Penyair


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja saya larut dalam diskusi soal penyair dengan rekan-rekan senior Jawa Pos. Malam itu obrolan kami memang gayeng. Saking gayengnya, ngobrolnya sampai ngalor-ngidul. Sesekali diselingi guyon khas masing-masing.

Saat itu memang ada undangan makan-makan di kediaman Taufiq Lamade, redaktur senior Jawa Pos. Menunya istimewa: ikan gurami bakar  dan patin bakar. Nyam!

Sembari menonton final sepak bola Liga Champions 2011-2012 antara Chelsea versus Bayern Munchen di Kota Munich, Jerman. Dalam laga ini, Chelsea akhirnya jadi kampiun setelah unggul lewat adu penalti.

Di pertengahan babak pertama, muncullah obrolan soal penyair itu. Direktur Radar Malang Rohman Budijanto menyoroti soal penyebutan penyair. Kebetulan ada Koordinator Liputan Arief Santosa di situ yang juga dikenal sebagai pengasuh rubrik budaya di harian tempat kami bekerja. Menurut Pak Roy, sapaan akrab Rohman Budijanto, yang bisa menilai seseorang itu penyair atau bukan adalah pembaca. Dengan gayanya yang kocak, ia menyebut seseorang yang mengaku penyair itu bisa disebut penyair awu-awu.  Yang lainnya langsung menyambut gerrr.

Terlepas ini suatu obrolan ringan belaka, sepulang dari situ saya masih memikirkan perkataan Pak Roy tadi. Secara implisit saya menangkap pesan bahwa saat ini cenderung banyak orang yang terjebak dalam legitimasi belaka. Identitas, gelar, atau pengakuan bagi mereka penting.

Tidak ada salahnya memang menuliskan gelar dan sebutan-sebutan seperti itu. Namun, saya masih diliputi khawatir. Pasalnya, masih bisa dijumpai orang yang baru menuliskan satu atau dua puisi sudah berani menyebut dirinya penyair. Tidak salah memang, itu haknya.

Namun, apabila produktivitas menulis puisinya mandek, idenya macet, kemudian vakum lama, maka menyandang sebutan penyair menjadi sesuatu yang kurang pas. Kurang elok.

Poin lain yang saya catat adalah sesuatu yang kita tekuni itu memiliki tanggung jawab besar. Maksudnya, manakala kita memilih jalan di jalur penyair, ini harus diikuti dan dibuktikan dengan lahirnya karya-karya puisi secara kontinyu. Kemudian biarlah orang lain atau pembaca yang menentukan, apakah kita layak menyandang sebutan itu atau tidak.

Namun, jika Anda menyangka bahwa catatan ini sebuah kritik bagi mereka yang menuntut legitimasi, Anda keliru. Sebab, inti tulisan ini adalah ajakan untuk konsisten dalam bekerja, konsisten dalam berkarya. Soal legitimasi, soal reward yang akan didapatkan, lupakan dulu. Percayalah, suatu prestasi akan melahirkan kepercayaan publik. Jika itu terjadi, maka legitimasi akan datang sendiri kepada kita.

Sidoarjo, 11 Agustus 2012

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 11, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: