Spirit Meraih Kunci Sukses Hidup


Pengantar untuk buku puisi Rika Sukmana,  guru SMA Plus Muthahhari Bandung

 

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

*****

”Our greatest glory

is not in never falling,

but in rising

every time we fall.”

(Konfusius, filsuf Tiongkok)

*****

Pada 1991, Hartojo Andangdjaja menulis buku Dari Sunyi ke Bunyi. Buku tersebut merupakan kumpulan esai tentang puisi. Ia menggambarkan dengan bahasa yang lugas bahwa membedah puisi berarti mencoba memahami apa yang dirasakan penyair/pengarangnya. Ini tak berlebihan. Sebab, puisi sebagaimana disebut oleh Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) adalah ekpresi kongkret dan hasil artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional.

Dalam sebuah deskripsi lain, puisi disebutkan sebagai salah satu unsur sastra yang tidak terikat oleh pakem tertentu. Penyair bisa bebas melontarkan segala hal yang ada di benaknya saat itu juga. Mentransformasikan ide, mendokumentasikan pengalaman, dan memotret pengalaman hidup ke dalam kata-kata yang diseleksi begitu rupa.

Tak jauh berbeda dengan Rika Sukmana, seorang pendidik di SMA Plus Muthahhari. Dia mencoba merekam alur kehidupan, membungkusnya dengan diksi-diksi yang sudah akrab dengan masyarakatdalam buku puisi Biologi Cinta (Sekotak Cokelat Untuk Sahabat) ini. Alhasil, tidak banyak retoris dan metafor dalam tiap menu puisi yang ia sajikan. Ia ingin setiap fragmen kehidupan yang dipotretnya menjadi santapan yang lezat untuk disantap segera.

Hal ini bisa dipahami karena latar belakang Rika adalah seorang guru. Tentu saja ia tak mau pesan dan nasihat yang tertuang dalam puisi-puisinya menjadi teror, yang sulit dipahami dan memusingkan kepala karena diksi-diksi kamar dan penuh samar.

Sebagai pendidik, puisi-puisi Rika sarat dengan pembelajaran akan hidup (fully realized life). Menjadi sebuah refleksi yang tentu saja tidak hanya ia nikmati sendiri, tetapi juga ingin ia serukan kepada masyarakat. Juga para anak didiknya.

Hal itu tampak jelas pada puisi Jangan Pernah Mencoba Narkoba (2007).

 

Jangan Pernah Mencoba Narkoba

 

Jangan pernah kau coba narkoba

Karena sekali kau terjerat di dalamnya

Akan sulit keluar segera

……

Dengan lugas, Rika memberikan warning keras untuk tidak sekali-sekali bersentuhan dengan narkoba. Penyalahgunaannya bisa berakibat pada kerugian, baik materi maupun nonmateri, serta penyesalan.

Ia mengilustrasikan narkoba sebagai racun berbisa yang bisa menjalar melalui darah sampai otak. Merusak sistem saraf manusia. Warning lebih keras ia sajikan dalam baik terakhir.

Jangan pernah kau coba narkoba

Karena ia adalah racun berbisa

Menjalar melalui aliran darah ke otak anda

Merusak sistem saraf manusia

Jika kau mencobanya

kau ceburkan dirimu ke dalam lautan dosa

Jauhi narkoba

Jangan pernah kausentuh dia

Jika kau tak ingin menyesal keesokan harinya

Namun, Rika juga sadar bahwa manusia itu adalah makhluk yang tidak bisa lepas dari salah. Bisa terpeleset dan salah arah dalam mengarungi kehidupan. Hal ini ia ungkapkan dalam puisi Mahasempurna (1994). Ia menegaskan itu pada baik kesempurnaan hanya milik Allah semata.

Banyak sajian yang penuh dengan bumbu religius di Biologi Cinta (Sekotak Cokelat Untuk Sahabat) ini. Misalnya, Takdir Ilahi (1987), Antara Harap dan Takut (1992),  dan Akhlaq Nabi (1991).

Nuansa tersebut begitu kental dalam baitnya berikut ini.

Ketika aku merasa dekat dengan-Mu

hatiku merasa tenang

(Pasrah, 1993)

Rika sadar betul bahwa setiap saat seseorang bisa saja melakukan kesalahan. Bahkan pada tingkat yang fatal. Hal itu tentu akan membawa pada era gelap. Kegagalan dan penyesalan.

Namun, masih ada kesempatan untuk bangkit. Masih ada kesempatan untuk menjadi seorang pemenang dan menggengam kejayaan. Apa itu? Tiada jalan terbaik selain bersahabat dengan Sang Pencipta. Sebab, Dia-lah sebaik-baik tempat meminta dan berlindung. Ini tampak dalam Do’a Penutupan Reuni (1992).

Ya Tuhan,

Jadikanlah kami manusia-manusia yang bisa dan bersedia

Mengendalikan diri

Agar dapat bersikap adil terhadap sesama

…..

Sebagaimana dipahat oleh Rika secara tersirat, pengendalian diri adalah salah satu kunci untuk menggenggam kesuksesan dan kejayaan. Meski, untuk mencapai tingkatan itu, jalan terjal membentang luas. Terpeleset adalah hal yang sangat mungkin dialami. Bangkit setelah terjatuh itulah yang mesti dilakukan.

Sebagaimana dikatakan oleh filsuf besar Konfusius, sebuah kejayaan terbesar bukan tak pernah gagal, tetapi bangkit kembali usai jatuh berkali-kali. Inilah pesan utama yang coba dituangkan oleh Rika dalam Biologi Cinta (Sekotak Cokelat Untuk Sahabat) ini. Cokelat yang lezat. Membuat ingin segera menyantap dan mendapatkan inspirasinya. Lagi dan lagi.

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 31, 2012, in budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: