Catatan Ramadhan (3)


Maruk

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Aneka minuman segar untuk berbuka. (Sumber: http://dhapufresh.blogspot.com)

Tidak salah jika bulan suci Ramadhan disebut sebagai bulan yang penuh berkah. Disadari atau tidak, bulan tersebut membawa suatu kebahagiaan tersendiri. Dalam hadisnya, Rasulullah Muhammad SAW mengatakan bahwa ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan. Pertama, nikmat ketika berbuka. Kedua, nikmat saat bertemu Rabb-nya.

Bagi saya pribadi, tidak ada alasan untuk tidak  bersyukur dengan adanya bulan suci ini. Betapa tidak, nikmat itu terbentang sedemikian luas di depan mata. Apalagi, Allah SWT tengah mengobral pahala besar-besaran pada bulan Ramadhan. Seluruh amal atau perbuatan baik dilipatgandakan pahalanya. Yang lebih istimewa, pada bulan inilah Alquran diturunkan, tepatnya pada 17 Ramadhan. Yang tak kalah membahagiakan, pada bulan suci ini pula terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan atau kurang lebih 83 tahun, yakni Lailatul Qadr. Amal ibadah seorang muslim akan diganjar dengan pahala senilai itu. Luar biasa.

Di sisi lain, saya betul-betul bersyukur dengan keadaan yang saya alami tiap tahun selama Ramadhan. Sebab, hampir saban hari, kami mendapat takjil gratis di kantor, baik untuk menu berbuka maupun menu sahur.

Ada yang saya pelajari dan mendapat hikmah dari bulan suci ini. Salah satunya adalah pelajaran olah rasa dan olah jiwa. Misalnya, menaklukkan hawa nafsu.

Jujur, kalau hanya menahan lapar dan haus belaka, banyak orang yang tiada mengalami kesulitan berarti. Memang bisa dipastikan pada bulan Ramadhan cuaca begitu terik saat siang. Nah, bagi yang bekerja pada pagi dan siang hari, khususnya di lapangan, tentu kondisi itu  memberikan “ujian” yang berat. Namun, toh pada saatnya berbuka nanti, ia akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Tak bisa dimungkiri, saat berbuka itu adalah saat-saat yang begitu membahagiakan.

Tetapi, saya mendapatkan sesuatu yang lain dalam bulan yang layak disebut kawah candradimuka ini. Pada tahun sebelum-sebelumnya, saya terus terang sangat sulit menyisihkan rasa maruk alias serakah jika datang Ramadhan. Contohnya, saya tak peduli dengan kapasitas perut.

Hawa nafsu saya seakan menyeret saya ke tindakan yang “brutal”. Manakala lihat takjil menggoda seperti es pisang ijo, es buah, es dawet, maunya dibeli semua. Saat melihat gorengan necis seperti tahu berontak (tahu isi), ote-ote (bakwan), pisang molen, maunya dimakan semua. Belum cukup di situ, untuk memuaskan angan-angan dan hawa nafsu tersebut, saya inginnya ditemani makanan yang enak-enak.

Ya, istilah itu oleh kebanyakan orang disebut maruk, lebih tepatnya balas dendam. Dalam artian, karena seharian diganjar ujian lapar dan haus, seseorang bisa tergoda untuk melakukan hal-hal tanpa memperhatikan baik dan buruknya. Hanya menuruti hawa nafsu.

Saya jadi sosok yang tidak peduli. Tanpa saya sadari, saya telah berbuat semena-mena terhadap perut saya. Alhasil, ketika berusaha menyantap menu-menu tadi, perut saya mulai protes. Karena penuh makanan padahal baru berpuasa seharian, saya mulai merasakan melilit di perut.

Dampaknya luas dan membekas. Ibadah salat Magrib berjamaah pun telat saya lakoni. Kekenyangan ternyata membuat saya tidak produktif.

Pelajaran tersebut setidaknya membuat saya jauh lebih dewasa dan lebih bijak dalam menyikapi ibadah shaum (puasa) Ramadhan. Belajar dari pengalaman tadi, saya selalu berusaha menaklukkan rasa maruk dalam pergulatan hebat tiap sore menjelang waktu berbuka.

Apalagi, godaan selalu saja datang silih berganti. Saya selalu melewati kantong-kantong takjil gratis. Kadang tanpa diminta ada saja yang ingin memberikan takjil gratis berupa makanan dan minuman untuk berbuka. Saya mengindahkannya. Saya tak mau berbuat zalim kepada perut saya hanya karena diliputi rasa maruk seperti yang saya rasakan jauh sebelumnya.

Hasilnya? Amboi, nikmat sekali ibadah puasa itu tanpa rasa maruk. Dengan berbuka secukupnya, tubuh justru merasa lebih segar dan sehat. Ibadah salat Magrib dan Isya berjamaah pun bisa dilalui tanpa harus merasakan malas karena kekenyangan. Ternyata, lapar itu indah. Allahu akbar!

Graha Pena, 8 Agustus 2012

https://mustprast.wordpress.com

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 7, 2012, in Ramadhan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: