Istriku Ingin Berhenti Jadi Guru


Sore itu suara knalpot sepeda motor tepat berhenti di depan pagar rumah. Tak asing. Istriku pulang kerja. Ia mengajar mulai pukul 07.00 sampai 16.00. Jadwalnya hanya Senin hingga Jumat. Untuk Sabtu, ia tetap masuk kerja, namun hanya setengah hari. Siangnya, sekitar pukul 13.00, ia berangkat lagi untuk mengikuti pengajian rutin mingguan.

Hari itu raut wajahnya jelas menampakkan lelah. Aku ambilkan segelas air putih untuknya. Ia teguk beberapa kali, lalu habis tak bersisa. Setelah menanggalkan seragam kerjanya dan berganti pakaian biasa, ia mulai berbagi cerita.

”Tugas-tugas makin menumpuk,” ujarnya.

”Wajar tho?” jawabku datar.

”Tuntuan dari sekolah makin banyak,” ucapnya. Nadanya menyimpan kekesalan. Aku sadar, ia hendak mengutarakan sesuatu yang menjadi unek-uneknya.

”Di mana-mana kan memang begitu,” pancingku.

Ia mengambil dua lembar roti tawar, mengoleskan mentega, lalu menaburkan kismis cokelat. Ia lumat roti itu dengan lahap. Kubiarkan sejenak ia sejenak menikmatinya.

Kuambilkan segelas air putih lagi untuknya. ”Makasih,” ujarnya singkat.

Onok opo tho?” tanyaku penasaran. Tidak biasanya istriku mengeluh seperti itu.

”Aku mau berhenti saja, Mas,” tegasnya. Aku tersentak. Puncak kekesalannya mulai keluar.

”Memang onok opo?”

”Capek,” singkatnya.

”Kerja itu di mana-mana pasti capek,” ucapku. Kubiarkan ia tenang sejenak.

Tak lama kemudian, ia mulai mau mengutarakan alasan di balik keluhannya tadi. Ia terpengaruh obrolan sejawatnya. Mereka mengeluhkan gaji yang dianggap kecil untuk sebuah sekolah swasta favorit di tempatnya mengajar. Aku mafhum.

Sebab, untuk bisa masuk di sekolah tersebut, seleksinya ketat. Biaya masuknya pun tidak bisa dibilang murah. SPP-nya per bulan mencapai Rp 300 ribu. Wajar jika banyak orang yang menyangka bahwa gaji guru di sana lumayan. Nyatanya, banyak tenaga pengajar yang tidak puas dengan pendapatan mereka.

 Aku bisa memahami suasana gundah yang melanda istriku ketika itu. Sangat bisa.

Setelah suasana agak cair dan ia mulai tenang, aku menceritakan kisah Sarwo Edhie Wibowo, mantan komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada 1965–1967.

Pada masa setelah kemerdekaan, Sarwo yang ketika itu sudah berpangkat kapten menjadi anak buah Ahmad Yani (kelak Menpangad yang gugur sebagai pahlawan revolusi). Keduanya ibarat kakak adik karena sama-sama memulai karir sebagai prajurit di pasukan Pembela Tanah Air (Peta). Mereka juga sama-sama satu kampung di Purworejo.

Suatu ketika, anak buah Sarwo terlibat sebuah insiden. Sebagai hukuman, pangkatnya dilorot dari kapten menjadi letnan. Ia sangat kecewa. Kemudian pulang ke desa dan menghadap ibundanya. Di hadapan sang ibu, Sarwo mengatakan bahwa dirinya ingin berhenti jadi tentara. Ia sangat terpukul dan kecewa. Menangis.

Sang ibunda dengan bijak mengatakan dalam bahasa Jawa, ”Jika kamu jadi tentara hanya ingin cari pangkat, lebih baik keluar saja.”

Sejak itu Sarwo sadar dan mengurungkan niat untuk berhenti sebagai prajurit TNI. Ahmad Yani sendiri akhirnya sadar. Dalam suatu kesempatan, Yani berkata, ”Saya pernah membuat Sarwo kecewa. Tapi, saya tidak akan melupakan dia.”

Janji itu ditepati Yani. Kelak pada 1960, Sarwo dikirim untuk mengikuti pendidikan militer di Australia selama dua tahun. Sepulang dari sana, karirnya semakin cemerlang dengan ditempatkan di pos RPKAD, pasukan elite tempur di TNI-AD.

Aku mengulangi wejangan ibunda Sarwo kepada istriku.

”Jika kamu mengajar hanya ingin mendapat gaji tinggi, lebih baik keluar saja,” tegasku.

Ia tersadar. Kemudian minta maaf. Aku memeluknya. Erat. Keesokan hari aku sudah melihatnya tersenyum dan mencium tanganku sebelum berangkat ke sekolah. Lega rasanya.

Graha Pena, 23 Sept 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 22, 2012, in Edukasi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. saya pun bertahan meskipun gaji yang tak banyak…. Mantap Mas Eko..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: