Klub Baca Buku IGI (13)


Hafalan Shalat Delisa

 

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Inilah yang terbit awal (Sumber: http://kilasbuku.blogspot.com)

Tak kurang sastrawan Taufiq Ismail, novelis Habiburrahman El Shirazy, dan redaktur Republika Ahmadun Yosi Herfanda memberikan apresiasinya terhadap novel ini: Hafalan Shalat Delisa. Novel setebal 246 halaman ini memang sarat akan pesan moral, semangat, dan perjuangan. Dijamin pembacanya akan serasa diajak menyelami langsung peristiwa yang terjadi dalam cerita itu.

Hafalan Shalat Delisa mengambil setting cerita di Lhok Nga, Nanggore Aceh Darussalam. Tokoh utamanya tentu saja Delisa, gadis cilik berusia sekitar enam tahun. Ia merupakan bungsu di antara empat bersaudara. Kakak-kakaknya secara berurutan adalah Fatimah, Aisyah, dan Zahrah. Keempatnya merupakan anak pasangan Abi Usman dan Ummi Salamah.

Usman bekerja di sebuah perusahaan pelayaran. Hari-harinya banyak dihabiskan di laut. Tak jarang ia harus ikut melaut sampai ke luar negeri. Namun, jalinan komunikasi dengan keluarga tetap kuat. Usman selalu rajin menelepon keluarganya.

Salamah sendiri digambarkan sebagai sosok ibu yang baik. Ia dan Usman berkomitmen untuk menanamkan ilmu agama kepada anak-anaknya. Salamah mewajibkan anak-anaknya untuk selalu melakukan salat berjamaah. Termasuk salat Subuh bersama-sama.

Delisa digambarkan sebagai anak yang periang, suka bermain, dan amat menyayangi umi serta kakak-kakaknya. Mandiri.

Ini yang sudah terdapat label best seller. (Sumber: kompasiana.com)

Suatu saat Salamah memerintahkan Delisa untuk menghafalkan bacaan salat. Sebab, usia Delisa sudah menginjak enam tahun. Bagi gadis kecil tersebut, menghafal bacaan salat terasa sulit. Letaknya kerap tertukar.

Salamah akhirnya berjanji memberi sebuah kalung apabila anak bungsunya itu mampu melewati tes hafalan bacaan salat di depan guru mengajinya. Tentu saja Delisa kian semangat. Sebuah kalung yang begitu spesial buatnya.

Hari Minggu, 24 Desember 2004, Delisa akan menghadapi tes hafalan. Ia diantara Salamah, sang ibunda. Wajahnya tetap menyiratkan kegembiraan luar biasa. Cuaca amat cerah. Secerah wajah Delisa.

Hingga tak lama kemudian, terjadi gempa kecil di Lhok Nga. Namun, warga setempat menganggap itu biasa. Tidak terlihat kekhawatiran yang berlebihan.

Di hadapan guru mengajinya, Delisa akhirnya bersiap membacakan hafalan bacaan salatnya. Bersiap mengambil posisi seperti salat. Ketika takbir keluar dari mulutnya, ”Allahu akbar!”, secara bersamaan bumi Nanggroe Aceh Darussalam pun bergetar hebat. Termasuk Lhok Nga, tempat Umi Salamah dan anak-anaknya tinggal.

 Seusai gempa dahsyat berkekuatan 9,3 skala Richter di lepas pantai barat Aceh, tsunami dahsyat pun melanda. Aceh luluh lantak seketika. Bencana ini tercatat salah satu yang paling dahsyat di muka bumi ini. Sebanyak 230 ribu orang dilaporkan tewas di delapan negara.

Ketika gempa terjadi, tubuh kecil Delisa ikut limbung. Delisa berusaha keras dengan tertatih-tatih merampungkan tahiyat akhir. Dan saat itulah tsunami menghajar bumi Serambi Makkah.

Umi Salamah tewas berikut tiga anaknya, Fatimah, Aisyah, dan Zahrah. Ajaibnya, si bungsu Delisa selamat meski akhirnya salah satu kakinya harus diamputasi.

Novel ini banyak menggambarkan semangat Delisa untuk menghafal bacaan salatnya. Bukan semata karena menginginkan hadiah kalung dari ibundanya tercinta, Salamah. Lebih dari itu, Delisa berupaya keras menghafalkannya karena kecintaannya pada agamanya, pada Tuhannya.

Cerita pun berlanjut ke Usman yang panik dan mendapati rumahnya sudah rata dengan tanah di Lhok Nga. Ia juga tak bisa menahan kesedihan saat melihat Delisa memakai penyangga karena satu kakinya diamputasi. Kesedihan tak terelakkan setelah Usman tahu bahwa istri tercinta dan tiga anaknya yang lain meninggal dalam tsunami dahsyat pada akhir tahun 2004 tersebut. Namun, Delisa mampu menjadi motivator bagi sang ayah.

Yang ini versi filmnya. Sudah nonton? (Sumber: kompasiana.com)

Sebuah novel yang menggugah dan layak dibaca dari berbagai umur. Tere Liye sangat apik menceritakan kisah demi kisah. Lelaki ini dikenal sebagai sosok misterius. Hampir sulit mendapati biografinya meski singkat sekalipun. Tere Liye diambil dari bahasa India yang berarti Untukmu Untukku.

Saya berusaha mencari blognya dan akhirnya ketemu: http://darwisdarwis.multiply.com/. Pria ini berasal dari Sumatera Selatan kelahiran 1979. Novel yang ditulisnya sudah banyak. Beberapa di antaranya sudah saya koleksi. Yakni, Hafalan Shalat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, dan Moga Bunda Disayang Allah.

Sebagai informasi, Hafalan Sholat Delisa mendulang sukses yang sama seperti Ayat-Ayat Cinta. Keduanya awalnya dimuat sebagai cerita bersambung di harian Republika. Melihat sambutan hangat pembaca, akhirnya keduanya dibukukan dan laris di pasaran. Yang juga mirip: keduanya akhirnya difilmkan. Yang sama lagi: sama-sama best seller!

Terakhir, saya suka membaca Hafalan Shalat Delisa ini karena bahasanya sederhana. Tidak terlalu berat. Sehingga dalam dua jam saja saya bisa merampungkan membacanya.

Kalau ada sedikit kekurangan pada novel ini, hanya catatan kakinya saja yang banyak dan bikin nggak nyaman.

Namun, secara keseluruhan, novel Hafalan Shalat Delisa tidak hanya layak dibaca, tapi harus dibaca! Inilah novel yang merekam kejadian tsunami dahsyat yang melanda Aceh pada Desember 2004 dengan begitu apik. Untuk skala 0–10, saya berikan nilai 8,5 untuk novel ini. Anda punya pengalaman lain setelah membaca novel ini?

Graha Pena, 21 Agustus 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 21, 2012, in Catatan Harian, Edukasi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: