Titik Nadir Budaya Literasi Kita


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

 

 

Sumber gambar: bukucatatan-part1.blogspot.com

Dalam sebuah diskusi literasi, budayawan Prie G.S. menyatakan prihatin dengan masih rendahnya budaya baca di Indonesia. Ini meliputi banyak lini, mulai kalangan pelajar hingga bahkan pengajar. Mengenaskan.

Bukan asal vonis, hal ini didasarkan pada data yang dirilis harian Kompas. Dalam Gramedia Fair pada 29 Februari 2012, Direktur Eksekutif Kompas Gramedia Suwandi S. Subrata menyatakan bahwa angka produksi buku di tanah air belum membanggakan. Dia menyebut, pada 2011 angka produksi buku di Indonesia sekitar 20 ribu judul (Kompas, 29/2/2012).

Nah, apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta, angka-angka produksi buku di tanah air tersebut masih belum masuk akal. Artinya, kira-kira satu buku dibaca 80.000 orang.

Dengan setengah bergurau, Prie mengatakan dalam kondisi tersebut, wajar jika penulis sulit bisa kaya. ”Termasuk saya (sebagai penulis),” ucapnya. Hal ini mengacu pada keterangan Suwandi. Untuk penerbit besar, umumnya satu buku dicetak sebanyak 3.000 eksemplar.

Tentu saja benang merahnya adalah masalah budaya literasi di kalangan masyarakat Indonesia. Kegiatan membaca yang seolah berada di titik nadir ini telah dikeluhkan oleh para sastrawan. Di antaranya, Taufiq Ismail dan Suparto Brata. Dalam buku Mengubah Takdir lewat Budaya Baca dan Tulis (2012), Suparto menyatakan prihatin mendalam dengan kondisi literasi di kalangan anak-anak muda saat ini. Dia mengatakan, budaya menonton TV telah mengalahkan budaya membaca di lingkup pelajar Indonesia. Hal ini berbeda jauh dengan masa-masa ketika Suparto masih duduk di bangku SD. Siswa di zaman kolonial dulu diwajibkan membaca paling sedikit empat buku dalam seminggu. Tak heran jika banyak generasi seangkatan Suparto Brata yang mahir dalam beberapa bahasa asing dan berpengetahuan luas. Itu tak lepas dari kuatnya kuku literasi yang ditancapkan.

Pemerintah tentu tidak tinggal diam. Kemendikbud telah menggandeng pihak-pihak terkait untuk mendukung membangun budaya literasi. Misalnya, pendistribusian buku gratis ke berbagai sekolah terutama di daerah pelosok serta penerbitan karya-karya tulis ilmiah dengan menggandeng penerbit.

Namun, langkah lain yang perlu dibangun adalah kesadaran dari diri sendiri. Menumbuhkan minat baca memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Maka, masyarakat bisa memulai menanamkan budaya literasi kepada anak-anak sejak dini.

Budaya literasi ini amat penting. Sebab, minat terhadap menulis di Indonesia lebih rendah dibandingkan membaca. Ini tentu sangat mengkhawatirkan. Padahal, membaca adalah modal untuk menulis.

Tentu saja saya dan kita semua pantas cemas dengan kondisi ini. Jikalau budaya literasi kita semakin menurun di tahun-tahun mendatang, sulit membayangkan betapa ngerinya perabadan negeri ini. Padahal, kemajuan peradaban suatu bangsa itu dipengaruhi oleh budaya literasinya.

Karena itu, kita masing-masing punya tugas untuk mengemban tanggung jawab ini. Mari menumbuhkan dan meningkatkan minat baca mulai dari diri sendiri. Jangan lagi budaya literasi bangsa ini berada di titik nadir.

Graha Pena, 10 Agustus 2012

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 10, 2012, in budaya, Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: