Klub Baca Buku IGI (14)


National Geographic

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Majalah yang sarat akan informasi dan pengetahuan. (sumber: pdfmagazines.org)

Jonathan B. Thourtellot menyajikan sebuah ulasan penting. Editor geowisata National Geographic (NG) tersebut menulis di majalah NG edisi Agustus 2012 bahwa sebutan Eskimo adalah tidak tepat! Yang lebih tepat, kata dia, ialah Inuit.

Ceritanya, Thourtellot mencoba menyelami kehidupan sehari-hari warga yang mendiami Lingkaran Arktik di pesisir Pulau Baffin. Ini pulau yang amat besar, seukuran California, namun penduduknya hanya 13 ribu jiwa.

Siang itu langit Arktik berwarna keperakan. Thourtellot ikut bersama dua warga setempat untuk berburu menu santap malam: anjing laut. Dua penduduk lokal tersebut bernama Jonas dan Julie.

Selama 4.000 ribu tahun menghuni Arktik, warga setempat memang bertahan hidup dengan mengonsumsi anjing laut, rusa kutub, ikan, narwhal, serta binatang kutub dan daging lainnya. Buah berry dari tanaman tundra memang menambah variasi makanan tradisional, tetapi tidak berbuah sepanjang musim.

Thourtellot menulis, segenggam penuh buah berry tidak menyediakan vitamin C yang cukup. ”Ternyata, makhluk laut mengandung vitamin C yang lumayan. Terutama hati anjing laut jika dimakan selagi masih segar,” kata dia.

Pria yang tinggal di California ini kemudian menyebut penduduk lokal dengan sebutan inuit. Berburu adalah adalah cara orang Inuit untuk memenuhi kebutuhan pangan.  Nah, siang itu Thourtellot berkesempatan mendapatkan pengalaman kuliner yang berbeda.

Tentu saja pengalaman kuliner ini tidak lazim bagi qallunaat –istilah warga Inuit untuk menyebut orang kulit putih atau orang dari selatan- seperti Thourtellot.

Perburuan untuk bertahan hidup telah mengajarkan Inuit memiliki kesabaran tanpa batas. Bisa dibayangkan mereka amat telaten menunggu anjing laut nongol di tepi bongkahan es. Senapan berburu siap menyalak kapan pun untuk membidik tepat kepala hewan laut tersebut.

Hari itu mereka berhasil menangkap buruannya. Jonas sukses membidikkan senapannya tepat ke arah kepala seekor anjing laut. Ia lalu menyembelih hewan mamalia tersebut dan bersuka cita menikmati jeroannya mentah-mentah. Nyam!

Darah berlumuran di tubuh dan bibirnya. Thourtellot sendiri ikut ditawari mencicipi daging has dan hati mentah itu. “Saya menerima potongannya yang masih hangat. Dan rasanya….lumayan!”

Dalam uraiannya, Thourtellot menyebut Inuit berasal dari bahasa Inuktikut lokal yang berarti orang. Itu dinilai sebagai istilah yang lebih tepat, bukan Eskimo.

Istilah Eskimo dipopulerkan oleh orang kulit putih yang kemudian memperparah keadaan. ”Mereka menggiring pengembara Inuit ke permukiman dan mengirim anak-anak mereka ke sekolah, orang dewasa ke gereja, dan semua orang ke toko Hudson Bay untuk menikmati mengonsumsi makanan eksotis seperti permen dan minuman aneka rasa Kool-Aid. Ujungnya, kehancuran kultur dan gigi bangsa Inuit secara keseluruhan. Baru belakangan ini mereka memiliki makanan lokal, disebut sebagai makanan negeri yang malahan jadi tren,” tulis Thourtellot.

*****

Membaca National Geographic –termasuk National Geographic Traveler-  memang memberikan sensasi tersendiri. Bahasanya mudah untuk dikunyah. Mengalir.

Siang itu saya sedang berjalan-jalan di sebuah sudut mal di bilangan Kota Sidoarjo. Sehabis makan siang di sebuah foodcourt, saya berniat melangkahkan kaki ke toko buku Karisma di lantai tiga.

Satu stan di luar toko itu menarik perhatian saya. Stan kecil tersebut menjual komik-komik lawas yang kondisinya masih bagus dengan harga obral: Rp 5 ribu!

Namun, di sebuah rak kecil terdapat deretan majalah National Geographic. Ada tujuh buah. Tiga versi Indonesia, empat lainnya versi bahasa Inggris. Masih gres, plastikan, namun edisinya lama: terbitan 2010 dan 2011.

“Berapa nih, Mbak?” tanya saya kepada penjaga stan itu.

“Rp 25 ribu, Pak.”

“Rp 15 ribu ya, saya beli semuanya!” Mata saya berbinar bak mendapati harta karun.

”Belum dapat, Pak,” sergahnya.

”Rp 20 ribu wis, tak tuku kabeh (saya borong),” tawar saya lagi. Ia bergegas mengambil plastik tanpa dikomando. Saya tidak jadi mampir ke toko buku Karisma karena sudah dapat sesuatu yang sebenarnya tidak saya rencanakan untuk membeli.

Namun, saya puas. Pasalnya, harga majalah National Geographic bekas di Warung Ilmu di Jalan Semarang, Surabaya, masih berkisar Rp 25 ribu-Rp 30 ribu.

Selain tidak harus jauh-jauh ke Surabaya, saya bisa lumayan berhemat. Yang paling penting: mendapati informasi-informasi pengetahuan yang belum pernah saya dapatkan dari membaca majalah lain.

Sebuah majalah yang patut dipertimbangkan untuk dikoleksi. Juga dibaca, tentunya!

Sidoarjo, 22 Agustus 2012

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 21, 2012, in budaya, Catatan Harian, Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: