Sekotak Cokelat dari Bu Rika, Sejuta Inspirasi


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Dalam salah satu adegan film box office Forrest Gump (1994), ada penggalan kalimat dari si tokoh utama (Forrest Gump) yang terkenal. Bunyinya: life is like a box of chocolate, you’ll never know what you’re gonna get.

Analogi hidup seperti sekotak cokelat itu memiliki interpretrasi bahwa seseorang tak bisa menduga (rasa) apa yang akan didapat. Di luar negeri, lazimnya satu kotak cokelat bisa berisi bermacam-macam rasa dan warna. Misalnya, rasa mint, kakao, murni cokelat, dan lain-lain.

Rasa di sini bisa dikonotasikan pernik-pernik permasalahan dalam kehidupan manusia. Nah, berbagai permasalahan itulah yang coba dirangkum oleh Rika Widya Sukmana dalam buku puisinya yang baru saja dirilis: Sekotak Cokelat Untuk Sahabat (Leutika Prio Jogjakarta, Juli 2012).

Saya perlu angkat topi untuk Rika. Sebab, sejatinya guru SMA Plus Muthahari Bandung ini tidak memiliki latar belakang sastra. Sehari-hari ibu dua anak tersebut mengajar mata pelajaran biologi.

 Dua bukunya terdahulu juga berkaitan erat dengan bidang yang ditekuninya. Yakni, Cara Membuat Tepung Kasava dan Biogas Dari Limbah Ternak.

Saya kembali angkat topi tinggi-tinggi untuk kelahiran buku Sekotak Cokelat Untuk Sahabat ini. Sebagaimana diakui Rika, buku itu termotivasi oleh pengalamannya saat masih berumur delapan tahun. Kala itu perempuan kelahiran Bogor, 3 Mei 1969, tersebut diberi hadiah buku harian.

Rika pun protes kepada bapaknya. “Kenapa hanya buku harian?” ucap Rika bersungut-sungut. Namun, bapaknya tidak menjawab.

Pada halaman pertama buku harian itu terdapat kalimat “Tuliskanlah apa yang kamu rasakan, itu akan meringankan.” Rika kecil belum tahu makna kalimat tersebut.

Kini setelah berpuluh-puluh tahun berselang, Rika mengerti makna yang terkandung dalam kalimat di halaman pertama buku harian tadi.

Ia pun termotivasi untuk menuliskan segala sesuatu. Terutama puisi.  Dengan menulis puisi, ia bisa menumpahkan segala curahan hatinya. Bercerita banyak hal, berbagi perasaan gundah maupun gembira. Mulai tentang keluarga, teman/sahabat, ataupun lingkungannya.

Rika mulai menulis puisi sejak masih remaja. Ketika sang ayah mendapat beasiswa di luar negeri, Rika turut bersama. Setelah studi ayahnya rampung, Rika juga ikut pulang ke Indonesia.

Sekembali ke Indonesia, Rika justru menemukan ketenangan batin. Itu tak lepas dari pertemuannya dengan kawan-kawan barunya yang mengajak Rika untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Lahirlah puisi-puisi religi yang sarat akan nasihat-nasihat moral. Begitu dekatnya hubungan Rika dengan para sahabatnya, buku Sekotak Cokelat Untuk Sahabat ini digambarkan sebagai dedikasi nilai persahabatan mereka.

Akhirnya buku ini sampai ke tangan saya. Suatu kehormatan bisa memberikan sambutan pada buku ini. Rika W. Sukmana telah memberikan contoh positif bagi siapa saja, terutama generasi muda.

Sebagaimana dikatakan olehnya, “Saya mungkin bukan seorang penyair. Tapi, saya memiliki harapan, melalui puisi tersebut, keimanan, ketakwaan, dan akhlak generasi muda saat ini dapat ditingkatkan.”

“Suatu harapan yang mungkin terlalu muluk. Namun, saya yakin bahwa dalam suatu syair ada hikmah yang bisa diambil,” tegasnya.

Suatu pesan yang amat baik. Selamat atas terbitnya buku ini, Bu Guru. Anda telah memberikan inspirasi bagi banyak orang lewat Sekotak Cokelat Untuk Sahabat ini. Sebuah cokelat yang manis untuk dicicipi, dinikmati, dan diperlukan bagi tubuh.

Sidoarjo, 16 Agustus 2012

https://mustprast.wordpress.com

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 15, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: