Buku Something Stupid


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

”Menulis itu kegiatan menanam berlian di hati pembaca…”

~ Helvy Tiana Rosa, pendiri Forum Lingkar Pena (FLP)

*****

Pada edisi 24 Juli 2012, Jawa Pos menurunkan tulisan sosok Asma Nadia, adik kandung penulis Helvy Tiana Rosa. Keduanya adalah pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) yang sama-sama amat produktif dalam berkarya. Tak bisa dimungkiri, saya sendiri banyak termotivasi oleh dua penulis tersebut.

Dalam berita singkat itu, Asma Nadia disebutkan telah menelurkan 46 buku. Namun, fokus saya bukan tertambat pada jumlah karyanya, melainkan aktivitas penulis skenario film Emak Hendak Naik Haji itu di Twitter. Ya, saat ini follower-nya mencapai 67 ribu. Bukan main!

Apa yang ditulisnya selalu jadi trending topic. Termasuk saat ini ketika Asma Nadia menyoroti pentingnya kebersihan musala di pusat-pusat perbelanjaan.

Sebagaimana ibunda dua anak tersebut, saya termasuk pengguna salah satu situs jejaring sosial. Baik Twitter maupun Facebook. Dan seperti Asma Nadia, saya juga aktif meng-update status, terutama di Facebook.

Nah, dari Asma Nadia tersebut, saya tebersit ide untuk membukukan status-status di Facebook. Sebenarnya, sudah lama saya sangat ingin menerbitkan buku kumpulan status ini. Toh, menerbitkan buku dari kumpulan status di Facebook atau Twitter bukan barang baru.

Sastrawan Goenawan Mohammad pernah menerbitkan tweet-nya lewat buku berjudul Percikan (Februari 2011) setebal 330 halaman. Pada Oktober di tahun yang sama, news anchor terkenal Desi Anwar giliran memublikasikan karyanya lewat Tweets for Life-200 Wisdoms for a Happy, Healthy and Balanced Life (Gramedia). Buku Desi ini bahkan lebih tebal daripada buku tweet milik Goenawan, yakni 428 halaman! Full color pula!

Bukti sahih lain adalah Arief Muhammad yang melejit lewat akunnya di Twitter, @poconggg. Status-statusnya yang kocak mencuri perhatian banyak remaja. Alhasil, fansnya semakin banyak dan tak jarang menjadi trending topic yang menyedot ribuan follower. Statusnya akhirnya dilirik penerbit Bukune dan diterbitkan dengan judul Poconggg Bukan Pocong. Sukses pun dituai, sampai-sampai ada sebuah rumah produksi yang ingin memfilmkan karya anak muda kelahiran 1990 itu.

Bukan tanpa alasan saya ingin menerbitkan kumpulan status-status saya di Facebook. Saya hanya ingin memberikan contoh kepada para pelajar di Indonesia bahwa media jejaring sosial pun bisa menjadi wadah ekspresi dalam berkarya.

Ya, saat ini saya memang gencar menyuarakan ajakan kepada siswa-siswa terutama di tingkat SMA/MA/SMK serta mahasiswa untuk berani berkarya, khususnya karya tulis. Saya ingin memberikan contoh bahwa menulis buku itu mudah, nggak pake ribet. Dan kegiatan tersebut bisa dimulai dari menulis status di Facebook sekalipun!

Mengapa demikian? Sebab, saat ini pelajar terutama di kota-kota besar di Indonesia tidak asing lagi dengan situs jejaring sosial. Nah, media tersebut bahkan saat ini telah dimanfaatkan sebagai salah satu wadah komunikasi pembelajaran. Fungsi dan manfaat inilah yang harus terus ditanamkan agar Twitter dan Facebook tidak hanya jadi ajang celoteh yang datar tanpa ”isi”.

Secara kebetulan pula, status-status saya di Facebook lumayan dekat dengan dunia remaja dan mahasiswa. Isinya pun tak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada pula kritik sosial. Namun, semuanya dikemas dengan nuansa humor yang kadang dinilai nggak nyambung oleh sebagian kawan saya. Ya, saya memang rutin menulis status yang kebanyakan bernuansa humor. Kadang terdengar agak gokil.

Pesan apa yang hendak saya sampaikan kepada segmen pembaca remaja lewat calon buku tersebut? Pesan humor sudah pasti. Apalagi, selain membuat seseorang awet muda, konon humor itu terkait dengan kecerdasan. Pesan lainnya ya itu tadi: memberi tahu kepada para remaja dan mahasiswa bahwa membuat buku saat ini sangat mudah. Ibaratnya, status nggak penting saja bisa jadi buku.

Budayawan Prie G.S. yang juga wartawan senior itu pun pernah menerbitkan buku status gokilnya dengan judul Status-Status Gila Prie G.S. (2010). Kalau senior seperti dia saja berani membeberkan status-status gokilnya ke khalayak, seharusnya saya pun tidak hanya menyimpan sendiri status-status itu dan cuma dikomentari orang lain.

Lagi pula, saya khawatir Facebook bangkrut suatu saat. Jika itu terjadi, wah berabe, bisa-bisa status-status saya di jejaring sosial tersebut akan menguap begitu saja. Nah, sebelum itu terjadi, saya ingin mendokumentasikannya.

Sayang kan kalau Facebook hanya jadi tempat curhat dan curcol galau thok. Kalau itu bisa diterbitkan jadi buku, mengapa tidak? Soal laku, soal belakangan. Yang penting, saya akan membuktikan bahwa aktif menulis status-status yang ”something stupid”di jejaring sosial itu juga bisa jadi karya.

Kapan terwujud? As soon as possible!

Graha Pena, 30 Juli 2012

https://mustprast.wordpress.com

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 29, 2012, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: