Catatan Ramadhan (2)


Si Miskin Selalu Jadi Korban

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Rasulullah Muhammad SAW telah menyuruh umatnya untuk selalu mencintai anak yatim dan orang miskin. Sejalan dengan itu, pada bulan suci Ramadhan ini, umat muslim di seluruh penjuru dunia berlomba-lomba untuk mengais amal kebaikan. Termasuk bersedekah kepada anak-anak yatim piatu serta saudara-saudara kita yang kurang beruntung secara ekonomi.

Namun, dalam bincang-bincang dengan rekan-rekan penulis, saya merasa sedih. Terutama saat mendengarkan penuturan Ria Fariana, pengarang buku-buku motivasi remaja. Dalam pertemuan Minggu pagi (5/8) di kediaman ibunda Ketua IGI Satria Dharma di Surabaya, Ria yang mengajar di SMP Al Amal Surabaya menuturkan pengalamannya saat mendampingi murid-muridnya dalam acara buka puasa bersama.

Kegiatan itu diprakarsai dan disponsori oleh salah satu produsen sepeda motor terkenal. Acaranya bertempat di Gelora Pancasila, Surabaya. Buka bersama itu tak urung didatangi sekitar empat ribu orang. Karena kapasitas gedung tidak sampai empat ribu orang, suasananya penuh sesak. ”Bahkan, ada anak yang sampai mepet-mepet dekat pintu saking penuhnya,” ujar Ria.

SMP Al Amal tempat Ria mengajar adalah sekolah yang khusus menerima dan mendidik anak-anak yatim piatu serta anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Ria sore itu bertugas mendampingi mereka untuk mengikuti acara buka puasa bersama tersebut.

Setelah waktu berbuka tiba, masalah belum tuntas di situ. Buruknya koordinasi panitia diduga membuat banyak anak yang bablas untuk menjalankan salat Magrib. Alhasil, mereka ”terpaksa” men-jamak-nya saat salat Isya. Belum usai di sini, mereka bahkan tak sempat untuk melaksanakan salat Tarawih.

Hal ini mengisyaratkan bahwa sebuah niat baik belum tentu berdampak baik. Pemandangan seperti ini bagi saya sendiri tidak asing. Dalam beberapa kesempatan, saya juga menemui kejadian yang nyaris serupa. Yakni, pengusaha kaya raya mengundang anak yatim dan fakir miskin datang ke rumahnya untuk berbuka puasa bersama.

Karena lemahnya koordinasi dari pihak panitia yang ditunjuk si pengusaha, alhasil acara tersebut berjalan tidak sesuai harapan. Misalnya, ketersediaan tempat untuk salat berjamaah, ketertiban, acara yang justru bikin macet jalan raya, dan lain-lain.

Kita tentu masih ingat akan insiden pembagian zakat yang terjadi di Pasuruan pada 15 September 2008. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Haji Syaikhon Fikri mengumumkan akan membagikan zakat pada 15 Ramadhan itu lewat radio. Zakat yang dibagikan berupa uang sebesar Rp 30 ribu.

Pembagiannya akan dilakukan pukul 10.00. Di luar dugaan, banyak wanita dan orang sepuh (lanjut usia) yang sudah antre sejak pukul enam pagi di depan gerbang rumah pengusaha sarang burung walet yang terkenal di Pasuruan tersebut.

Karena lemahnya pengamanan dan tidak adanya koordinasi dengan kepolisian, acara tersebut berubah menjadi peristiwa memilukan. Kaum miskin yang antre zakat itu mulai ”liar” saat panitia mulai membagikan zakat. Berdesak-desakan dan berebutan.

Karena massa yang kebanyakan ibu-ibu dan lansia itu semakin menumpuk dan tak terkontrol, terjadilah insiden tersebut. Puluhan orang terinjak-injak oleh warga lainnya yang ikut antre zakat Rp 30 ribu tersebut. Total, 21 orang tewas dalam kejadian itu.

Tragis. Peristiwa ini menyisakan kabut pilu saat itu. Indonesia berduka. Agaknya, H Syaikhon tidak belajar pada kejadian tahun sebelumnya. Pada 2007, dia juga membagikan zakat dan belasan orang pingsan karena terinjak-injak.

Peristiwa ini menuai reaksi beragam di kalangan masyarakat. Para ulama mengingatkan agar peristiwa tersebut tidak terulang. Pemerintah sendiri diminta lebih tegas dalam kebijakan manajemen pengelolaan zakat.

 Mencermati kejadian-kejadian itu, sudah seharusnya kita betul-betul melaksanakan perintah Rasulullah SAW. Yakni, menghargai dan mencintai anak yatim serta kaum fakir miskin. Sebuah niat baik harus diikuti pula dengan tindakan yang cermat dan terencana secara baik pula.

Belajar dari acara buka bersama dan insiden pembagian zakat tadi, jangan lagi kaum miskin menjadi korban karena ketidakberdayaan mereka. Jika selama ini orang miskin selalu datang ke rumah orang kaya untuk sekadar mendapatkan menu berbuka puasa atau menerima zakat, hal ini harus ditinggalkan. Bukan orang miskin yang datang ke si kaya, tetapi si kayalah yang harus mendatangi si miskin.

Pelajaran seperti ini pernah dilaksanakan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. Ketika menjadi pejabat, ia datang langsung ke rumah seorang wanita melarat yang anaknya kelaparan. Ia membawakan gandum untuk dimasak wanita tersebut. Dan gandum itu tidak dibawakan oleh para pengawalnya, melainkan dipanggul langsung oleh Umar bin Khattab ra.

Semangat seperti inilah yang patut kita teladani. Sebuah spirit tepa selira dan menghargai sesama, termasuk kepada para anak yatim dan fakir miskin.

Graha Pena, 6 Agustus 2012

https://mustprast.wordpress.com

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 5, 2012, in Ramadhan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: