Ramadhan atau Ramadan?


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Ada tulisan menarik dari Abdul Habib Ashary, seorang penerjemah dari Jogjakarta, yang dimuat Jawa Pos edisi Sabtu, 4 Agustus 2012. Tulisan tersebut bertajuk Ditulis Ramadan atau Ramadhan?

Sebagai penulis, sebenarnya sudah lama saya punya pertanyaan yang sama sebagaimana dilontarkan Saudara Ashary tersebut. Pusat Bahasa yang mengeluarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (mulai edisi I–IV) telah “memfatwakan” penulisan yang baku adalah Ramadan. Berikut penjelasan dari KBBI.

Ra·ma·dan n bulan ke-9 tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam diwajibkan berpuasa

Saya lantas mengecek kata ”Ramadhan” di KBBI, ternyata tidak ada. Nah, Saudara Ashari menjelaskan bahwa bahasa Arab memiliki pedoman transliterasi International Modern Standard Arabictentang bagaimana huruf Arab jika ditulis dalam huruf-huruf Latin (Jawa Pos, 4/8/2012).

Dia lantas tercetus untuk melontarkan penulisan Ramadan atau Ramadhan karena ada pemaparan berbeda dari KBBI terbitan PT Media Pustaka Phoenix Jakarta. Kamus tersebut mencatumkan kata Ramadhan.

Saudara Ashary juga memberikan penjelasan berdasar ilmu dan pengetahuannya. Dalam bahasa Arab, kata Ramadhan terdiri atas lima huruf. Yakni, ra atau ditulis /r/ dalam bahasa Latin, mim atau /m/, dhad atau /dh/, alif yang disambung dhad atau /ā/, dan nun atau /n/. Berdasar itu, Ashary menegaskan bahwa penulisan yang tepat adalah Ramadhan, bukan Ramadan.

Hal tersebut menurut dia sesuai dengan penjelasan di kamus bahasa Arab. Yakni, arti kata Ramadhan adalah musim panas sebelum musim hujan. ”Arti itu masuk akal karena bulan ini orang Islam yang berpuasa diwajibkan menahan lapar dan haus dari panasnya matahari siang,” tulis Ashary.

Karena penasaran, saya lantas mengecek Kamus Arab-Indonesia terbitan Yayasan Amanah (1996). Penyusunnya adalah Abu Rifqih Al Hanif. Di halaman 185, saya menemukan titik terang. Di situ terdapat kata Ramadun yang maknanya adalah penyakit mata.  Hal ini tidak bertolak belakang dengan keterangan Saudara Ashary yang menyebut bahwa makna Ramadan adalah (maaf) kotoran mata.

Jika memang demikian, agaknya Pusat Bahasa mesti meninjau kembali aturan-aturan pembentukan istilah dan serapan kata asing, terutama kata-kata dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Sebab, sebagaimana kasus di atas, beda satu huruf bisa beda jauh maknanya.

Graha Pena, 4 Agustus 2012

https://mustprast.wordpress.com

Bacaan:

Jawa Pos

KBBI edisi IV (Pusat Bahasa Jakarta, 2008)

Kamus Arab-Indonesia (Yayasan Amanah, 1996)

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 4, 2012, in Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: