Menggagas Sekolah Menulis Anak


Kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari tradisi keilmuan. Nah, tradisi itu bisa diraih melalui sistematika pembelajaran yang benar (Matta, 2002:119). Dalam hal ini, membaca dan menulis merupakan instrument utamanya.

Membaca merupakan langkah untuk memperoleh, menyerap, dan menguasai informasi atau susunan pengetahuan tertentu. Ia memperkaya diri kita dengan seperangkat informasi dan pengetahuan. Sementara itu, menulis merupakan langkah cara untuk mengikat informasi dan mengekspresikan gagasan, ide, atau pikiran.

Dua keterampilan tersebut menjadi penting dalam tradisi keilmuan. Karena itu, ia menjadi penting pula untuk kemajuan suatu bangsa. Hal ini sesuai dengan pernyataan penulis ternama T.S. Elliot (1888-1965). Ia menegaskan, terlalu sulit membangun peradaban tanpa (budaya) menulis dan buku. Sayangnya, realitas yang terjadi di masyarakat kita adalah budaya menulis yang masih memprihatinkan.

Kondisi tersebut diperparah dengan membaca yang kurang mendapat perhatian. Artinya, masyarakat kita kurang kompetitif dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan.

 

Pandangan Mary Leonhardt

Tak bisa dimungkiri, tradisi keilmuan -terutama membaca dan menulis-  kurang mendapat perhatian serius. Pelajaran membaca dan menulis selama ini lebih banyak ditekankan kepada institusi formal pendidikan. Namun, kenyataannya, dua pelajaran tersebut disampaikan dengan monoton dan cenderung berorientasi pada materi-materi teoretik.

Belum ada upaya sinergis dari pendidikan prasekolah untuk turut berkontribusi dalam usaha pengokohan tradisi keilmuan. Padahal, usia-usia yang cukup baik untuk menanamkan tradisi keilmuan sebenarnya adalah usia dini.

Kita tentu masih ingat dengan fenomena penulis cilik yang diorbitkan penerbit Dar! Mizan dari Bandung. Di antaranya, Sri Izzati. Pada usia yang masih belia (8 tahun), siswa SD Istiqomah Bandung tersebut menulis buku Kado untuk Ummi. Selain Izzati, ada nama Abdurrahman Faiz.

Pada 2004, Faiz yang juga putra penulis ternama Helvy Tiana Rosa itu menulis buku kumpulan puisi yang berjudul Untuk Bunda dan Dunia (Dar! Mizan). Buku ini mendapat dua penghargaan tingkat nasional, yaitu Anugerah Forum Lingkar Pena 2004 dan Anugerah Buku Terpuji Karya Ikapi 2005. Tak lama kemudian, Faiz kembali menelurkan buku lainnya, yakni Guru Matahari dan Aku Ini Puisi Cinta.

Penulis cilik lain yang fenomenal adalah Qurata Aini. Pada usia tujuh tahun, ia telah menulis buku Nasi untuk Kakek. Kontan, Aini langsung diganjar penghargaan oleh Muri (Museum Rekor Indonesia) sebagai penulis tercilik. Karyanya juga menyabet penghargaan Adi Karya Award. Buku Aini lainnya adalah Asyiknya Outbound dan Berani Kalah.

Menurut Adiyati Fathu Roshonah, ibunda Aini, sejak kecil putrinya tersebut telah gemar membaca buku. ”Kemampuannya menulis dimulai dengan mencatat pengalaman-pengalamannya saat bermain di sekolah,” ujarnya (Dwi Budiyanto, 2005:142).

Mulai saat itu, membanjirlah karya-karya penulis cilik lain. Ibarat keran yang terbuka dan mengalirkan air begitu deras. Penerbit Mizan melalui lini usahanya, Dar! Mizan, menjadi pionir dengan menerbitkan seri terkenal Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK).

Fenomena penulis cilik ini patut kita cermati dan telusuri lebih jauh. Mengapa? Sebab, fenomena ini menjadi bukti atas peran pendidikan prasekolah terhadap pembelajaran menulis dan membaca.

Di sisi lain, fenomena tersebut semakin menegaskan pandangan Mary Leonhardt (2001: 31). Mary menyebutkan, ”Tumbuhkan kecintaan dan kebiasaan membaca pada diri anak. Inilah satu-satunya hal terpenting yang bisa Anda lakukan untuk menjamin agar mereka menjadi penulis yang baik.”

 

Sekolah Menulis Anak

Prestasi kreatif ketika hendak menulis sangat ditentukan pada pengetahuan yang dimiliki selain hadirnya perasaan yang membangkitkan imajinasi. Mihaly Csikzentmihaly, pakar psikologi dari University of Chicago, menyatakan, berdasar studi selama 18 tahun terhadap 200 seniman, dapat disimpulkan bahwa prestasi kreatif sangat bergantung pada totalitas hati dan pikiran (Adhim, 2004a: 93). Terkait dengan proses menulis, sebagai bagian dari proses kreatif, ia tak sekadar berbekal kepekaan dan perasaan yang kuat saja. Ia juga harus didukung pengetahuan yang matang, pikiran yang total, dan penalaran yang jernih.

Dalam kaitan ini, membaca dan menulis menemukan keterpautannya. Membaca berarti menambah perbendaharaan pengetahuan yang sangat penting untuk memperkaya sebuah tulisan. Secara lebih tegas, Kertanegara (2005: 298-290) mengatakan bahwa tradisi menulis tidak mungkin bisa dicapai tanpa didahului oleh tradisi membaca.

Membaca merupakan cara yang paling efektif untuk menambah pengetahuan. Sementara itu, perbendaharaan pengetahuan merupakan syarat mutlak bagi terbinanya tradisi menulis.

Penulis dan pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) Asma Nadia mengatakan, tidak mungkin seseorang menjadi penulis atau pengarang kalau tidak suka membaca. Membaca seperti mengumpulkan memori. Jika semakin banyak membaca, semakin banyak pula wawasan yang menjadi modal menulis (Adhim, 2004b: 102-104).

Dalam buku The Power of Reading: Insight from the Research,  Stephen Krashen pernah menyatakan bahwa menulis yang baik hanya dapat diwujudkan dari orang yang banyak membaca (Hernowo, 2003: 97). Lebih lanjut juga disebutkan bahwa kekhasan dalam menulis bukan dibentuk oleh aktivitas menulis, tetapi oleh aktivitas membaca. Banyaknya menulis juga tidak berkaitan dengan kebermutuan menulis.

Hal ini dibenarkan oleh Mary Leonhardt. Dia mengatakan, anak yang terbiasa membaca mandiri akan mencapai tingkat melek huruf yang berterima dengan sendirinya. Mereka akan mendapatkan rasa kebahasaan tertulis yang tidak bisa diajarkan secara langsung (Leonhardt, 2001: 114).

Memandang potensi usia dini, penulis memandang perlunya dibentuk atau didirikannya sekolah menulis khusus anak, terutama usia dini. Apalagi, ada riset yang menyebut bahwa 20 persen ukuran otak kita pada masa dewasa sangat ditentukan pada dua tahun pertama usia kita (Yanto, 2005: 144). Selain itu, sebagaimana kita tahu bahwa usia dini merupakan usia yang efektif untuk menerima rangsangan belajar. Diharapkan sekolah menulis untuk anak usia dini bisa menjadi salah satu solusi untuk menggerus minimnya minat terhadap budaya membaca dan menulis di Indonesia. Semoga!

Sukodono, 13 September 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 13, 2012, in Edukasi, Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: