Polwan atau Wanpol?


Catatan Eko Prasetyo

alumnus Sastra Indonesia Unesa

Cantiknya gila banget..!!! (Sumber: best-car-2012.blogspot.com)

Saya tergelitik dengan tulisan dosen IKIP Surabaya/Unesa (alm) Gatot Susilo Sumowijoyo dalam bukunya yang berjudul Pos Jaga (Unipress, 2000). Sebagai informasi, Gatot pernah menjadi pembina bahasa Indonesia untuk wartawan Surabaya Post pada 1975-1984. Ketika Jawa Pos diakuisisi majalah Tempo pada 1982, Gatot menjadi dosen yang menyediakan tenaga editor bahasa (copyeditor) dari kalangan mahasiswa atas permintaan sang pemred saat itu: Dahlan Iskan. Angkatan pertama copyeditor di Jawa Pos didominasi mahasiswa IKIP Surabaya.

Sumbangsih Gatot terhadap bahasa Indonesia sendiri bisa dibilang besar. Terbukti dengan terbitnya buku ini. Dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Pak Repus (1995), juga sangat terlihat bahwa Gatot begitu kukuh mempertahankan bahasa Indonesia baku dalam setiap cerpen-cerpennya. Subjek dan predikat harus jelas. Mungkin agak aneh, namun itulah kehebatan Gatot.

Nah, dalam buku Pos Jaga, Gatot secara gamblang menyoroti penulisan polwan (polisi wanita). Sebelumnya, ia memberikan contoh tentang pelaku-pelaku perdagangan di dunia bisnis (hal. 137). Yakni:

Pedagang beras

Pedagang sayur

Pedagang ikan

Pedagang minyak

Pedagang tekstil

Dijelaskan bahwa pedagang beras memperjualbelikan beras, pedagang sayur memperjualbelikan sayur, dan seterusnya. Itulah makna frasa (kelompok kata) yang berinti “pedagang”. Bagaimana dengan pedagang wanita? Atas dasar makna tersebut, pedagang wanita bermakna orang yang memperjualbelikan wanita. Nah, jika yang dimaksudkan adalah “wanita yang berdagang”, sebutannya bukan pedagang wanita, melainkan wanita pedagang (hal. 137).

Hal yang sama terlihat pada wanita pengusaha, bukan pengusaha wanita. Sebab, di Indonesia tidak ada Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia, yang ada ialah Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi).

Bagaimana dengan polwan sendiri? Gatot memberikan paparan terlebih dahulu tentang adanya polisi lalu lintas, polisi ekonomi, dan polisi narkoba. Polisi lalu lintas bertugas mengatur lalu lintas. Polisi ekonomi bertugas menangani kejahatan di bidang ekonomi. Sedangkan polisi narkoba punya tugas menangani di bidang narkotika dan obat-obatan terlarang.

Atas dasar penjelasan tersebut, polisi wanita (polwan) berarti punya tugas menangani wanita. Artinya, menurut Gatot, pria pun bisa menjadi polwan. Namun, faktanya tidak demikian di Indonesia. Sebab, polwan adalah personel kepolisian yang merupakan wanita. Nah, jika yang dimaksudkan adalah wanita yang menjadi anggota kepolisan, seharusnya sebutannya adalah wanita polisi (wanpol).

Yang penulisannya sudah tepat justru terjadi di TNI. Di sana ada Kowad (Korps Wanita AD), Kowal (Korps Wanita AL), dan Wara (Wanita Angkatan Udara).

Bagaimana menurut Anda?

Graha Pena, 30 Juli 2012

https://mustprast.wordpress.com

Bacaan:

Pos Jaga (Unipress, 2000)

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 30, 2012, in Bahasa. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Cantik beuth nih polwan ehhh wanpol

  2. jadi sekarang namanya wanpol? bukan lagi polwan. nah, sekarang bagaimana menyebarkan ini dan mengubah masyarakat?
    apakah sebaiknya kesalahkaprah an yang ada di masyarakat dibiarkan atau diubah walau sulit sekali?

  3. Sudah sulit dirubah tetapi jika mau ya bisa. Harusnya dulu-dulu ketika ada yang menyatakan POLWAN dan itu salah langsung ahli bahasa membenarkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: