Perlukan Dekonstruksi Istilah Olahraga?


Catatan Must Prast

tinggal di https://mustprast.wordpress.com

Dalam sebuah tulisannya di mailing list Keluarga Unesa (11/9/2012), Drs Much. Khoiri MSi menyoroti kata olahraga. Menurut dosen jurusan bahasa Inggris Unesa yang kini tengah menempuh program Doktoral di Universitas Udayana tersebut, istilah olahraga layak didekonstruksi. Alasannya, kata itu dinilai terlalu sempit dan kedaluwarsa untuk mewadahi kegiatan-kegiatan sports. ”Ibaratnya, kebanyakan isi kurang wadah,” tulisnya.

Khoiri menyebut, selama ini terjadi hal yang gegabah, yakni menerjemahkan sports menjadi olahraga tanpa mengantisipasi dan menimbang latar budaya dan pemekaran atau penyempitan makna.

”Padahal, konsep kedua terma itu jauh berbeda. Sports berarti segala kegiatan (fisik dan/atau mental) yang lazim dilakukan di tempat terbuka guna memperoleh kesenangan (amusement, fun). Ia bisa berupa kegiatan ringan, bisa berat, tapi tetap bersifat permainan (playful),” jelasnya (Keluarga Unesa, 11/9/2012)

Dia menjabarkan, dalam sports terkandung unsur physical exercise (latihan/gerak fisik) dan/atau mental exercise (latihan mental). ”Mana yang mengedepan, tak jadi soal. Intinya, untuk ‘menafkahi’ kebutuhan amusement atau fun tersebut. Sebab itu, dikenal terma sportive, juga sportsman,” lanjutnya.

Menurut Khoiri, berakar dari kata olah dan raga, terma olahraga mestinya berarti kegiatan yang berkaitan dengan kinesik dan dinamika raga, aktivitas tubuh atau gerak badan agar menjadi sehat.

Intinya, ia menyikapi istilah olahraga yang dinilai sempit untuk mewakili kegiatan yang dinilainya ”aneh-aneh” semacam catur dan biliar. Untuk itu, ia menganggap istilah olahraga perlu didekonstruksi. Tawarannya dua: olah jiwa raga dan olah mental raga.

Unsur Serapan

Bahasa Indonesia bisa dikatakan bahasa yang terbuka. Maksudnya, bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa lainnya.

Maka, tak heran jika kata-kata dari unsur serapan dalam bahasa Indonesia berjumlah cukup banyak. Contohnya, terdapat 1.495 kata serapan dari bahasa Arab, 3.280 kata dari bahasa Belanda, 677 kata dari bahasa Sansekerta, dan 1.670 kata dari bahasa Inggris. (Arif Hakim, 2011)

Adapun penyerapan unsur dari bahasa asing tersebut harus mempertimbangkan tiga hal. Pertama, konotasi istilah yang dipilih cocok. Kedua, istilah yang dipilih lebih singkat dibandingkan dengan terjemahan Indonesia-nya. Ketiga, istilah serapan yang dipilih dapat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia terlalu banyak sinonimya.

Menurut Arif pada Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (2011), terdapat empat cara kata serapan yang masuk ke dalam kosakata bahasa Indonesia.

Pertama, cara adopsi yang terjadi jika pemakai bahasa mengambil bentuk dan makna kata asing itu secara keseluruhan. Contohnya, supermarket dan minimarket.

Kedua, cara adaptasi. Ini terjadi jika pemakai bahasa hanya mengambil makna kata asing itu, sedangkan ejaan atau penulisannya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Contohnya, international menjadi internasional dan nationalization yang menjadi nasionalisasi.

Ketiga, penerjemahan. Yaitu, pemakai bahasa mengambil konsep yang terkandung dalam bahasa asing itu. Padanan kata tersebut kemudian dicari dalam bahasa Indonesia. Misalnya, try out yang diterjemahkan menjadi uji coba.

Keempat, kreasi. Ini terjadi jika pemakai bahasa hanya mengambil konsep dasar yang ada dalam bahasa Indonesia. Cara ini mirip dengan cara penerjemahan, tetapi memiliki perbedaan. Cara kreasi tidak menuntut bentuk fisik yang mirip seperti penerjemahan. Boleh saja kata yang ada dalam bahasa aslinya ditulis dalam dua atau tiga kata, sedangkan bahasa Indonesianya hanya satu kata. Contohnya, spare parts > suku cadang.

Saya belum menemukan literatur yang menjelaskan secara detail dan rinci tentang sejarah kata olahraga dalam bahasa Indonesia. Namun, kita pasti sepakat bahwa istilah (term) olahraga merupakan unsur serapan dari bahasa asing. Dalam hal ini, Khoiri berpendapat bahwa olahraga merupakan terjemahan dari kosakata bahasa Inggris, yakni sports.

Tinjauan Berdasar KBBI

Lantas, apa makna kata olahraga itu sendiri? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan penjelasan sebagai berikut.

Olahraga (noun/kata benda) diartikan sebagai kegiatan gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh. Misalnya, sepak bola, berenang, lempar lembing.

Agar lebih gamblang, perlu dijelaskan pula tentang arti kata olah dan raga itu sendiri. Hal ini telah diwadahi pula dalam KBBI.

Terdapat tiga penjelasan makna dari kata /olah/. Pertama adalah laku; ulah; cara (melakukan sesuatu); dan akal (daya upaya, tipu daya). Kedua, maknanya adalah perbuatan. Ketiga, artinya ialah tingkah; canda.

Kata /raga/ juga memiliki tiga arti. Pertama adalah keranjang kasar yang terbuat dari rotan. Kedua, bola yang terbuat dari anyaman rotan atau takraw. Ketiga ialah badan atau tubuh.

 

Kata Baku

Karena telah diakomodasi dalam bahasa Indonesia, –terbukti dengan adanya penjelasan di KBBI–, istilah olahraga sudah dianggap sebagai kata baku. Artinya, istilah tersebut sudah diakui dalam bahasa Indonesia baku.

Menurut B. Havranek dan Vilem Mathesius (Garvin, 1967 dalam Purba, 1996:52), bahasa baku adalah bentuk bahasa yang telah dikodifikasi, diterima, dan difungsikan sebagai model atau acuan oleh masyarakat secara luas (A Standard language can tentatively be definite as a codified form of language accepted by and serving as a model for a large speech community).

Lantas, perlu atau tidakkah dekonstruksi istilah olahraga yang dinilai Khoiri urgen dilakukan? Adanya istilaholahraga sudah pasti melalui kesepakatan yang dilakukan oleh para ahli linguistik bahasa Indonesia kita. Sudah tentu ada sosialisasi yang membuat kata tersebut berterima di masyarakat bahasa. Terbukti kata itu berterima di kalangan pengguna bahasa Indonesia. Dengan demikian, sebenarnya tidak ada masalah, baik dari sisi pemakaian atau penggunaan, penulisan, maupun sebagai alat komunikasi, dari kata olahraga. Alasannya, kata ini sudah dianggap baku dan berterima di masyarakat.

Khoiri menyoroti masuknya ”kegiatan aneh-aneh” seperti catur dan biliar ke dalam istilah olahraga. Sehingga ia memandang perlunya dekonstruksi term tersebut. Namun, sejatinya, catur pun memiliki unsur gerak. Yakni, membutuhkan tangan untuk menggerakkan bidak-bidak di papan catur. Sebagian lain menilai kegiatan ini hanya lebih banyak menggunakan pikiran (otak) ketimbang otot.

Tetapi, sejatinya pula, otak termasuk dalam unsur raga (organ, tubuh, badan). Ada dinamika raga sebenarnya di sana meski intensitasnya tidak terlalu besar seperti kegiatan sepak bola ataupun lari dalam nomor atletik.

Soal gokar dan mobil misalnya, dipandang Khoiri tidak terlalu banyak mengeluarkan gerak. Benarkah demikian? Faktanya, aktivitas gerak tetap dibutuhkan dalam kegiatan seperti gokar atau balap mobil. Kaki dan tangan lebih banyak berperan di sana. Seorang pengamat otomotif yang pernah mencoba mengelilingi sebuah sirkuit F1 satu lap mengatakan, kegiatan balap mobil juga sangat menguras tenaga. Padahal, ia baru ”mencicipi” satu lap.

Memang tidak mudah mengubah kebijakan dekonstruksi meski hanya satu kata. Apalagi jika implikasinya bisa berdampak luas hingga ke tatanan lembaga atau institusi tertentu.

Namun, yang perlu dicatat, salah satu fungsi bahasa adalah alat pemersatu. Selama ini masyarakat bahasa telah menggunakan kata olahraga. Kata ini telah dianggap baku dan berterima serta tidak ada gejolak yang bisa memecah persatuan. Atas dasar itu, menurut penulis, urgensi dekonstruksi istilah olahraga belum perlu dilakukan. Setidaknya untuk saat ini.

Surabaya, 12 September 2012

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 11, 2012, in Bahasa. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Pada pos ini saya temukan kata rinci. Kata yang baku adalah perinci. Silakan cek KBBI Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: