Suka Duka Menulis Novel


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Saya bukan penulis novel. Sekali tempo saya memang tergoda untuk ingin sekali bisa menulis novel. Temanya sudah ada, juga saya sudah bikin outline alias kerangka karangannya. Namun, entahlah, ada saja hambatan saat ingin meneruskannya. Mungkin itu salah satunya dipengaruhi faktor lamanya menulis novel. Menulis novel memang tidak hanya menuntut konsentrasi lebih, tapi juga waktu yang bisa saja sampai berbulan-bulan. Namun, ada hal lagi.

Sebuah pepatah bijak mengatakan, jika berteman dengan penjual parfum, akan ikut wangi. Saya coba menerjemahkannya dalam hal menulis novel.

Maksudnya, jika ingin bisa menulis novel, saya harus berteman dengan novelis. Dan itu saya lakukan. Salah satunya, ngangsu ilmu langsung ke Faradina Izdhihary. Dia lebih dikenal sebagai novelis meski sebenarnya pekerjaan utamanya adalah tenaga pengajar di sebuah SMA negeri di Kota Batu.

Ramadhan atau awal Agustus lalu, saya diberi novel terbarunya: Safir Cinta. Dikasih langsung oleh penulisnya. Setiba di rumah, novel setebal 274 halaman itu saya baca dengan cara mencicilnya selama dua hari.

Selain hendak meresensinya, saya memang ingin belajar menulis novel. Untuk itu, jika ingin bisa menulis novel, saya harus memperbanyak bacaan novel. Sebenarnya, koleksi novel di rumah saya cukup banyak. Mulai novel remaja hingga novel dewasa. Mulai novel best seller karya Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, hingga Tere Liye.

Semata-mata saya mengoleksinya bukan hanya untuk saya baca dan nikmati, tapi karena saya memang ingin mempelajari sesuatu dari novel-novel itu. Misalnya, diksi yang digunakan pengarangnya, karakter tokoh dan penokohan, alur cerita, klimaks, dan ending cerita. Semua saya pelajari dengan seksama.

Tidak hanya novel populer masa kini, saya juga rajin berburu novel-novel klasik dari sastrawan angkatan Balai Pustaka. Sebagian besar saya beli dalam kondisi bekas di stan buku bekas di Jalan Semarang, Surabaya. Beberapa pedagang stan bahkan sampai hafal wajah dan nama saya.

Jadi, saat berkunjung ke sana, mereka menawari novel sastra lama. Karya-karya Armijn Pane, Marah Rusli, Merari Siregar, dan Nur Sutan Iskandar pun bisa saya miliki meski kondisi bukunya lapuk sudah dimakan usia. Semuanya saya baca meski kadang tidak sampai habis. Saya hanya ingin belajar untuk bisa menulis novel.

Akhir tahun lalu saya mulai mencoba menulis sebuah novel. Temanya tentang KRI Dewaruci. Ini adalah kapal latih kadet (sebutan taruna Akademi TNI-AL) yang mahsyur. Sebelum dilantik jadi perwira, para kadet AAL memang melaksanakan pelayaran Kartika Jala Krida sebagai salah satu mata kuliah.

Dibikin di Jerman pada 1954, KRI Dewaruci tahun ini melakukan pelayaran terakhir dengan keliling dunia selama sekitar delapan bulan. Karena itu, tahun ini adalah pelayarannya yang amat bersejarah. Sebab, mulai tahun depan, kapal yang sangat dikenal di mancanegara tersebut akan diganti dan dimuseumkan.

Sebelum menulis novelnya, saya sudah melakukan observasi lapangan. Di antaranya, mengunjungi kampus AAL di Bumimoro Krembangan, Surabaya. Juga Museum Loka Jala Crana yang terletak satu kompleks dengan AAL dan Kodikal. Museum ini merupakan museum bahari terbesar milik TNI-AL.

Sebagai penunjang, saya tentu saja tak lupa membaca buku-buku yang berhubungan dengan dunia maritim dan kebaharian. Salah satu buku penting yang menjadi studi literatur saya adalah karya Cornelis Kowaas, seorang purnawirawan perwira menengah TNI-AL. Judulnya, Pelayaran Menaklukkan Tujuh Samudera. Buku ini sangat keren, diterbitkan kali pertama pada 1964 dan akhirnya diterbitkan kembali pada 2011.

Cornelis kebetulan ikut dalam pelayaran muhibah KRI Dewaruci pada saat itu bersama para kadet AAL lainnya. Banyak kisah lucu, mendebarkan, sekaligus mengharukan saat melakukan pelayaran pertama keliling dunia tersebut. Tak kurang Presiden Soekarno begitu bangganya terhadap keberhasilan awak KRI Dewaruci dalam pelayaran muhibah kala itu. Buku ini pernah mencatat sukses dalam penjualan sampai 1967.

Dan saya bahagia sekali karena buku tua ini diterbitkan kembali. Bagi saya, ia adalah buku panduan untuk memulai kisah demi kisah dalam novel yang tengah saya tulis ini.

Selain itu, saya juga melakukan wawancara dengan narasumber dari kerabat dan tetangga yang bertugas di TNI-AL. Saya mengorek pengalaman mereka seperti saat ikut tes masuk AAL, pengalaman berlayar dengan kapal perang, dan lain-lain.

Saya juga mengumpulkan kliping berita-berita koran tentang kegiatan AAL. Termasuk liputan khusus Jawa Pos yang menugasi seorang wartawannya, Mas Suryo, untuk ikut pelayaran muhibah terakhir KRI Dewaruci. Ini sangat berharga buat saya dalam menyusun data-data sebagai pendukung naskah novel tersebut.

So pasti, untuk itu semua saya mesti menguras kocek lebih dalam. Baik untuk ongkos bensin, beli buku, membelikan oleh-oleh buat narasumber, dan lain-lain.

Capek? Pasti lah.

Pagi ini genap 100 halaman yang saya tulis. Tentunya sangat lambat mengingat saya memulai tulisan awal tepat pada akhir tahun lalu. Sempat tersendat dan vakum karena kesibukan dan rutinitas, saya bertekad untuk melanjutkannya kembali.

Saya bahkan begitu girang karena mendapatkan satu lagi buku panduan untuk melanjutkan novel ini. Yakni, Kamus Terminologi Angkatan Laut (dalam bahasa Inggris-Indonesia). Penulisnya adalah Mayor Laut (KH) Drs Wahyu Wijaya MA.

Kamus ini mungkin sudah tidak lagi ada di pasaran. Karena itu, saya sangat gembira bisa mendapatkan kamus terbitan Gramedia Pustaka Utama pada 2003 ini.

Pada kurun waktu itu, Wahyu Wijaya tercatat sudah 12 tahun bertugas di Pusdiklat Bahasa Badiklat Dephan. Kamus saku ini memuat 4.200 kata yang menyebut secara khusus mengenai bangunan kapal, navigasi, persenjataan, dan alat penggeraknya.

Mungkin saya akan merampungkan 100 atau 200 halaman lagi. Entah kapan selesainya. Saya sendiri tidak memaksa untuk menentukan deadline-nya. Saya ingin melanjutkannya di saat senggang sebagai teman ngopi di rumah.  Satu pesan yang ingin saya sampaikan di novel ini adalah semangat bahari.

Bangsa ini pernah dikenal dan dikenang sebagai bangsa bahari. Bangsa ini terkenal akan pelaut-pelautnya yang pemberani seperti pelaut Bugis. Bangsa ini pernah menaklukkan nusantara sampai Malaya dengan pasukan maritimnya lewat Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Saya tak ingin semangat bahari itu hanya menjadi sejarah yang hanya dituturkan dari mulut ke mulut.

Saya ingin merekamnya dalam sebuah karya fiksi. Agar menjadi sejarah yang bisa dibaca oleh generasi mendatang sesudah saya. Jalesveva Jayamahe!

Sidoarjo, 22 Agustus 2012

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 20, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. d tunggu bukunya bang 😀

  2. Mantap,,, udah kelar Gak? pengen Baca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: