Antusiasme Gerakan Literasi di Smala


Books are the carriers of civilization. Without books, history is silent, literature dumb, science crippled, thought and speculation at a standstill…”

~ Barbara W. Tuchman (sejarawan, penulis, dan peraih penghargaan bergengsi Pulitzer Prize, 1912–1989)

***

Setelah diminta menjadi juri lomba menulis cerpen dan puisi untuk siswa MAN 1 Jember, saya kembali fokus pada gerakan literasi di SMAN 5 Surabaya. Sejak tahun ajaran baru ini, Smala (julukan sekolah favorit di Kota Pahlawan tersebut) bertekad untuk menjadi yang terbaik di Indonesia.

Mereka juga menjalankan program literasi sekolah. Yakni, para siswa diwajibkan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Tujuannya, mereka diharapkan nanti terbiasa dan gemar membaca. Ditargetkan, dalam satu tahun, para siswa sudah membaca  tiga ribu buku! Inilah bentuk implementasi dan dukungan terhadap Gerakan Indonesia Membaca.

Pihak sekolah juga mengadakan lomba menulis bagi para siswa. Sebelum itu, saya mulai memanasi mesin spirit menulis untuk mereka. Ibaratnya, saya ikut melakukan kaderisasi penulis di kalangan pelajar, khususnya di Smala. Ini dilakukan untuk mencari dan memoles bibit-bibit penulis muda yang kelak akan terjun di berbagai bidang tersebut. Apalagi, Indonesia sangat jauh tertinggal dalam hal literasi dan budaya menulis dari negeri jiran seperti Malaysia dan Singapura.

Lomba pun dimulai pada awal Agustus lalu dengan tema Menuju Generasi Emas Indonesia. Saya berkoordinasi dengan Pak Karyanto, Waka Kesiswaan SMAN 5. Saya juga mengumpulkan tim inti jurnalistik sekolah serta jajaran OSIS untuk memberikan arahan. Ketua OSIS menyatakan siap menyosialisasikan lomba di tiap kelas. Tim jurnalistik juga siap mendukung dan mengekspose kegiatan ini dalam buletin sekolah.

Jadilah selama bulan Ramadan itu mereka sibuk dengan kegiatan lomba menulis. Setelah tiga minggu, seluruh naskah dikumpulkan. Tak disangka, antusiasme siswa luar biasa. Ada tiga kategori tulisan, yakni esai, cerpen, dan puisi. Total, terkumpul 333 naskah. Rinciannya, 115 esai, 100 cerpen, dan 118 puisi.

Dewan juri yang terdiri atas dua dosen sastra dari Surabaya akan memilih masing-masing 20 naskah terbaik. Naskah-naskah itulah yang akan kami bukukan.

Saya tentunya berharap agar buku ini nanti tak sekadar kado dies natalis SMAN 5 Surabaya. Lebih dari itu, saya ingin para siswa bangga dengan karya mereka. Sebab, mereka telah menorehkan sejarah dan ikut membangun sebuah peradaban bangsa.

Semoga buku ini benar-benar bisa mengusung semangat mereka untuk terus belajar, berkreasi, dan berkarya. Sebagaimana dikatakan Barbara Tuchman, buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, bisu, dan sepi. Tanpa buku, ilmu pengetahuan jadi lumpuh, pikiran dan spekulasi mandek.

Ini memang belum jadi pusaran besar, namun saya yakin bisa menjadi awal untuk sebuah gerakan literasi yang lebih masif. Semoga.

Graha Pena, 22 Sept 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 22, 2012, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: