Rokok vs Buku


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Buku adalah jendela dunia. Artinya, buku adalah sumber ilmu. Buku adalah sahabat yang sabar karena selalu setia dan siap menemani kita kapan pun dan di manapun. Ia adalah guru yang tak menuntut balas apa pun. Tulus.

Membaca buku sudah pasti akan membukakan cakrawala pengetahuan seseorang. Sayangnya, budaya membaca buku di Indonesia belum bisa dikatakan menggembirakan.

****

Entah sudah berapa kali saya menyaksikan pelajar yang dengan bangganya memantik korek api dan menyulut rokoknya. Kebanyakan mengisap rokok filter.

Kita patut khawatir terhadap kondisi para remaja saat ini. Betapa tidak, pada masa pencarian jati diri, tidak jarang mereka bertindak sesuatu yang ceroboh dan bisa mengganggu kenyamanan masyarakat. Misalnya, tawuran. Bahkan, tak sedikit remaja yang terlibat tindakan yang melanggar hukum. Contohnya, seks bebas atau seks pranikah, narkoba, dan terlibat aksi kriminalitas.

Memang orang tua atau keluarga adalah salah satu faktor penting yang bisa memproteksi perilaku remaja agar tidak terjerumus ke arah yang negatif. Namun, lingkungan atau masyarakat juga bisa berperan untuk membentuk karakter remaja.

 Nah, melihat banyaknya remaja yang merokok tersebut, saya menumpuk rasa kekhawatiran. Betapa tidak, harga sebungkus rokok saat ini tidak bisa dibilang murah. Rokok kretek Dji Sam Soe yang terkenal itu saja sekarang harganya di atas Rp 10 ribu. Demikian juga Marlboro. Merek familer lain seperti Gudang Garam, Wismilak, A Mild, dan Djarum harganya di atas Rp 7.000.

Rokok merek lokal yang nggak jelas seperti Retjo Pentung, Bintang Klobot, 7 Bintang, dan lain-lain saja harganya tidak ada yang di bawah Rp 5 ribu.

Orang awam biasanya menilai bahwa wajar apabila remaja merokok. Namun, harus diingat pula bahwa merokok itu sama sekali tidak menguntungkan bagi kesehatan tubuh manusia. Merokok dapat menyebabkan penyakit kanker, paru-paru, jantung, dan amat  berbahaya bagi wanita hamil. Sudah banyak riset kesehatan tentang bahaya merokok ini. Namun, toh jumlah perokok di kalangan remaja cukup banyak dan mudah dijumpai.

Untuk itu, harus ada langkah-langkah guna mencegah bertambahnya jumlah perokok di kelompok remaja. Ini menjadi tugas bersama sebagai bagian dari sosial masyarakat yang turuat membentuk perilaku seorang remaja.

Misalnya, membuat saung baca untuk karang taruna. Kemudian tingkat RT/RW bisa mengadakan kegiatan lomba kreatif majalah dinding kampung dengan menggandeng pihak kelurahan dan kecamatan. Dengan adanya kegiatan positif seperti ini dan juga hadiah untuk memantik motivasi, remaja bisa terhindar dari aktivitas negatif.

Di sisi lain, remaja-remaja tersebut secara tidak langsung akan terpantik untuk membaca. Sebab, membuat mading tidak hanya bermodal gunting, kertas karton, dan kliping berita. Membuat mading juga memerlukan aktivitas membaca sebagai referensi info menarik apa saja yang perlu ditampilkan. Tidak asal-asalan.

Atau pihak kelurahan dan kecamatan bisa memberdayakan tenaga remaja karang taruna sebagai motor penggerak perpustakaan kampung. Suplai buku-buku yang dibutuhkan dan dianggap menarik. Beri mereka kepercayaan untuk mengelolanya. Mereka pasti senang.

Soal harga buku? Jangan khawatir. Saat ini banyak buku murah. Bahkan lebih murah daripada rokok Marlboro, Dji Sam Soe , Djarum, ataupun Retjo Pentung. Saya pernah beli buku murah berjudul 1007 Peribahasa Indonesia karya Sigit Daryanto. Buku terbitan Apollo Lestari Surabaya tersebut cuma seharga Rp 6 ribu.

Saya yakin buku ini best seller meski tidak memakai label best seller di sampulnya. Alasannya? Saya membelinya pada 12 Agustus 2012 di toko buku Togamas Sidoarjo. Nah, saya pernah menjumpai buku ini bertahun-tahun silam. Itu berarti buku ini sudah cetak ulang beberapa kali meski di dalamnya tidak ada keterangan berapa kali cetak karena tampilannya memang seadanya.

Namun, meski seadanya, isinya lebih dari seadanya. Banyak hal-hal yang bisa saya ambil manfaatnya untuk keperlua menulis atau mengajar. Dan yang penting: harganya lebih murah daripada rokok kretek keluaran Sampoerna itu!

 Karena itu, marilah kita bersama-sama mengatasi masalah remaja merokok saat ini. Kita tentu tak mau generasi emas bangsa ini diracuni nikotin. Mari kita beri teladan dan contoh dari diri sendiri dulu di dalam keluarga kita masing-masing. Misalnya, membudayakan beli buku dan membacanya. Banyak kok buku murah, bahkan lebih murah daripada rokok.

Mari mencetak generasi bangsa yang mencintai budaya membaca.

Sidoarjo, 14 Agustus 2012

https://mustprast.wordpress.com

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 14, 2012, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: