan keterampilan menulis, jika terus diasah, tingkat kemahiran seseorang bisa meningkat. ”Dan keterampilan itu bisa dipelajari,” tegasku.

Pelajaran pertama usai bersamaan dengan selesainya aktivitas menyiram tanaman yang selalu kulakukan saban sore. Aku tak lupa menyuruh Pandu untuk membeli buku harian. Aku memintanya untuk mencatat apa saja yang ia dapatkan dari materi sore itu. Aku juga membebaskannya menulis dengan gaya tulisannya sendiri. ”Terserah, tulisan mau panjang atau pendek. Bebas,” pesanku.

Sejak itu, Pandu tak jarang berkunjung ke rumah kami. Sekadar bertanya seputar dunia menulis ataupun pelajaran bahasa Indonesia. Untuk memotivasi dirinya, aku tak jarang memberikan pujian. Ketika dia senang, tentu saja semangatnya belajar akan tinggi.

Ini pula yang akan aku tularkan kepada murid-murid istriku dalam writing class nanti. Mengajari mereka ”menyiram tanaman”. Merekalah yang akan menyemai hasilnya, akankah berbunga indah atau justru layu…

Graha Pena, 27 Sept 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 26, 2012, in Catatan Harian, Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: